Reuni Prayatna 2018 (Bagian Ketiga)

Setelah kulihat lagi foto-foto Reuni yang jumlahnya mencapai 500-an foto, rupanya masih ada hari terakhir, Minggu, 29 april 2018 yang sayang kalau tidak diceritakan juga di sini.

Sarapan pagi terakhir

Sarapan pagi sebelum berpisah.

Kepulangan peserta sangat beragam waktunya, ada yang lumayan pagi, ada yang sedang agak siang, dan ada juga yang siang menjelang sore. Jam 06.00 saat hidangan sarapan sudah tersedia, sudah ada sebagian peserta yang duduk mengitari 1-2 meja. Termasuklah Pak Guru Harun beserta istri, ada Bang Othman, dan lainnya. Aku juga ada di situ, meski belum niat sarapan, cuma ingin jumpa dan bincang-bincang saja, siapa tahu ada peserta yang belum sempat jumpa dalam 2 hari yang sudah dilewati kemarinnya.

Mumpung backdrop belum dibongkar.

Sebagian peserta sudah berpakaian rapi, lengkap dengan tas dan kopornya, tinggal check out di front office, sedangkan sebagian lagi masih berpakaian santai, karena masih agak siang atau sore pulangnya. Yang sudah berpakaian rapi tidak melewatkan sesi foto terakhir, dengan kawan-kawan yang berbeda atau sama dengan 2 hari kemarin, dengan memanfaatkan backdrop panggung yang belum dibongkar, di meja makan, maupun spot foto lainnya.

Transport ke bandara, stasiun, dan terminal bus

Pemesanan taksi ke bandara dan stasiun pun punya cerita tersendiri. Pak Harun beserta istri yang akan didampingi Bank Taufik dan istri balik ke Medan, katanya sudah dipesankan sebuah taksi online, Grab, oleh Kak Febi. Pak Guru yang sudah agak terburu-buru sarapan karena asyik mendengar cerita pengalaman kerja Bang Othman, pun bergegas ke depan resto hotel menunggu pesanan. Tunggu punya tunggu, taksinya tak kunjung datang, nomor hp supirnya pun belum dipegang oleh Taufik.

Akhirnya balik ditanyakan ke Kak Febi sebagai pemesan yang ternyata bukan pemesan yang asli. Yang sebetulnya memesan katanya Bang Ahmadi yang setelah dicek, kehilangan jejak pesanannya. Alhasil aku coba membantu memesankan, meskipun baru pertama kalinya pesan Grab, karena biasanya pesan taksi online yang lain. Sebelum pesanan datang, salah seorang peserta, Bang Asyari Nasution (71) menawarkan antaran pakai mobilnya.

Bang Asyari mengira yang akan diantar hanya 2 orang yaitu Pak Harun dan istri. Begitu tahu bahwa penumpangnya 4 orang dan ditambah 1 orang yang sudah lebih dulu disetujui mau ikut menumpang ke kota Bandung, sibuklah si Abang membereskan mobil Avanzanya yang sudah lebih dulu dipenuhi barang-barang pribadinya. Selain Bang Asyari di belakang kemudi, lalu di kirinya seorang kawan yang ingin ikut ke kota Bandung, di tengah bertiga berbagi orang dan koper kecil yaitu Pak Harun, istri, dan Bang Taufik, terakhir di belakang duduk istri Bang Taufik, berbagi tempat dengan kopor lainnya. Penuh pol pokoknya. Terima kasih, Bang Asyari. Satu urusan selesai.

Baru aku balik masuk kamar mau beres-beres untuk check out, masuk telepon yang ternyata dari supir Grab yang kupesan. Dia sudah tiba di halaman hotel katanya. Panik sebentar, karena grup kecil ke bandara sudah tertangani, lalu timbul akal waktu jumpa 2 orang Kakak yang sedang menunggu di lobby hotel, Kak Ayu dan (mungkin) kembarannya, Kak Ajeng, aku lupa. Kebetulan katanya mau ke stasiun KA tapi masih nunggu seorang lagi yang katanya mau pergi sama-sama.

Kutawarkan untuk pakai Grab yang sudah terlanjur kupesan, Kakak berdua itu bersedia dan syukur si supir Grab pun tidak keberatan rute yang seharusnya ke bandara Husein dialihkan ke Stasiun Bandung. Aku juga beruntung karena Kak Mimi (Padang) yang katanya mau sama-sama meski tujuannya ke terminal bus Leuwipanjang, membatalkan niatnya pergi semobil. Satu urusan lainnya lagi selesai. Alhamdulillah. Baru sesudah semua beres, aku balik ke kamar untuk mandi dan packing terakhir.

Balada pisang barangan

Pisang barangan yg berondok di bawah meja.

Waktu aku sarapan sekitar jam 07.30, hampir di tiap meja dihidangkan 1-2 sisir pisang barangan, pisang khas Medan yang rasanya pulen kata orang Bandung. Selidik punya selidik, rupanya pisang-pisang itu bukan bagian dari menu sarapan hotel, melainkan hasil kerja Panitia juga, yang sengaja memborong pisang barangan dari BSD Serpong Tangerang dan dibawa pakai mobil Panitia ke tempat acara. Niatnya untuk dibagikan ke semua peserta selesai acara Gala Dinner dan kardus-kardus pisang pun diletakkan (tepatnya disembunyikan) di bawah meja panjang hotel yang ditutup kain hijau sebagaimana biasa hotel-hotel menghiasi meja di ruang perhelatan.

Alhasil pisang yang berondok di bawah meja tersebut tetap berondok semalaman di Sabtu malam itu, sampai Minggu pagi ada Panitia yang teringat, mengeluarkan dari tempat persembunyiannya, lalu mendistribusikannya di meja-meja tempat sarapan. Sebagian kondisinya masih tetap segar, sebagian lagi sudah layu alias beranjak bonyok. Sebanyak mungkin peserta diminta untuk membawa pulang pisang-pisang itu ke rumahnya masing-masing, termasuk aku bawa 1 sisir yang tidak utuh untuk obat iseng nanti di perjalanan naik kereta Bandung-Jakarta.

Lagi, transit di Ruang VIP PT. KAI

Bang Ucok dan Bang Sony mengantar sampai ke gerbong KA.

Bagi anggota rombongan yang naik kereta Bandung balik ke Jakarta jam 13.05, Bang Ucok dan Bang Sony tetap menyiapkan Ruang VIP di Stasiun Bandung sebagai tempat transit. Meski katanya cuma menyediakan air putih hangat, tapi bantuan ini sungguh sangat bermanfaat. Kami bisa shalat Dzuhur dulu di sana, salah satu klotter jamaahnya diimami oleh Bang Teuku Fely Faisal yang sehari-hari kerja di RS Az-Zahra Bogor.

Bang Sony dan Kak Waty di depan Ruang VIP Stasiun Bandung.

Selain ada mushola, yang juga bermanfaat adalah kami bisa beli makan siang yang banyak pilihannya di dalam area stasiun, bungkus, dan menyantapnya dengan tenang di Ruang VIP tanpa gangguan. Menunya Nasi Begana, yang sambalnya merangsang, yang langsung tandas dalam sekejap. Sekitar 15 orang dalam rombongan kami, alumni dan simpatisan.

Ucapan selamat jalan dari duo VIP KAI sambil selfie.

Di perjalanan, 1-2 momen diabadikan sebagai kenangan. Pisang barangan yang kubawa kugantung di tempat yang disediakan gerbong sekalian ditawarkan kepada semua anggota rombongan. Lumayan buat desert sesudah makan siang di Ruang VIP dan dalam hitungan detik semua pisang yang dibawa sudah berpindah tempat ke dalam perut.

Kereta Bdg-Jkt dgn semua kenangan reuni yg terbawa.

Perjalanan tetap menyenangkan. Bang Del, Bang Ajin, dan aku menyempatkan ngopi bareng di Restorasi KA yang bersebelahan dengan gerbong kami. Sampai di Jakarta, sebagian turun di stasiun Jatinegara, sebagian lagi lanjut sampai ujung perjalanan kereta: stasiun Gambir.

Cerita-cerita tercecer

“Sendiri lagi,” kata Kak Febi sesudah peserta berpulangan.

Sepeninggal seluruh peserta kembali ke tempat asal masing-masing, tinggallah Panitia, khususnya Sang Ketuanya, Kak Febi. “Sendiri lagi,” katanya di caption foto yang beliau posting di grup wa Keluarga Prayatna. Fisik pastilah lelah, setelah 2 hari lebih melayani peserta di hari pelaksanaan reuni, tapi batinnya Insya Allah lega dan jauh dari lelah. Semua peserta mengucapkan terima kasih kepada Kak Febi dan jajaran Panitia yang sudah dinobatkan sebagai Srikandi Prayatna.

Dari Panitia masih ada ceritai-cerita tercecer yang sayang-sayang dibuang sayang. Waktu menyiapkan jemputan bagi rombongan yang mendarat dari Medan di bandara Husein Sastranegara, berdasarkan aturan mainnya jenis bus tidak dibolehkan masuk ke halaman bandara area penjemputan. Namun dengan topangan alumni yang purnawirawan AU, diajukanlah izin penjemputan bus karena rombongan yang akan tiba ini dikatakan masih keluarga AURI (sekarang TNI-AU). Akhirnya bus Satria Perkasa Trans bisa melenggang masuk pelataran parkir, bahkan agak berlama-lama karena rombongan Medan menyempatkan makan siang dulu tenang-tenang di sana (lihat cerita Bagian Kesatu). Aman satu rencana.

Keluarga Prayatna adalah keluarga Sespimpol.

Cerita lainnya waktu ingin dapat diskon tiket masuk Dusun Bambu, meskipun saat kedatangan jelas-jelas di spanduk yang dibentangkan tertulis Reuni Akbar Keluarga Alumni Prayatna Medan, tapi coba saja tanyakan ke petugas, rombongan Prayatna tidak tercatat akan berkunjung pada hari Sabtu pagi itu. Atas nama siapa? Atas nama rombongan Keluarga Sespimpol Lembang. Kok bisa? Itulah gunanya alumni Prayatna yang tersebar di segala pelosok tanah air. Komandan Panitia Reuni memang keluarga Sespimpol, karena beliau ini dokter di sana. Peserta reuni adalah IKA atau Ikatan Keluarga Alumni Prayatna, jadi betullah keluarga Kak Febi juga.

Luar biasa memang upaya Panitia untuk memanjakan peserta Reuni yang diundang mereka untuk melepas rindu di Lembang. Upaya mendatangkan tamu ratusan orang ke Lembang dapat dipastikan memberi dampak ekonomi bagi para pelaku usaha di sana, jadi tanpa mengurangi rasa terima kasih kepada Dusun Bambu Family Leisure Park atas diskonnya, kerja keras Panitia ini patut diapresiasi oleh para pelaku usaha setempat. Bravo Panitia! Bravo Prayatna! (wp/foto: keroyokan)

Aku baru percaya bahwa wig biaa mengaburkan muka orang, apalagi kalau memakainya dibalik. (Dusun Bambu, 28/4/18).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: