Reuni Prayatna 2018 (Bagian Kedua)

Sarapan pun seru

Bang Sjoufjan dan Kak Sofie baru gabung saat sarapan Sabtu pagi.

Sarapan pagi di ruang yang sama dengan acara malam sebelumnya, ruang “Dilarang Merokok”, sudah mulai rame sejak dibuka jam 06.00. Satu demi satu peserta yang sudah kembali segar bermunculan untuk menikmati makanan yang disediakan. Ada nasi goreng komplit, bubur ayam, roti (waktu itu ada nggak ya? Lupa dicatat), buah-buahan, serta air putih, teh dan kopi.

Bersama 3 PR-5.

Obrolan pun masih banyak bahannya, apalagi setelah munculnya beberapa peserta yang semalaman mengarungi kepadatan lalu-lintas Jakarta-Bandung mengendarai mobil. Termasuklah Bang Sjoufjan Awal, Kak Sofie, Bang Wahman, dan Kak Waty yang nyaris 12 jam total waktu perjalanannya dari siang setelah shalat Jumat sampai dini hari sekitar jam 02.00. Ada pula Bang Amir dan Kak Syam Rohani, yang start dari Jakarta sekitar jam 15.30 baru tiba sekitar jam 01.00 atau sekitar 9 jam perjalanan.

Sebelum start ke Dusun Bambu.

Bandung sampai saat ini masih menjadi tujuan liburan utama akhir minggu bagi warga Jakarta, ditambah lagi renovasi jalan tol dan pembangunan sarana angkutan massal dari Bogor, Cikarang, Bekasi ke Jakarta, menambah ruwet dan macetnya lalu-lintas. Jauh lebih nyaman menggunakan kereta api, meski harus mau berebut tiket dan memperhitungkan waktu tempuh dari rumah ke stasiun asal (Gambir misalnya) maupun dari stasiun Bandung ke tujuan akhir liburan.

Banner reuni yg laris difoto.

Sesi foto di sela sarapan tentu saja sayang kalau dilewatkan, berbagai pojok dan juga latar belakang panggung reuni menjadi sasaran sesi foto. Bannner reuni di depan pintu masuk ruang sarapan tidak ketinggalan menjadi objek sekaligus subjek foto yang akan menjadi jejak kenangan di masa yang akan datang.

Dusun Bambu

Dusun Bambu yg luas.

Sesuai jadwal yang disusun Panitia, dari tempat sarapan, peserta Reuni beringsut menuju ke 2 unit bus yang sudah menunggu di pinggir jalan Raya Bandung-Lembang di depan hotel. Waktu telah menunjukkan jam 09.15. Kedua bus yang masing-masingnya berkapasitas 59 kursi dimuat merata dan hampir penuh. Panitia melakukan pemanggilan nama-nama peserta untuk mengabsen sesuai daftar peserta yang memberikan konfirmasi hadir.

Cottage di pinggir danau.

Absensi ini diperlukan agar tidak ada peerta yang ‘tercecer’ maupun ‘titip absen’ dan diminta setiap peserta untuk mengingat siapa rekan di sebelahnya. Seluruh peserta dianjurkan untuk tidak berpindah bus saat pulang dari tempat-tempat yang dikunjungi, untuk memudahkan Panitia mendata ulang dan menghindarkan ada peserta yang tertinggal.

Tujuan perjalanan ke Dusun Bambu (Dusun Bambu Family Leisure Park) di Jl. Kolonel Masturi, Situ Lembang, Cisarua, Kab. Bandung Barat 40551, berjarak sekitar 10 km dari hotel atau 40 menit waktu tempuh. Jalannya berkelok naik-turun dan kedua bus terasa kebesaran untuk lebar jalan yang pas-pasan. Ditambah kondisi lalu-lintas yang sangat ramai.

Di depan pintu masuk Dusun Bambu.

Setiba di Dusun Bambu, dimulai dengan sesi foto bersama di depan konstruksi bambu yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan tamu, sekaligus tempat berfoto. Spanduk reuni yang dibentangkan apa boleh buat tidak bisa terbaca semua teksnya, karena seratusan peserta reuni ingin dan memang harus masuk semua dalam 1 frame foto. Karena terlalu melebar, Bang Alwin mengambil inisiatif untuk duduk berselonjor kaki di paling depan yang langsung diikut oleh peserta lainnya.

Angkatan 69 kalau gak salah.

Tuntas foto seluruhnya, inginnya dilanjutkan dengan foto per angkatan tapi karena mengingat waktu, tidak semua angkatan berhasil berpose dengan spanduk reuni. Yang sudah selesai foto diarahkan untuk masuk melalui pintu pemeriksaan tiket dan tidak jauh dari situ sudah ditunggu oleh ‘angkot’ yang akan membawa tamu memasuki kawasan Dusun Bambu yang jalannya menanjak.

Pose di depan belitan bambu.

Dusun Bambu memang terletak di kaki gunung, menyediakan berbagai fasilitas pendidikan dan rekreasi, merupakan salah satu spot eco-tourism atau wisata alam, termasuk penginapan di dalamnya. Areanya luas sekali, sementara peserta reuni sebetulnya hanya menikmati secuil bagian dari luasnya area tersebut, bisa jadi karena ‘tergoda’ dengan sesi foto yang nyaris tak berkesudahan.

Spot foto yg paling menarik.

Sekitar 1,5 jam di Dusun Bambu, peserta kembali naik ‘angkot’ turun menuju pintu ke luar kawasan. Seperti sudah diantisipasi sebelumnya, keriuhan kembali tejadi sewaktu boarding ke bus. Beberapa peserta rupanya enggan atau lupa mengikuti anjuran Panitia untuk tidak berpndah bus, sehingga perlu dicek ulang dari satu bus ke bus lainnya. Setelah terdata, kehebohan belum selesai, karena rupanya ada 3 orang yang belum naik ke bus. Ternyata mereka masih menyempatkan mengambil momen foto dan video di tepi danau dalam kawasan yang memang sangat menarik. Keriuhan dan kehebohan inilah di antara sekian banyak momen yang menjadi kenangan Reuni Akbar Prayatna 2018 di Lembang.

Di depan api unggun Dusun Bambu.

Menunggu ‘angkot’ untuk turun ke pintu ke luar area.

Sapu Lidi resto resort

Alumni dan sipatisan di resto resort Sapu LIdi.

Tujuan berikutnya adalah makan siang di Sapu Lidi, yang diklaim pengelolanya (Bob Doank) sebagai tempat makan di sawah – resto resort. Berjarak 6 km dari Dusun Bambu, tapi tetap saja butuh waktu tempuh sekitar 20 menit karena jalan sempit dan berkelok. Bahkan mendekati lokasi resto, bus hanya bisa parkir agak jauh di luar, tidak seperti kendaraan biasa yang bisa masuk sampai ke dekat bangunan resto.

Siap disantap dan menyantap.

Semua makanan sudah disajikan di tiap meja yang sebagian besar dipakai oleh rombongan Reuni. Lagi-lagi Panitia menunjukkan kerapian kerjanya. Pilihan makanan untuk tiap porsinya ayam atau daging empal, ditempatkan di besek bambu beralaskan daun pisang, lengkap dengan nasi, lalap dan sayur asamnya, tak ketinggalan jambalnya, khas makanan Sunda. Teh panas menjadi pelengkap makan siang di sana.

Di Sapu LIdi sesudah isi perut.

Nikmatnya makan siang di Sapu Lidi bukan cuma karena hidangan lauk-pauknya, tapi ditunjang suasana sawah hijau di sekelilingnya dan yang pasti karena suasana reuninya itulah. Semua lidah diseragamkan merasakan makanan Sunda, dinikmati sambil bekombur mengenang masa-masa sekolah di Prayatna dulu. Sebagian besar meja sekeliling ruangan ditempati oleh peserta reuni, meski masih tersisa 1-2 meja yang ditempati tamu lainnya, termasuk seorang tamu yang rupanya alumni SMA 3 Medan, makan siang bersama keluarganya.

Acara tambahan Sabtu siang

Lepas makan siang, semua naik ke bus dan balik ke hotel. Karena tiba di hotel masih terang hari, masih sekitar jam 14.15, masih cukup waktu mengisinya dengan acara bebas tambahan menunggu puncak acara Gala Dinner yang akan dimulai jam 18.30.

Di pinggir kawah Tangkuban Perahu.

Salah satu kawah gunung T. Perahun

Salah satu acara tambahan yang aku tahu (karena aku ikut) adalah raun-raun sekitar Lembang. Kami berempat waktu itu, 3 orang yang rupanya sudah punya rencana dan sedang menunggu mobil sewaan di Pos Satpam (Bang Ibrahim/69, Bang Philip/76, dan Bang Elison/76), ditambah 1 orang, yaitu aku sendiri yang kebetulan tadinya niat nyari kopi pahit di sekitar hotel, kepergok di Pos Satpam, terus diajak sekalian.

Jadilah kami pakai Avanza menyasar pertama kali ke Tangkuban Perahu, tujuan wisata paling tua di Lembang, berjarak 15 km dari Hotel Pesona Bamboe. Di sana cuma sebentar, lihat salah satu kawah yang sedang mengeluarkan asap belerang namun sedang aman. Berfoto dengan memanfaatkan foto berbayar langsung cetak 4 lembar. Lalu start lagi menuju Maribaya.

Maribaya Natural Hot Spring Resort.

Jembatan gantung. Upah pemotret 5.000,-

Di Maribaya Natural Hot Spring Resort yang berjarak 14 km dari Tangkuban Perahu, kami pun tidak lama. Di sana ceritanya mau lihat air terjun dan sambil jalan seperti biasa meninggalkan jejak dengan berfoto di beberapa spot di antaranya di bagian paling depan, lalu di jembatan gantung di atas sungei. Di jembatan gantung kami dipotretkan oleh petugas di sana dengan barter 5.000 rupiah sebagai upah motretnya.

Semangat ingin lihat Curug Cikawari.

Rupanya air curugnya coklat.

Sampai di air terjun hujan turun, terpaksa menyempatkan mengambil 1-2 foto (selfie) di tengah gerimis yang makin rapat turunnya. Selain hujan, air terjun yang diburu rupanya berwarna coklat, tidak sejernih air gerimis yang turun dari langit, sehingga tidak perlu berlama-lama dan bergegas balik lagi ke luar area rekreasi. Memang sayang juga, belum sempat sedikit berkeliling, tapi apa boleh buat, sudah maksimal upaya melihat sebanyak mungkin obyek wisata di Lembang.

Floating Market di kejauhan.

Dari Maribaya lanjut ke Floating Market, pasar terapung yang termasuk sekarang ini menjadi tujuan wisata di Lembang juga. Hari waktu itu sudah cerah lagi dan kami bisa berjalan-jalan di dalam area cukup jauh ke dalam ke arah pasar terapungnya. Tidak sampai betul-betul masuk ke bangunan pasarnya, cukup lihat dari kejauhan mengingat waktu yang sudah semakin sore. Padahal masih ada 1 target lagi yaitu ’ngupi’ di Kopi Luwak Cikole.

Kopi Luwak Cikole.

Tempat penangkaran luwak pemakan kopi.

Dari Floating Market tancap lagi ke Kopi Luwak Cikole yang lokasinya boleh dibilang ke arah Tangkuban Perahu lagi. Pak Supir rupanya tahu jalan motong ke sasaran, lumayan menghemat jarak dan waktu. Kopinya memang harum dan nikmat kali, dihidangkan dengan pisang goreng keju, hmmm…. Dan selesai ngopi diajak ke belakang melihat penangkaran puluhan luwak.

Gala Dinner, puncak acara

Alumni termuda Yati (86) vs tertua Bang AD Pirous (55).

Ujung dari seluruh rangkaian kegiatan Reuni Akbar Prayatna 2018 adalah Gala Dinner di hari Sabtu malam, bersantap malam bersama dengan berbagai program acara yang sudah disiapkan oleh Panitia. Acara dibuka oleh Kak Yayang sebagai MC dimulai sekitar jam 18.40. Sambutan pertama oleh Kak Febi Nababan selaku Ketua Panitia, lalu Bang Delyuzar sebagai Ketua IKA Prayatna, dilanjutkan oleh alumni tertua Bang AD Pirous (55) serangkaian dengan alumni termuda Yati Yano (86).

Bang Syaiful Sulun memberi sambutan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bang Saiful Sulun sebagai wakil dari simpatisan IKA Prayatna yang sengaja hadir memenuhi undangan Panitia. Bang Saiful menyampaikan rasa senangnya bertemu dengan kawan-kawan alumni Prayatna secara periodik dan mengucapkan salut dan terima kasih kepada IKA Prayatna yang selalu ingat mengundang beliau.

Sambutan dari Bang Sjoufjan Awal.

Mewakili PR-5, Penasehat IKA Prayatna, tampil Bang Sjoufjan Awal memberi sambutan, di antaranya mengungkapkan rasa bahagianya bahwa IKA Prayatna sukses menyelenggarakan reuni yang berkesinambungan dari tahun ke tahun. Beliau pun mengucapkan terima kasih kepada Panitia Reuni Akbar yang telah bekerja keras melaksanakan kegiatan ini.

Doa dipimpin oleh Bang Sampurna Sitepu.

Untuk kelancaran acara dari awal sampai selesai, Bang Sampurna Sitepu sebagaimana biasa memimpin doa yang sangat lengkap, memohon ridho Allah SWT, perkenan Tuhan YME mengabulkan semua harapan yang dipanjatkan. Lancar dan meriahnya acara didukung oleh cuaca yang cerah diyakini karena doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Sang Khalik.

Goodie bag untuk setiap peserta.

Seluruh peserta lalu dipersilakan untuk menyantap hidangan makan malam yang sudah disediakan. Banyak pilihan dan semuanya enak. Buah potong dan puding sebagai penutup, serta air putih, teh, dan kopi sebagai penuntas semua berkah makanan yang sudah lenyap ditelan masuk perut.

Pak Harun memberikan sambutan.

Saat suasana masih agak riuh sesudah makan karena melanjutkan temu kangen lepas rindu dengan kawan lain yang belum sempat ditemui sejak Jumat, Pak Harun, guru Kimia Prayatna tampil ke depan menyampaikan sambutannya. Kurang lebih yang tertangkap dari apa yang disampaikan adalah ucapan terima kasih dan rasa haru dari seorang guru yang masih selalu diingat oleh para muridnya. Pak guru Harun datang bersama istri dan terlihat masih sehat, mengenakan batik kuning dan meladeni muridnya yang ingin berfoto bersama.

Angkatan 75 in action.

Kompetisi menyanyi secara grup angkatan merupakan mata acara paling seru malam itu. Boleh dibilang semua angkatan yang hadir, meski cuman 1-2 orang, tampil mengikuti kompetisi. Yang hadir sikit jumlahnya digabung dengan angkatan yang berdekatan. Ada angkatan yang sudah sejak malam pemanasan Jumat malam berlatih keras, ada pula angkatan yang mendadak mempersiapkan diri, di antaranya angkatanku, 76, baru beberapa saat menjelang dipanggil ke panggung mencari dan memilih 2 lagu. Pasti yang mudah diikuti oleh semua.

Vocal group 69.

Kekompakan grup menjadi salah satu kriteria penilaian sehingga meski ada yang bernyanyi sangat bagus sekelas Indonesian Idol, tapi single fighter alias sisa anggota grup lainnya lipsync pun tidak, tidak akan dinominasi oleh juri. Begitu pula kemampuan melibatkan auidens sehingga rame yang ikut bernyanyi juga mempunyai bobot penilaian tersendiri.

Juara I vocal group, angkatan 80-an.

Setelah melalui pembahasan dalam rapat Dewan Juri yang ketat, maka keluar sebagai Juara I adalah grup vokal angkatan 80-an yang merupakan campuran angkatan 80, 83, dan 86. Mereka memilih lagu Sitogol kalau tidak salah. Sebagai Juara II grup vokal angakatan 76 yang menggabungkan angkatan 77 ke dalamnya. Angkatanku ini secara mendadak saja memilih lagu petama Kopi Dangdut yang membuat banyak peserta turun berjoget, terus Kolam Susu-nya Koes Plus sebagai lagu kedua, yang bisa diikuti oleh hampir semua peserta yang hadir. Sebelum bernyanyi, aku mambacakan sebuah pantun sebagai pengantar.

Juara II angkatan 76-77, diantarkan dgn pantun.

Keluar sebagai Juara III, maaf, tidak tercatat dan belum jumpa fotonya. Tapi ada Juara III-nya kok. Semua juara mendapatkan payung souvenir Reuni 2018 IKA Prayatna dan bagi juara I ditambah dengan handuk, juga berbordir khusus Reuni 2018 IKA Prayatna. Dengan bangga payung dikembangkan saat itu juga, menambah kemeriahan suasana.

Di samping kompetisi grup nyanyi, juga diadakan kuis dengan pertanyaan seputar reuni, lokasi reuni, dan seputar IKA Prayatna. Kuis ini berhadiah handuk souvenir dan diperoleh oleh cukup banyak peserta.

Usai semua acara demi acara, Reuni Akbar Prayatna 2018 resmi ditutup pada jam 23.00 dengan berfoto bersama disusul menyanyikan lagu Kemesraan sambil bergandengan tangan.

Sebagian di antara peserta Gala Dinner

Angkatan 68 tampak samping. Foto tampak depannya ada di mana ya?

Bang AD Pirous (bertopi) diminta berfoto sana-sini.

Srikandi Prayatna

Bang Ssyam Danas menobatkan Srikandi Prayatna.

Siapakah di balik kemeriahan Reuni Prayatnya 2018 di Lembang ini? Pada malam Gala Dinner yang menjadi puncak acara Reuni, Bang Syam Danas memperkenalkan para Ibu yang menjadi motor penggerak Reuni. Mereka adalah Kak Rohani ‘Ani’ AR (69) sebagai Sekretaris I, Kak Risna Priyadi (76) sebagai Sekretaris II merangkap Pembantu Umum, Kak Yanti Delyuzar sebagai Bendahara, Kak Yayang Danas sebagai Sie Acara, dan Kak Lakshmi Boesoirie (64) sebagai Penasehat. Panitia Reuni dikomandani oleh Kak Febi Nababan (68) sebagai Ketua Panitia, orang Batak yang sudah jadi Sunda (“Batak nu Nyunda,” ceuk Teh Febi) atau orang Sunda yang menyamar jadi orang Batak.

Salah satu hasil kerja Panitia, label pintu kamar.

Merekalah yang mempersiapkan segala sesuatu, pernah-pernik Reuni Akbar Prayatna ini mulai dari menginventarisasi dan memilih lokasi acara dan rangkaiannya, mengumumkan sekaligus mengundang kehadiran seluruh alumni, mendata calon peserta dan mengumpulkan kontribusi peserta, menyiapkan pin peserta, membuat room list dan memberi label pada semua pintu kamar yang akan ditempati peserta. Lalu menyiapkan mug, snack berikut goodie bag-nya untuk dibgaikan ke peserta saat pendaftaran.

Standing banner yang laris difoto.

Siapa ya?

Panitia juga membuat payung dan handuk khusus untuk hadiah lomba dan kuis, membuat backdrop panggung serta standing banner yang laris dipakai untuk berfoto. Hiruk-pikuklah pokoknya. Padahal tidak semua anggota Panitia mukim di Bandung, bahkan di Lembang, sehingga harus menyempatkan waktu dan menyiapkan tenaga untuk beberapa kali mondar-mandari Jakartaa-Bandung-Lembang.

Srikandi Prayatna.

Handuk, mug, dan goodie bag yg dibuat Panitia.

Atas usul Bang Syam Danas, semua peserta setuju untuk menobatkan para Ibu yang hebat tersebut sebagai Srikandi Prayatna mengapresiasi kerja keras yang sudah mereka lakukan. Dan yang lebih mengagumkan lagi adalah pasca reuni, banyak alumni yang tidak sempat hadir maupun yang hadir memesan tambahan payung souvenir untuk kenang-kenangan. Mumpung belum dibubarkan, Panitia masih bersedia melakukan inventarisasi dan pengumpulan uang lagi bagi para pemesan tersebut.

Bukittinggi lokasi berikutnya

Jam Gadang, salah satu landmark Bukittinggi.

Atas usul dan kesepakatan semua peserta, Bukittinggi menjadi calon tunggal lokasi reuni berikutnya di tahun 2019. Tidak jauh dari Bukittinggi, tepatnya di kota Padang, salah seorang alumni Prayatna tinggal di sana yaitu Prof. Hj. Rahmania Zein, Ph.D. atau biasa dipanggil Kak Mimi, lulusan Prayatna tahun 1975. Beliau adalah staf pengajar mata kuliah Kimia di FMIPA Universitas Andalas (UNAND).

Janjang Saribu, seperti Great Wall di Chine.

Di Bukittinggi lumayan banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi di antaranya Lembah Anai, Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Benteng Fort de Kock, Janjang Saribu (seperti Great Wall Cina), Museum Rumah Adat Baanjuang, dan masih banyak lagi.

Insya Allah semua panjang umur, dimurahkan rezeki, dan diberi dorongan semangat untuk bisa hadir pada reuni mendatang. Aamiin. Foto-foto lainnya bisa dinikmati di tautan ini. (bersambung) (wp/foto: keroyokan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: