Reuni Prayatna 2018 (Bagian Kesatu)

Setelah kosong di tahun 2017, di tahun 2018 kembali alumni Sekolah Prayatna Medan mengadakan Reuni Akbar. Kali ini memilih tempat di Lembang, Jawa Barat, selama 3 hari, Jumat-Minggu, 27-29 April 2018. Hotel yang diinapi Pesona Bamboe Lembang, sedangkan jalan-jalan ke sekitarnya dipilih Dusun Bamboe dan resto resort Sapu Lidi. Pesertanya sekitar 120 orang, terbanyak kedua setelah Reuni Medan akhir Maret 2015 yang dihadiri sekitar 280 peserta, alumni dan simpatisan.

Gambir dan Kuala Namu titik kumpul

Rombongan Jakarta kumpul di Gambir.

Pagi hari Jumat, 27 April yang ditunggu-tunggu, sebagian peserta dari Jakarta kumpul di Stasiun Gambir. Angota Panitia yang direpotkan dengan pengumpulan uang dan pembelian tiket, kembali dihebohkan dengan penukaran semua kode booking dengan karcis KA Argo Parahyangan. Sebagian lagi sambil menunggu waktu keberangkatan jam 08.45, masuk kedai kopi yang tersedia di stasiun.

KA Argo Parahyangan Jkt-Bdg.

Sebagian peserta dari Gambir adalah kawan-kawan Medan yang sudah tinggal beberapa hari di Jakarta untuk keperluan keluarga dll, sehingga hawa reuni sudah mulai terasa sejak di Gambir dan di dalam kereta. Selain yang berangkat jam 08.45, rombongan berikutnya ada yang berangkat sekitar jam 11.00. Lebih dari 25 orang dalam rombongan kereta pagi, sedangkan yang pakai kereta beikutnya sekitar 5-10 orang.

Bang Ucok kedua dari kiri, Bang Sony kedua dari kanan,

Masih di Ruang VIP.

Enaknya yang pakai KA pagi, begitu sampai jam 11.00 lewat di Statsiun Bandung, langsung disambut oleh 2 (ex) pejabat KAI yang alumni Prayatna, Bang Sjahrizal ‘Ucok’ Siregar (1969) dan Bang Yulizon ‘Sony’ Arifin (1974). Rombongan ‘digiring’ ke Ruang VIP KAI. Ruang yang sejuk dan nyaman dengan sofa besar-besar yang tersedia, dilengkapi pula dengan hidangan buah-buahan dan minuman teh serta kopi. Yang ingin shalat Dzuhur pun bisa melakukannya di mushola kecil dalam ruangan tersebut.

 

 

 

Seperti biasa, selain berkombur ke sana ke sini saling melepas rindu, sesi foto pun tidak ketinggalan. Berbagai angkatan mewakili yang hadir di sana, diramaikan pula dengan simpatisan, sebutan untuk pasangan atau keluarga alumni, yang menyertai rombongan.

Rombongan Medan kumpul di Kuala Namu.

Yang dari Kuala Namu pun tidak kalah ramai. Duapuluh (20)-an peserta dalam satu penerbangan berkumpul dan siap berangkat ke Jakarta. Pak Harun Hasibuan, guru mata pelajaran Kimia beserta istri, diajak serta. Tahun 2014 waktu Reuni Akbar di Talaga Sampireun Ancol pun Pak Harun dan istri menyempatkan hadir. Begitu pula pada Reuni di Hotel Tiara Medan akhir Maret 2015.

Menuju hotel Pesona Bamboe

Bus besar yang sudah disediakan Panitia diarahkan menjemput rombongan dari Medan lebih dulu, peserta yang mendarat di bandara Husein Sastranegara. Sedangkan yang di Stasiun Bandung akan dijemput kemudian setelah dari bandara. Sampai habis bahan bekombur di Ruang VIP Stasiun Bandung, bus yang dinanti tak kunjung datang. Tunggu punya tunggu, akhirnya ada anggota Panitia dari Jakarta yang mengontak salah seorang anggota rombongan Medan.

“Cepat sikitlah makannya, Bang, ditunggu di stasiun.”

Mungkin karena belum diinformasikan itenerary-nya atau mungkin memang karena waktunya makan, rupanya kawan-kawan Medan bukannya langsung naik bus berangkat ke Stasiun KA, tapi langsung mengisi perut di bandara. Alhasil, rombongan yang di Stasiun Bandung harus bersabar menunggu sambil menahan perut yang sudah mulai keroncongan.

Sekitar jam 13.30 bus baru datang dan setelah semua barang bawaan naik ke bus, disempatkan untuk berfoto bersama dulu, bergabung kedua rombongan. Yang sudah di bus turun untuk melepas rindu sebentar lalu berpose membuat kenang-kenangan di depan bus dan latar belakang Stasiun Bandung. Seperti biasa puluhan frame dihabiskan, dijepret dengan puluhan smartphone. Bingung pun awak milih yang mana yang paling bagus.

Foto bersama di Stasiun Bandung.

Bus akhirnya meninggalkan Stasiun Bandung sekitar jam 14.00 menuju Hotel Pesona Bamboe Lembang yang berjarak 15 km dari Stasiun Bandung. Lalu-lintas akhir minggu di Bandung selalu padat, jarak yang seharusnya bisa ditempuh sekitar 25-30 menit, Jumat siang itu harus ditempuh hampir 1 jam perjalanan. Separoh peserta di bus terlihat letih (mungkin yang belum makan) sedangkan separoh lagi terlihat masih segar (mungkin yang sudah isi perut), tapi semuanya tetap berseri dan bersemangat untuk memulai rangkaian kegiatan reuni.

Di Warung Ampera yg top di Bandung.

Melepas lelah di bawah kanopi di halaman hotel.

Puji syukur cuaca cerah, sesampai di hotel semua anggota rombongan cek in di tempat khusus grup di depan restoran di lantai bawah, tidak di lobi utama yang berada di lantai atss. Sebagian begitu masuk kamar langsung golek-golek istirahat, sebagian duduk-duduk di bawah salah satu kanopi yang disediakan, dan sebagian lagi berburu makanan pengisi perut di warung dan resotran yang lumayan banyak di sekitar hotel. Warung makan “Ampera” di antaranya yang banyak diserbu peserta reuni yang sudah lapar.

Saat peserta tiba di hotel memang sudah hampir masuk waktu shalat Ashar, jadi pantaslah kalau perut sudah berontak. Namun, sambutan penuh senyum dan cipiki-cipika dari Kak Febi, Kak Ani, Bang Syam Danas beserta Kak Yayang, meluluhkan rasa lapar, berganti senyum ceria.

Bus Satria Perkasa Trans baru mendrop rombongan.

Kak Febi menyambut satu per satu peserta reuni.

Kak Febi melayani yang ingin foto. Sama nya tingginya sama dengan Bang Aswin.

Letih tapi tetap ceria. Siapa saja ini?

 

 

 

 

 

 

Menuju tempat group check-in.

Disambut oleh Panitia Bdg.

 

 

 

 

Panitia Bandung yang sudah menunggu peserta sejak persiapan sampai di Hari-H, tentu hilang juga capeknya karena melihat antusiasme peserta yang datang penuh semangat.

Lanjutan distribusi Pin Reuni.

Bertuliskan ‘Reuni IKA Prayatna – Lembang, 27-29 April 2018.

Sementara itu, Panitia melanjutkan kesibukan membagi Pin Reuni yang khusus dibuat dengan nama dan angkatan masing-masing peserta maupun simpatisan, untuk disematkan di dada selama mengikuti acara demi acara yang sudah dijadwalkan Panitia. Pembagian pin ini melanjutkan yang sebagian sudah terdisitribusi di dalam KA perjalanan Jakarta-Bandung, lalu dilanjutkan di Ruang VIP Stasiun Bandung. Dedikasi Panitia memang luar biasa.

Malam pemanasan

Di tengah udara Lembang yang masih dingin, tidak seperti di Bandung, Jumat malamnya diadakan kegiatan pemanasan yang dimulai jam 19.30 di Ruang yang di pintunya bertuliskan “Dilarang Merokok”. Maaf, tidak tecatat nama ruangannya, tapi ruang ini yang merupakan ruang utama kegiatan reuni, baik sarapan pagi maupun acara puncaknya.

Mie kocok Bandung.

Di warung sebelah hotel.

Panitia belum menyediakan makan malam di hari Jumat malam itu, sehingga peserta kembali menyebar mencari warung dan resto dengan makanan yang beraneka ragam pilihannya di sekitar hotel. Aku dan istri bersama 3 senior PR-5, Bang Alwin, Bang Syam Danas, dan Bang Supangat, memilih warung terdekat. Tersedia di situ mie kocok khas Bandung yang lezat disantap.

Banyak yg titip lagu sama Bang Alwin.

Angkatan 76 plus Ketua Panitia dan Abang/Kakak senior lainnya.

Penganan di malam pemanasan bukan makan berat, melainkan kopi, teh, dan snack yang kabarnya disponsori oleh abang/kakak angkatan 1968, termasuk juga ada yang bawa bika Ambon khas Medan. Acara berisi nyanyi-nyanyi diiringi organ tunggal, sebagian mengasah keterampilan bernyanyi supaya selalu terjaga ketajamannya, sebagian lagi rupanya berlatih vokal secara grup angkatan, yang belakangan baru aku tahu untuk diperlombakan pada malam puncak Renuni 2018 Sabtu malam esoknya.

Bersama Pak Harun di malam pemanasan.

Pada malam pemanasan atau semacam ice breaking itu, belum semua peserta tiba di lokasi. Sebagian masih menempuh perjalanan lama dan melelahkan dari Jakarta ke Bandung menggunakan mobil. Esok paginya saat sarapat recoklah bercerita perjalanan yang dialami hari kemarinnya. Ada yang 9 jam, ada pula yang hampir 12 jam, sehingga baru cek in hotel sekitar jam 01.00 dan 02.00 dini hari.

Angkatan 68 berlatih vocal group.

Aneka lagu didendangkan, dari mulai lagu slow, sedih, lagu gembira, sampai juga lagu hot (baca: dangdut/Melayu) yang memancing sebagian peserta turun bergoyang. Sebagian lagi menghabiskan pembicaraan dengan kawan semeja, sembari menghabiskan camilan yang masih mengalir. Teh dan kopi bahkan masih ditambah persediaannya oleh pihak hotel.

 

Angkatanku, 76, dengan Pak Guru Harun di malam pemanasan. Aku ke mana ya?

Menjelang jam 22.00 kumpul-kumpul Jumat malam pun diakhiri, mengingat Sabtu pagi besoknya sudah harus bersiap lagi untuk raun-raun sekitar Lembang. Foto-foto lainnya bisa dilihat di tautan ini (bersambung).  (wp/foto: keroyokan)

Hotel Pesona Bamboe tampak dari pinggir Jl. Raya Lembang

Kamar-kamar yang menghadap kolam renang.

Suasana di malam hari.

Kamar yg tidak menghadap kolam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: