Operasi katarak (dan BPJS Kesehatan) – Bagian Pertama

Dr. John Freddy, Sp. M, dokter mata RSUD Pasar Minggu yang memeriksa kedua mataku dengan mantap mengatakan bahwa status katarak kedua mataku sudah mencapai Stadium 4 dari 5 tingkat stadium. Sangat disarankan untuk dioperasi karena jarak pandang yang kurang dari 1 meter. Kejadian itu menjelang akhir tahun 2016, tepatnya tanggal Kamis, 29 Desember 2016.

Aku diberi pengantar untuk periksa darah ke laboratiorium RSUD dan diingatkan agar tensi darahku jangan sampai naik lagi, karena sudah batas atas. Hasil pemeriksaan tensi sebanyak 2 kali Kamis pagi itu, di Puskesmas Ragunan dan di RSUD Pasar Minggu memang sangat tinggi, 150/90, sepanjang ingatanku baru kejadian sekali itu. Tanggal 6 November 2016 saat pemeriksaan awal sebelum donor darah di Bekasi pun, kondisinya sangat normal, 120/80.

RS Zahirah

RS Zahirah

Karena hasil pemeriksaan laboratorium semuanya berada dalam range rujukan (kecuali Hb 12,7 g/dL sedikit berada di bawah batas bawah 13,2 g/dL), Jumat pagi esoknya aku kembali ke Poli Mata RSUD dan setelah dilakukan pengukuran lensa, aku dirujuk lagi ke RS. Zahirah, Jl. Sirsak No. 21, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk menjalani operasi katarak. Menurut paramedis yang bertugas di Poli Mata, RSUD Pasar Minggu (yang diresmikan Desember 2015 oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, Red) itu belum dilengkapi dengan peralatan untuk operasi katarak mata.

Menjalani operasi

Rabu, 4 Januari 2017 pukul 22.55-23.05 WIB, aku menjalani operasi katarak mata kananku yang didiagnosa lebih parah dari mata kiri, sehingga dioperasi lebih dulu dari mata kiri. Sepuluh menit, ya sepuluh menit saja operasi sudah selesai dan mata kananku diberi pelindung batok plastik untuk menjaga benturan serta kemungkinan terkucek oleh tangan. Operasi di RS Zahirah dilaksanakan oleh Dokter Andi Elizar Asriyani, Sp.M, M.Kes, alumnus FK Universitas Hasanuddin, Makassar. Dokter ini juga berpraktek di RSUD Pasar Minggu setiap hari di pagi hari.

Pintu masuk RS Zahirah

Pintu masuk RS Zahirah

Operasi yang berlangsung singkat tersebut tanpa pembiusan total, melainkan hanya pembiusan lokal, yaitu di bagian mata yang dioperasi. Dengan begitu, aku masih mendengar dengan jelas semua instruksi yang diberikan dokter, baik kepadaku untuk memperbaiki posisi kepala, maupun instruksi kepada para asisten yang membantunya. Hampir tidak terasa sakit sedikit pun, yang kulihat di mataku seperti cairan yang bergerak menggenangi lensa mata dilatarbelakangi cahaya terang tapi blur berwarna-warni. Katanya teknologinya yang digunakan saat ini adalah dengan melepas lensa mata yang sudah berkatarak dan menggantinya dengan lensa mata yang baru. Tentu saja lensa buatan manusia. Jadi mirip seperti meletakkan contact lens, hanya saja ini secara permanen. Itu sebabnya hanya butuh waktu sekitar 10 menit.

Meski menjelang tengah malam dan aku merupakan pasien ke-31, dokter muda berjilbab yang akan mengoperasiku samar-samar terlihat santai sambil duduk di bangku di sebelah tempat tidur pasien, sesekali mulutnya menggumamkan lagu yang diputar di ruang operasi. Aku bilang samar-samar karena saat itu aku sudah melepas kacamata dan kedua mataku terhalang katarak stadium 4!

Operasi mata kiri tidak boleh dilakukan pada hari yang sama. Sewaktu kontrol mata kanan hari Jumat, 6 Januari 2017 atau 2 hari setelah operasi, aku mendapat jadwal untuk operasi mata yang kiri.  Usai kontrol, pelindung plastik boleh dibuka dan aku bisa melihat dengan sangat jelas dengan mata kananku, bahkan tanpa kacamata minus yang selama puluhan tahun ini aku pakai.

Sesuai yang dijadwalkan, Rabu, 11 Januari 2017 aku kembali menjalani operasi, kali ini mata kiriku. Operasi ditangani oleh dokter ahli mata yang sama di rumah sakit yang sama. Berlangsung sekitar 15 menit, pukul 17.55-18.10 WIB, sedikit lebih lama dari operasi mata kanan seminggu sebelumnya. Kalau minggu lalu mata kananku cukup ditutup batok plastik tanpa perban, untuk mata kiri ini diberi perban dulu sebelum ditutup plastik pelindung. Alhasil aku sama se

Sesaat setelah operasi berselang seminggu

Sesaat setelah operasi, berselang seminggu

kali tidak bisa melihat, apakah hasil operasinya seterang-benderang mata yang kanan atau tidak. Tiap kali dibuka sebentar untuk ditetes, kesempatanku untuk membandingkan hasilnya, dan memang ternyata mata kiri tidak sebaik hasil mata kanan, penglihatannya dobel (ganda). Jumat, 13 Januari 2017 saat kontrol sore hari, sewaktu diperiksa dengan melihat huruf dan angka di layar, memang penglihatan mata kiri jauh di bawah ketajaman penglihatan mata kanan. Sewaktu kulaporkan ke dokter yang mengoperasi dan memeriksaku, beliau hanya mengatakan hasil operasi kedua mataku baik dan aku diminta kontrol kembali 1 (satu) bulan kemudian.

Obat-obat pasca operasi

Obat anti nyeri

Obat anti nyeri

Obat anti peradangan

Obat anti radang

Baik setelah operasi mata kanan maupun kiri, aku langsung diberi obat yang sama yaitu untuk mengatasi radang dan nyeri berupa tablet (Methylprednisolone dan Asam Mefenamat), serta obat tetes 6 kali sehari yaitu Tobroson dan LFX Levogloxacin. Harus langsung ditebus malam harinya supaya esok pagi-pagi bisa langsung diteteskan.

Obat tetes 6 kali sehari

Obat tetes 6x sehari

Pada waktu kontrol 2 hari setelah operasi, diberi tambahan vitamin Vitanorm 40 tablet untuk 40 hari dan obat tetes lanjutan Polynel (Fluorometholone Neomycin) ikannya. Sama halnya obat tetes yang kupakai sesudah ope

obattetes1

Obat tetes 6x sehari

rasi retina mata kiriku dan perawatan kedua matauntuk diteteskan ke kedua mata sebanyak 4 kali sehari. Kalau untuk obat tetes, selalu kulihat nama Cendo sebagai fabrku selama tahun 2003-2014.

Saat kutulis artikel ini, aku sudah kontrol ketiga ke dokter Elizar. Selasa, 14 Februari 2017, sebulan setelah operasi mata yang kedua dan sehari sebelum Pilkada DKI. Sekitar pukul 07.15 WIB aku sudah sampai di RSUD Pasar Minggu untuk mengambil

Obat tetes 4 kali sehari

Obat tetes 4x sehari

nomor antrian. Sewaktu mendaftar di Poli Mata dan diperiksa pendahuluan di Ruang Optometri, paramedis yang memeriksa ketajaman penglihatanku mengatakan bahwa kedua mataku silindris (astigmatisme), yaitu kelainan pada mata yang disebabkan oleh karena lengkung kornea mata yang tidak merata. Kelainan refraksi ini bisa mengenai siapa saja tanpa peduli status sosial, umur dan jenis kelamin. Kalau aku bilangnya bola mataku benjol, karena memang panjang kornea antara horisontal dan vertikal yang tidak sama. Silindris ini berbeda dengan mata minus yang terjadi karena kelengkungan kornea yang lebih pendek serta sumbu bola mata yang terlalu panjang (Sumber: optikmelawai.com.

Silindrisku lumayan tinggi, yang kanan 1,25 dan yang kiri 2,75. Silindris ini rupanya yang membuat mata kiriku dobel kalau melihat

obatvitamin

Vitamin utk mata

objek. Yang kanan yang sepertinya sudah tajam dipakai melihat objek pun ternyata silidris, meskipun lebih rendah. Selain silindris, untuk melihat jarak dekat misalnya membaca, kedua mataku sudah mengalami plus yang cukup tebal yaitu masing-masing 2,75.

Obat tetes 4 kali sehari

Obat tetes 4x sehari.

Saat mendapat giliran sebagai pasien ke-15 yang diperiksa dokter Elizar, dokter tetap mengatakan bahwa kondisi hasil operasi kedua mataku baik, alhamdulillah, meski untuk memperbaiki silindris dan melihat dekat, kedua mataku masih harus dibantu kacamata. Dokter masih memberikan tambahan vitamin Vitanorm 10 tablet dan obat tetes Polynel 4 kali sehari sebanyak 1 botol kecil. Dan benar, ukuran minus yang kualami selama lebih dari 40 tahun tidak ada lagi pada kacamata baru yang mulai kukenakan sejak Senin malam, 20 Februari 2017.

Kebetulankah?

dr. Andi A. Viktor, Sp.M

dr. Andi Arus Viktor, Sp.M

Mungkin sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, urusan mataku ditangani oleh dokter mata yang bernama depan Andi. Tahun 2003 aku menjalani operasi retina mata kiri oleh Dokter Andi Arus Viktor, Sp.M, dokter pria senior ahli retina di RS Aini Prof. DR. Isak Salim, Kuningan, Jakarta Selatan. Dokter ini merawatku sampai bulan Oktober 2014, termasuk 2 tahun terakhirnya merawat katarak mataku agar tidak terlalu cepat menebal. Alhasil pada pemeriksaan terakhir Oktober 2014 itu beliau mengatakan sudah maksimum upayanya dan merujukku ke dokter ahli katarak di RS Aini juga, untuk pemeriksaan lanjutan sampai operasi.

Tanpa disengaja awal tahun 2017 aku ditangani oleh dokter ahli mata bernama awal Andi juga, Dokter Andi Elizar Asriyani, Sp.M, M.Kes. Bedanya yang ini dokter wanita, lebih muda dari dokter ahli retina di atas, namun tidak kalah pengalaman menangani puluhan, bahkan mungkin sudah ratusan pasien yang terkena gangguan katarak. (bersambung ke Bagian Kedua).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: