Donor darah

Jajaran tempat tidur donor

8 tempat tidur disiapkan untuk para pendonor.

Sebagian besar orang pasti tidak percaya kalau aku bilang bahwa aku baru saja jadi pendonor darah. Ya, baru setahun terakhir, setelah usia di atas setengah abad. Minggu pagi, 6 Januari 2013 merupakan kali ke-4 aku mendonorkan darahku. Lokasi donor darah bukanlah dekat dari rumah di Jaksel, melainkan di Bekasi Timur, tepatnya di Studio Radio 8EH yang juga Sekretariat RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Lokal 1, Perumahan Taman Juanda Blok F-8, Duren Jaya, Bekasi Timur. Studio 8EH itu milik kawanku seangkatan, sesama ITB77, Daddy Waluyo dari jurusan Geologi. Sebelumnya Radio 8EH itu radionya mahasiswa ITB yang studionya pun di dalam Kampus ITB, Jl. Ganesha 10, Bandung.

Awal pertama kali donor darah karena mengikuti salah satu dari rangkaian kegiatan Reuni 35 tahun ITB77 tahun 2012. Waktu itu hari Minggu, 8 Januari 2012, bersama sekitar 30 kawan2 dari ITB77 berbagai jurusan. Lokasinya sama, di Radio 8EH. Sebagian diantara kawan2 yang hadir ternyata tidak dapat mewujudkan keinginannya berbagi dalam kegiatan “ITB77 untuk Masyarakat” karena setelah dicek kondisi darahnya tidak memenuhi syarat.

Pemeriksaan Hb dan Tensi

Pemeriksaan Hb dan Tensi, harus 12,5-17 (8/1/12).

Pertama kali datang, setelah mengisi formulir pendaftaran, darah kita akan diambil sedikit untuk diperiksa. Diambil dari salah satu jari dengan tusukan jarum kecil dan dicek dengan alat yang menunjukkan berapa Hb atau Hgb (Haemoglobin). Katanya Hb menunjukkan tingkat kekentalan darah yang harus berada diantara angka 12,5 dan 17. Makin kecil angkanya makin encer dan makin besar berarti makin kental darahnya. Hb-ku selalu berada di angka 14, sehingga lolos saringan pertama. Istriku, Lita, yang juga baru pertama kali mendonor saat kegiatan reuni itu, lolos juga, tapi saat donor kedua tgl 8 April 2012, Hb-nya 12, hanya kurang 0,5, tidak diizinkan mendonor.

Wajah tegang karena takut

Istriku menertawai wajah ketakutanku (8/1/12).

Pemeriksaan kedua adalah tensi atau tekanan darah. Ukuran normal adalah 120/80, sehingga pendonor harus berada dalam rentang (range) tsb. Aku waktu pertama agak di atasnya sedikit, 130/90, tapi masih dibolehkan. Rupanya aku agak tegang waktu itu karena baru untuk pertama kalinya akan jadi pendonor. Aku paling takut melihat darah, lalu membayangkan sakitnya disuntik, membayangkan nanti pusing setelah darah diambil dst. Kekuatiran2 itu nampaknya yang membuat aku agak tegang dan tensi lebih tinggi dari normal. Sampai sekarang pun aku tidak pernah berani melihat apa yang dilakukan petugas pengambil darah, apalagi melihat darahnya. Setelah donor ke-2 kali dst sudah lebih santai, justru rasa deg-degan muncul karena takut tidak lolos persyaratan.

Setelah berat badan kita mencapai 45 kg, kita rupanya sudah boleh mendonorkan darah. Tentu harus sehat, tidak sedang mengkonsumsi obat, tidak juga dari keturunan yang memiliki penyakit yang tidak diperbolehkan menjadi pendonor. Lalu syarat Hb dan tekanan darah seperti yang sudah disebut di atas. Kalau kita belum pernah menjadi pendonor, maka selama usia belumĀ  mencapai atau pas 55 tahun, masih diperbolehkan. Setelah lewat 55 tahun sudah tidak boleh. Umurku ternyata nyaris batas. Sebaliknya kalau kita sudah menjadi pendonor, maka masih terus diperbolehkan sampai usia 65 tahun. “Di atas 65 tahun, silahkan darahnya dipakai sendiri, Pak,” kata petugas yang aku tanyai.

Sudah lebih santai

Setelah kali ke-4, sudah lebih santai

Jarak waktunya paling cepat 3 bulan dan darah yang diambil 3 ukuran, 250 cc, 350, dan 450 cc, tergantung pada berat badan dan kondisi pendonor. Aku selalu diambil 350 cc dalam 4 kali donor ini. Beratku 64 kg. Waktunya sekitar 10 menit untuk jumlah darah 350 cc tsb. Darah dimasukkan dalam kantong plastik dan diberi label a.l. golongan darah, nama pendonor, dll.

Sakitkah? Yang namanya disuntik pastilah ada rasa sakitnya, namun hanya sebentar yaitu saat kita diminta mengepalkan tinju dan jarum suntik dimasukkan ke lengan. Setelah itu sekitar 1 menit ada rasa pegal lalu hilang. Muncul sakit lagi sedikit saat jarum dicabut sembari diminta menarik nafas panjang. Selesailah prosesnya dan lengan diminta untuk diangkat ke atas beberapa saat sambil bangkit dari tidur.

Extra fooding usai 'disedot'

Makanan tambahan setelah darah diambil (susu, mie, dan kapsul penambah darah).

Para pendonor diminta untuk mengambil kembali kartu donor dan makanan tambahan (extra fooding) seperti mie instan, susu, telor rebus, dan kapsul penambah darah (Hufabion) sebanyak 5 butir untuk 5 hari. Dan saat beranjak pulang, setiap pendonor diberi souvenir sebagai tanda terima kasih. Minggu pagi ini berupa payung atau termos, 3 bulan yl pupuk tanaman, pernah juga senter. Bagi yang sudah 10 kali mendonor diberi sertifikat, begitu seterusnya bila sudah mencapai kelipatan tertentu.

Anakku Gisa, Djasli dan istri

Anakku Gisa (kiri) kuajak jadi pendonor mendatang. Bersama kawanku Djasli (EL77) dan istri.

Kegiatan donor darah yang resmi dari PMI Bekasi ini merupakan bakti sosial RAPI setiap 3 bulanan dan kegiatan Minggu pagi ini sudah yang ke-19 kalinya. Tidak kurang dari 8 tempat tidur disiapkan dalam setiap kali kegiatan. Setiap 2 tempat tidur ditangani oleh 1 petugas PMI. Salut untuk RAPI Lokal 1 Bekasi dan Radio 8 EH dan aku senang bisa ikut 4 kali diantaranya. Sambil kegiatan berjalan, di radio dengan gelombang 104.00 FM, itu disiarkan langsung kegiatan yang rata2 menghasilkan 80-90 kantong darah tsb. Kali ini aku ajak anak bungsuku, Gisa, untuk melihat dulu dan mengajak dia mendonorkan darahnya tgl 14 April 2013 yad.

2 Comments (+add yours?)

  1. Pemutih Muka
    Jan 16, 2015 @ 18:52:58

    Kalau sehabis donor darah rasanya seperti apa ya Pak? Apa badannya jadi lemas, pusing, atau bagaimana?

    Reply

    • wprawoto77
      Feb 15, 2015 @ 12:33:34

      Dh,
      mohon maaf karena saya baru balas setelah sebulan pesan ini masuk. Saya baru sempat periksa blog saya Minggu pagi ini.

      Menjawab pertanyaannya, setelah donor darah, perasaan lemas, pusing, dll itu tidak ada, asalkan beberapa syarat dipenuhi. Yang bisa saya ingat persyaratannya adalah: badan kita sehat, tensi normal 120/80 atau masih pada deviasi yang dibolehkan, Hb (haemoglobin) diantara 12,5-17, sarapan sebelum donor (di tempat saya donor selalu disediakan bubur kacang hijau), menimbang badan (timbangan juga disediakan) untuk menakar berapa mililiter (ml) darah yang bisa didonorkan.

      Setelah selesai donor, yang saya lakukan adalah bangkit dari tempat tidur secara perlahan, lalu berdiam diri sejenak dalam posisi duduk selama 10-15 detik, baru bangkit berdiri. Di tempat saya donor, selesai donor diberikan susu dan mie instant, bisa dikonsumsi langsung di tempat untuk mengembalikan tenaga. Juga diberi obat penambah darah 5 butir untuk 5 hari seperti yang telah saya tulis di blog saya.

      Demikian pengalaman yang dapat saya bagi, silahkan mempertimbangkan untuk mendonorkan darahnya, serta terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: