Mobil “di jual”, harap “di isi”

Salah kaprah penggunaan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan rupanya terus berlanjut hingga hari ini. Padahal sudah 37 tahun sejak EYD – Ejaan Yang Disempurnakan diresmikan penggunaannya tanggal 16 Agustus 1972. Tulisan seperti judul di atas sangat sering kita jumpai di sekitar kita. Tahukah anda bahwa ejaan tersebut salah? Menyalahi EYD?

Jangankan oleh masyarakat awam dan kelas bawah, di lokasi yang mentereng pun penulisan seperti itu masih kerap terlihat. Di salah satu tempat pendidikan, di SMAN terkenal di Jakarta Selatan saja di pintunya masih dapat kita baca “Pintu di tutup pkl. 07.00”. Bisa dibayangkan bagaimana keluaran sekolah tersebut nantinya. Lalu di Gerbang Tol Padalarang Barat kalau kita dari arah Jakarta, tertera tulisan sangat besar dengan huruf kapital “Tidak tukar tiket DI DENDA di gerbang exit”.

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Padahal kalau mau sedikit belajar, sangat mudah membedakan mana di yang harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya dan mana di yang harus diserangkaikan. Di sekolahku di Medan, EYD mulai diajarkan tahun 1973, saat aku duduk di Kelas 3 SMP. Begitu mulai diberlakukan, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Namun untuk lebih memahami secara sistematis, April 1984 aku beli buku Pak Yus Badudu terbitan 1983 (cetakan kedua September 1983) berjudul “Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar”. Mari kita baca di bagian ‘Bagaimana membedakan di Kata Depan dengan di Awalan’.

Awalan di- hanya terdapat pada kata kerja, baik kata kerja itu berakhiran -kan atau -i maupun tanpa akhiran-akhiran itu.

Contoh:
dipukul, dipukulkan, dipukuli
dilempar, dilemparkan, dilempari

Kata kerja yang berawalan di- itu ialah semua kata yang menjadi jawab pertanyaan diapakan dia atau diapakan benda itu. Ini adalah salah satu cara mengenal kata dengan awalan di-. Cara yang kedua ialah kata-kata kerja berawalan di- mempunyai bentuk lawan awalan me-
dipukul lawannya      memukul
dipukulkan lawannya      memukulkan
dipukuli lawannya      memukuli

Jadi, kalau kita ragu apakah di pada kata itu dirangkaikan, kita cobalah membentuk lawan kata itu dengan cara di atas. Apabila ada lawan bentuknya dengan awalan me-, pastilah di pada kata itu adalah awalan dan oleh karenanya haruslah dirangkaikan.

Kata depan di memang harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya karena di jenis ini mempunyai kedudukan sebagai kata. Fungsinya menyatakan ‘tempat’. Cara mengenalnya mudah sekali. Semua kata yang menjadi jawab pertanyaan di mana pastilah kata yang mengandung kata depan di, karena itu jawaban itu harus dituliskan dengan dua patah kata yang terpisah.

Contoh:
Di mana dia?    Jawab:   Di kantor.
Di mana rumahnya?    Jawab:   Di Jakarta.   Di sana.
Di mana kaubeli daging itu?   Jawab:   Di pasar.    Di situ.

Jadi, kata seperti di mana, di sana, di sini, di situ, di atas, di bawah, di tengah, di samping, di depan, di belakang pun harus dituliskan terpisah sebagai dua patah kata seperti di sekolah, di dinding, di laut.

Cara kedua untuk mengenal bahwa di itu kata depan ialah bahwa kata depan di itu mempunyai pasangan yaitu kata depan dari dan ke.
Contoh:
di sana              ke sana              dari sana
di mana            ke mana            dari mana
di pasar            ke pasar            dari pasar

Namun, ada beberapa bentuk kecuali. Pertama, kata kepada dan daripada selalu harus dituliskan serangkai sebagai sepatah kata saja. Kedua, kata kemari juga dituliskan serangkai sebagai sepatah kata karena tidak ada pasangannya di mari dan dari mari. Ketiga, kata ke luar sebagai lawan kata ke dalam harus dibedakan dari kata keluar lawan kata masuk. Bentuk yang kedua ini kata kerja.
Contoh:
Azis keluar dari pintu belakang.
Dari tadi dia memandang ke luar.

Begitu ajaran Pak Yus Badudu. Mudah ‘kan? Aku yakin setelah membaca ini kita semua bisa menuliskan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan dengan benar.

2 Comments (+add yours?)

  1. witarto
    Sep 12, 2009 @ 18:23:05

    Blog-mu bagus, Wahyu…
    Dan Anda ambil peran sebagai penjaga tatabahasa yang baik dan benar..

    selamat..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: