Jenguk Bang Dharma

Bang Dharma Judha (GL-72)

Bang Dharma Judha (GL-72)

Senang campur haru, itulah perasaan yang spontan timbul saat bertemu Bang Dharma Judha, seniorenku di Rumah C Asrama Mahasiswa ITB. Rencana menjenguk Bang Dharma yang disusun spontan saat undangan Totot Susanto (IF-81) untuk nonton Konser Leo Kristi hari Sabtu sebelumhya, terlaksana hari Rabu malam, 19/11/08. Kami menyambangi Bang Dharma di rumahnya di Kompleks Pertamina Pulo Gebang Jaktim.

Jarak yang lumayan jauh tidak jadi halangan kalau niat sudah tertanam. Aku (TI-77), Eddy Asmanto (TI-76) dan Adi Subagyo (SI-78) dengan masing-masing membawa istri, sepulang kantor langsung meluncur menuju rumah Bang Dharma. Bagyo paling dulu tiba, disusul Eddy dan terakhir aku. Kawan2 lain tidak ada yang bisa ikut karena waktunya bersamaan dengan keperluan lain yang sudah lebih dulu terjadwal.

Bang Dharma menyambut kami dengan senyum, waktu itu mengenakan kaos putih, celana pendek selutut dan tongkat di tangan kanan. Jalannya ter-tatih2 dibantu tongkat karena sejak usai operasi di bagian kepala 6 tahun yl (2002), tangan dan kaki sebelah kirinya tidak dapat digerakkan. Bersyukur dia bilang sekarang ini sudah lancar berbicara. Semula berbicara pun susah karena lidahnya ikut kelu. Di rumahnya saat itu cuma ada 1 dari 3 anak laki2nya, yaitu anak terkecil, Ibung namanya, dan seorang ibu separoh baya yang bertugas sebagai pramu wisma. Yang sulung, Boy, dan Buyung si nomor dua belum pulang.

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Kami langsung ngobrol, nostalgia di asrama ITB maupun perjalanan hidup setelahnya. Bang Dharma adalah alumnus Geologi, jurusan yang dimasukinya tahun 1972 tapi betah didiaminya sampai tahun 1982. Itu sebabnya dengan aku yang angkatan 77 masih jumpa serumah di RC-ITB. Bang Dharma memilih tinggal di kompleks itu karena di depan rumahnya tinggal adiknya yang staf Pertamina. Waktu awal2 pindah ke sana, ibunya pun ikut bersamanya di situ.

Si Abang yang asal Palembang ini masih ingat bagaimana skandal ‘ayam’ yang menimpa Rumah C waktu Pekan Olahraga Antarasrama (PORAM) tahun 70-an untuk mengalah karena Tim Rumah C dikenal jago catur. Juga dia ingat saat kita menerbitkan buletin ‘C Family‘ di tengah hangatnya perang antar Rumah B dan G (Barraq). Rumah C yang letaknya diantara kedua peseteru itu seringkali jadi korban juga.

Yang aku ingat tentang Bang Dharma adalah tawaran meminjamkan motornya, kalau tidak salah Honda Kijang 90cc. Di-sodor2kannya kunci motornya kepada kawan2 yang memerlukan motor. Baik kalikah dia? Iyalah, tapi rupanya ada maunya juga, syarat buat yang minjam adalah mengisikan bensin motornya itu. Aku dan Eddy juga sangat ingat bagaimana kami bertiga dengan Bang Robin Tibuluji (AR-73), menjadi wakil kawan2 RC untuk menghadiri resepsi pernikahan Bang Dharma di Semarang tahun 1982. Kami mampir dulu ke Yogya sekalian jalan2 dan entah disengaja entah tidak (cuma tokek yang tahu; yang jelas niatnya cari yang murah), kami mengingap di lokasi yang assooii punya di sekitar Malioboro.

Belum puas ngobrol di ruang tamu, kami diajak makan malam dengan hidangan khas Sumatera yang dominan pedasnya. Ada rendang, sambal goreng tempe, oseng pari, dan ayam balado. Betul2 di luar dugaan karena kami niatnya tinggal memanggil tukang nasi goreng atau makanan apalah yang lewat di depan rumah untuk makan malam di sana. Eh, dasar sifat positif orang Timur yang kedatangan tamu, tidak lengkap kalau tidak diajak makan. Yang ditawari punya prinsip: rezeki tidak boleh ditolak!

Ngobrol diteruskan di meja makan, termasuk saling mengingat kebiasaan makan kami2 sewaktu di asrama. Ada yang selalu menyisakan lauknya dengan menyikat habis nasinya lebih dulu. Ada yang suka menunggu batas waktu jam makan, begitu lewat langsung menyapu bersih yang masih ‘nganggur’. Ada istilah tukang clutak, mengambil jatah orang lain padahal belum waktunya. Pernah juga hired bibi masak dengan belanja bahan sendiri supaya lauknya lebih bergizi.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah foto bersama kami pun pamit di tengah hujan lebat yang sudah turun sejak sejam sebelumnya. Kita semua sama2 senang, yang bertamu selain disuguhi makan malam juga senang bisa jumpa kawan2 yang lainnya, termasuk para istri yang sebetulnya sudah saling kenal sejak lama. Tuan rumah pun senang dengan kunjungan itu, via SMS esok harinya selain ucapan terima kasih, Bang Dharma bilang seperti mendapat terapi saja dengan kunjungan dan ngobrol lepas rindu.

Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe

Ki-ka: Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe.

Terima kasih dan jangan kapoklah Bang dengan kedatangan kami, semoga cepat pulih kesehatannya. Kami pun berniat untuk menjenguk Mas Herry Andiarbowo (FT-74) yang menurut informasi dari Bang Gusni Aidil (TK-74), Mas Herry dalam kondisi sakit sejak sekitar 4 tahun yang lalu. Sampai jumpa lagi. (wp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: