Fenomena datang terlambat

Datang terlambat katanya sudah menjadi budaya orang Melayu (baca: Indonesia). Datang terlambat ke suatu rapat, ke suatu undangan acara, dst, dari lingkup yang paling kecil di rapat RT, rapat organisasi, sampai rapat suatu perusahaan kelas raksasa. Dari undangan acara pertemuan yang dibuat oleh paguyuban atau organisasi tanpa bentuk, sampai undangan acara organisasi kemasyarakatan kelas kakap.

Datang tidak tepat waktu alias terlambat itu sebetulnya lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Dalam hal rapat, biasanya terpaksa dimulai molor waktu karena harus mentoleransi dengan menunggu beberapa menit atau jam. Lalu seringkali pimpinan rapat harus mengulangi menjelaskan jalannya rapat kepada yang baru datang, bahkan bisa lebih dari sekali kalau yang datang lebih belakangan dianggap ‘orang penting’. Kalau tidak dijelaskan ulang, tidak jarang yang datang terlambat ini mengulang pembahasan atau malah sekalian mengacaukan pembicaraan, sehingga pembahasan menjadi bertele-tele.

Kalau dalam hal undangan acara, sudah lazim acara jadi mundur, di awal acara dan otomatis saat selesainya. Yang meresahkan adalah kalau kita ingin bepergian bersama dengan menggunakan 1 bus misalnya, bisa jadi hanya karena 1 orang peserta, keberangkatan ditangguhkan. Akibatnya waktu yang tersisa untuk berekreasi menjadi lebih pendek karena lalu lintas yang makin siang makin macet, tiba di tujuan kesiangan dll. Bagaimana dengan yang sudah datang tepat waktu? Manusiawi kalau mereka merasa kesal dan merasa tidak dihargai oleh penyelenggara acara maupun oleh peserta atau undangan lainnya.

Aku kadang mengamati dan merenung kenapa fenomena datang terlambat atau tidak tepat waktu ini seperti sudah menjadi budaya? Orang bahkan sudah menjadi biasa dengan membuat undangan mencantumkan pukul X karena memberi waktu cadangan keterlambatan sampai 0,5-1,5 jam. Kucoba tuliskan apa yang kupikirkan dan juga comot sana-sini hasil pembicaraan warung kopi, apa yang ada di balik pikiran orang yang (suka) datang terlambat, apa yang ada di belakang fenomena datang terlambat ini.

Ada yang sengaja datang terlambat karena sudah berasumsi bahwa peserta lainnya juga akan datang terlambat. Tidak mau datang duluan dan duduk menunggu sendiri, malah mungkin ada rasa malu kalau datang terlalu cepat, kuatir dicap terlalu rajin, terlalu semangat. Ini alasan yang kelihatannya sekarang paling banyak dianut orang. Ada yang memang orang penting, sengaja datang terlambat karena memastikan hadirin sudah banyak yang datang. Yang lucu ada yang bilang, seseorang datang terlambat agar semua mata yang hadir tertuju padanya. Bahasa asingnya, dia butuh perhatian orang. Apa iya ya ada yang seperti itu? Jangan-jangan orang yang seperti ini pulangnya pun ingin selalu lebih cepat supaya diperhatikan lagi saat kepulangannya oleh orang banyak.

Yang di luar dugaan adalah alasan seorang kawan yang sudah sangat dikenal oleh lingkungan kumpulannya sebagai orang yang tidak pernah tepat waktu. Dia bilang sudah lelah dengan keharusan tepat waktu sejak sekolah TK, SD, SMP, lalu SMA, terus berlanjut di tempat kerja. Oleh sebab itu di perkumpulan yang dianggapnya informal inilah kesempatan dia untuk bisa datang terlambat, bebas dari keterikatan waktu. Mungkin dalam pikirannya tokh tanpa sanksi hukuman seperti di sekolah atau di tempat kerja dulu.

Tapi ada juga keterlambatan yang termasuk sulit untuk dihindarkan, termasuk aku sendiri sesekali mengalaminya, yaitu kalau menghadiri acara berbeda secara berurutan di hari yang sama. Biasanya kalau acara pertama molor waktunya, akan berakibat datang terlambat di acara kedua dan seterusnya di hari tersebut. Makanya, sulit dimengerti kalau acara pertama di pagi hari, yang berarti langsung dari rumah, masih juga bisa terlambat. Padahal berangkat langsung dari rumah dimana kendali waktu sepenuhnya ada pada kita. Kog bisa ya?

Lalu lintas kota besar yang macet sering dijadikan kambing hitam, padahal bagiku macet seperti di Jakarta itu sudah ‘given situation’, sudah tidak zamannya lagi disodorkan sebagai penyebab. ‘Kan tinggal kita atur waktu keberangkatan kita dengan lebih awal?

Akhirnya, tidak mudah memutus rantai salah kaprah ini, mau mulai dari mana? Dari penyelenggara acara yang harus disiplin saja memulai acara sesuai rencana meskipun yang hadir baru 2 orang, dari si orang penting yang kehadirannya harus ditunggu yang lainnya, atau dari peserta secara umum? (wp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: