Kawan di Yogya

LENGKAP rasanya perjalananku kali ini ke Yogya. Tugas utama dari asosiasi internet APJII selesai, tugas cari pesanan untuk orang rumah beres, dan pamungkasnya adalah niat berjumpa dengan Kolonel (TNI-AU) Syafrudin ‘Ucok’ Abdie. Itu semua terjadi dalam sehari dari pagi sampai sore di hari Selasa, 2 September 2008, hari ke-2 puasa Ramadhan 1429H.

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

Kalian tahu ‘kan siapa Ucok Abdie? Nama yang sekali sebut, langsung berbagai kenangan dari kawan2 yang mendengarnya, muncul. Ada yang ingat dia itu anaknya Pak AW Abdie, penggiat bola di Medan (PSMS), ada yang terkenang Ucok sebagai anak yang suka jahil, aku sendiri ingat dia ini salah satu jago bola di sekolah, seperti juga Arfansyah yang sampai sekarang kupanggil Ipong.

Sore itu kupikir sudah hilang kesempatan emasku untuk jumpa dia, karena  sampai 30 menit menjelang boarding pesawatku di Bandara Adi Sucipto Yogya waktu mau balik ke Jakarta, Pak Jenderal kurang sikit ini belum juga nongol sesuai janji telepon siangnya. Apalagi teleponnya pun tidak aktif. Eh, akhirnya datang juga. Ucok dengan santai bisa masuk ke area check-in bandara bersama istri dan anaknya. Maklum dengan seragam TNI-AU-nya, siapa pula di bandara yang berani menghalanginya. Rupanya dia memerlukan untuk pulang dulu menjemput istri dan anaknya untuk jumpa kawan yang sudah 25 tahun tidak tatap muka, bahkan ‘tatap suara’ pun baru terjadi sekitar 3 bulan yl.

Sang Kolonel ini di Harapan semasa SD dan SMP, lalu melanjutkan ke SMA-6 bersama Abubakar, Prima, Syafrudin Bahagia, Una, Azmalia dll. Tidak tamat di sana karena dia terus pindah ke SMA-7 Bandung, sesuai kepercayaan yang dianut masa itu, bahwa untuk masuk ke universitas negeri di P. Jawa, kita harus SMA di P. Jawa juga. Lulus SMA ia melanjutkan ke Jurusan Statistik Unpad, tamat tahun 1984 meninggalkan Bandung, masuk milsuk (militer sukarela) TNI-AU dan bertugas di Komando di Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto, sampai sekarang. Tinggalnya pun di Kompleks Pangkalan.

Jumpa Tri, sang istri yang orang Jawa, di Yogya, yang dinikahinya tahun 1988. Istri tercinta sekarang mengajar di SMP-5 Yogya dan telah memberikan 3 orang anak: kembar Laki dan Perempuan dan si bungsu laki yang bernama Yanda, yang diajaknya menemuiku. Yang kembar tahun ini masuk kuliah, sayang aku belum sempat tanya kuliah di mana, sedangkan si bungsu kelas 2 SMA, tapi badannya tinggi tegap mengalahkan bapaknya. Ya, aku tidak menduga bahwa Ucok bisa tetap berbadan langsing. Bayanganku sebagai tentara tentu badannya tegap, malah mungkin cenderung gemuk. Tapi kumisnya masih hitam, sehingga waktu jumpa, spontan dia bilang, ”Kumis kau udah putih, Yu.” Mereka dapat anak kembar karena dari keluarga embahnya Tri ada yang kembar.

Ada yang unik dari si Ucok, tanggal lahirnya beda2 antara di SD, SMP, dan terakhir yang disampaikannya ke aku. Ini terungkap dari Kartika yang membongkar data kita di sekolah. Waktu kutanyakan ke Ucok, dia bilang, ”Aku memang asal isi aja, pokoknya tiap kali dapat formulir yang harus diisi dari sekolah, kuisikan aja semauku.” Yang terakhir dia berikan ke aku dan kumasukkan ke data Ikahar’76 adalah Medan, 5 Agustus 1958 (Mudah2an ini data dari akte kelahiran, Red)

Dia sebetulnya sering ke Jakarta, tapi belum punya cukup waktu untuk jumpa kawan2 di Jakarta. Di Jakarta ada abangnya, Pardomuan (Domu) yang bekerja di Litbang Depdagri Kalibata dan adiknya, Yan, yang jadi pengacara, lulusan FH-USU sama2 Taufik Chandra. Aku juga melacak lokasi Ucok lewat Taufik yang menanyakan ke Yan. Taufik sendiri diketemukan oleh Mala yang memberikan nomor Hpnya ke aku beberapa waktu sebelum Jumpa Kawan Lama Medan di Shangri La Jkt. Waktu acara HUT Emas Cisarua Ucok tidak bisa hadir karena kesibukan sebagai Ketua Panitia HUT Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto. Tapi cerita tentang syukuran itu sudah dia ikuti dari Ikahar76News yang sudah diterimanya.

Yanda (anak ke-3), Ucok, dan Tri – Selasa, 2 Sept 2008

Tag nama yang dipakai Ucok di dadanya adalah “Abdie”, bukan Syafrudin. Tidak langsung kutanya waktu jumpa, tapi aku tetap penasaran sehingga begitu mendarat di Cengkareng aku tanyakan via sms sambil mengabarkan bahwa aku sudah sampai. “Memang Yu, aku di Yogya pakai nama Abdie, bukan Syafrudin apalagi Ucok,” jawabnya. Waduh, jangan2 waktu di bandara Adi Sucipto itu istri dan anaknya untuk pertama kalinya mendengar bapaknya dipanggil Ucok. Waktu bekoyok di sana, aku memang cerita ke istrinya bahwa di angkatan kita ada 3 Syafrudin: Syafrudin Nasution yang sekarang dipanggil Rudi, Syafrudin Bahagia (karena punya rumah makan Padang Bahagia), dan Syafrudin Abdie atau Ucok Abdie. Jadi masing2 ada nama panggilan untuk membedakan satu sama lain.

Begitulah Pak Kolonel kawan kita. Seperti kubilang di awal, lengkap rasanya perjalananku, terima kasih Ucok dan keluarga, kalian datang menjumpaiku di bandara saja sudah lebih dari cukup, apalagi masih sempat2nya membawakan buah tangan buat kubawa ke Jakarta. Salam buat si kembar! (wp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: