Kuda binal itu akhirnya berpelana

Begitu mendapat sms dari kawan di Koran Tempo ada anggota KPPU ditangkap KPK tgl 16/9/08 malam, aku langsung teringat pada tulisanku yang pernah dimuat di Harian Waspada Medan rubrik Universitaria hari Selasa, 26 Januari 1982 (hampir 27 tahun yl) yang berjudul seperti di atas. Tulisan itu kuposting di sini.

Kuda binal itu akhirnya berpelana

Ngotot, bersitegang leher, itu barangkali istilah yang paling tepat untuk gambaran dua “front” yang sedang bertemu di arena pertempuran semu saat ini, Anak Negara dan Bapak Negara. Argumentatif? Ya, keduanya sama punya alibi seperti itu. Cuma saja, asam garam yang sudah membumbui kehidupan para orang tua tentu lebih banyak, katanya. Terlebih orang “tua” yang dulu waktu mudanya juga bersikap macam anak negara yang kita lihat pada saat ini. Mereka kini hampir menjadi Bapak sehingga telah tau persis bagaimana mengambil posisi menghadapi kenakalan anak-anak tersebut. Bisa mulai dibayangkan-bayangkan bagaimana jika nanti beliau sudah benar-benar menjadi Bapak. Kebijaksanaan sepenuhnya di tangan mereka. Putuss asakah kita? Hampir! Trenyuh? Mungkin.

Segala rupa pemrosesan dalam dunia pendidikan tinggi kita sekarang mirip aliran air sungai. Massa yang ada di belakang akan mendorong massa di depannya hingga ia akhirnya menggantikan tempat yang depan. Si depan sendiri mau tak mau menyingkir untuk kemudian termuara ke laut lepas tanpa bisa dicirikan lagi asal maupun usulnya, jenis ataupun kelompoknya. Begitu terus-menerus sepanjang jaman.

Kalaupun idealisme itu memang betul tumbuh di sana, idealisme mengalirlah namanya. Coba iseng-iseng dihitung, berapa banyak Bapak (katakanlah masih menjelang Bapak) yang sudah mulai melaut sekarang, dulunya bekas Anak-anak negara yang beridealisme “teguh”. Tokh keadaan tak berubah menjadi lebih baik seperti yang mereka teriakkan dulu. Di sekitar kita saja perhatikan, Anak yang belum lama berselang ngotot di panggung kampus hingga mesti bergelut juga di riuhnya pengadilan. Belum lagi hilang bau naik bandingnya, kini setelah lulus dan berpeluang pada suatu tawaran menarik, seakan lupa pada peristiwa yang barusan ditinggalkannya. Seakan lupa pada dunia sekelilingnya, pada air yang masih berada di belakangnya. Sungguh ironis, bak kata pepatah datang tampak muka…. tapi pergi tidak tampak punggungnya. Banyak contoh konkrit, rasanya nggak perlulah dipaparkan satu per satu di sini. Kuda binal itu akhirnya berpelana…. Mungkin mereka punya missi tersendiri (missi perubahan terntunya) yang belum mau diungkapkan secepatnya. Akan tetapi kita umumnya hanya bisa menyayangkan bahwa sebelum missi tadi terwujudkan, mereka sudah terlanjur menyatu di laut lepas dengan segala perilakunya.

Tadinya ada pendapat bilang, “… yah, minimal semasa masih di kampuslah, kesempatan kita berbuat….”. Dapatkah hal itu dipertahankan? Begini kisahnya: Terkadang kurang disadari bahwa “ulah” pendahulu-pendahulu tersebut meninggalkan bekas pada adik-adiknya kini, adakalanya berupa parut di permukaan atau mungkin pula berupa luka dalam. Parut mudah-mudahan bisa diobati dengan bebagai obat pemoles ataupun menutupinya dengan kain pembungkus yang apik. Tapi luka dalam ini yang berbahaya! Adik-adiknya (Anak negara juga ‘kan?) yang menjelang, barusan, bahkan yang telah cukup lama berkecimpung di gelanggang ketangkasan berkampus, akhirnya akan melihat realita ini. Medan semakin berat, dan dengan setengah berputus asa ia terpengaruh ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya. “Ah, buat apa aku berkaok sekarang bila nantinya akan larut seperti Bang Anu, Bang X, Bang Y, ….” Nah, kalau sempat itu sudah membayangi semua pikiran mereka, apa jadinya. Iklim demikian akan melahirkan Anak negara yang apatis, segan berbuat dan selalu diganggu dengan cita-cita naif. Situasi bertambah buruk, dinamika kehidupan bernegara meredup, makin samar, dan punah. Sementara itu front Bapak semakin establish. Barrier-barrier yang mereka bikin kian terpasak tegar. Komunikasi putus dan dialog akan merupakan hal yang tabu kecuali jika mau memenuhi aturan main sepihak dan disudahi dengan suatu kompromi.

Kampus-kampus sekarang sepi dari gejolak. Pesta demokrasipun sudah diambang pintu… Anak-anak negara kembali bergelut dalam gelimangnya buku dan bisikan halus tuntutan sanak keluarga. Atau barangkali inilah yang disinyalir oleh seorang rekan kita dari UI di harian Kompas bahwa nilai-nilai kemahasiswaan di bumi pertiwi saat ini sedang (atau sudah?) bergeser. Tak heranlah kita mendengar telah bershasil dirintisnya tatar-menatar di lingkungan mahasiswa. Mungkin memang lebih bagus begitu.

Dalam kebingungan ini pada siapa kita mesti bertanya, betulkah proses pendidikan tinggi yang seperti itu? Apatisme, tentulah bukan cerminan generasi masa datang yang kita harapkan di bumi tercinta Indonesia. Ya Tuhan, semoga kami dijauhkan dari musibah tersebut meski saat ini banyak orang menyorot kami dengan cibiran, “Kuda binal itu akhirnya berpelana…” (wp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: