Jumpa Tuty Purwanto di Bali

MUNGKIN terbawa suasana Reuni Medan yang masih terasa hangat, maka waktu ada kesempatan tugas ke Bali di akhir Februari 2007 lalu, aku telepon Tuty, siapa tahu dia ada waktu untuk berjumpa. Dasar nasib baik, dia datang berkunjung ke tempat acaraku (APRICOT 2007) di BICC Nusa Dua, Bali hari Rabu 28/2/07 siang. Jadilah kami bekoyok di sana sampai 2,5 jam. Kami makan siang sama2 di tempat acaraku, dia agak pilih2 makanan karena katanya sudah lama dia menjadi vegetarian. Tuty masih belum banyak berubah, masih langsing dan masih bergaya tomboi dengan celana jeans dan kaos kuning lengan panjang. Rambut pirang, entah dicat atau bawaan umur aku juga lupa nanya.

Sri Madyastuti atau lebih dikenal dengan panggilan Tuty Purwanto adalah anak ke-3 dari 6 bersaudara anak Pak Purwanto. Siapa yang tidak kenal dengan Pak Purwanto yang Jaksa Tinggi di Medan dulu. Pak Purwanto kini sudah tiada, meninggal tahun 1982 di Solo dan sekarang tinggal Ibu yang tinggal di kompleks Adyaksa, Lebak Bulus Jakarta Selatan, bersama adik Tuty yang terkecil, Deni.

Tuty menikah dengan orang Bali asli dan sekarang menjadi penganut Hindu yang taat. Pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, yang sulung dan yang tengah laki-laki, baru ditutup si bungsu yang cewek. Yang sulung sudah semester 8 di Jurusan Arsitek, nomor 2 sudah semester 3 di Jurusan Perhotelan, dan si bungsu masih kelas 6 SD. Memang terpaut jarak umur yang cukup jauh. “Pengen punya kawan, karena kesepian nggak ada anak kecil,” kata Tuty waktu ditanya kog beda umurnya lumayan jauh. Waktu ditanya suami dinas di mana, Tuty cuma menjawab bahwa rambut suaminya gondrong.

Putri Solo yang dikenal sebagai anak yang tomboi ini, mampir di SMA Harapan cuma 2 tahun, kelas I dan II, lalu pindah sampai tamat di SMA 6 Jakarta Selatan. “Maklum anak jaksa, pindah2 terus, padahal waktu itu masih betah di Medan,” katanya. Saudara kandungnya semua perempuan, kecuali 1 orang laki-laki yang nomor 4. Itu mungkin sebabnya kenapa bawaan Tuty jadi kayak anak laki.Dengan alasan sering pindah sekolah dan sangat singkatnya waktu bersekolah di Harapan, sebagian besar nama maupun wajah kawan2 SMA sudah raib dari ingatan Tuty. Bahkan waktu aku tunjukkan foto kita di halaman rumah Rudi Nst seusai pengajan, Tuty hanya bisa mengingat Linda Anggraini. Tapi ada 1 nama kawan kita di Medan yang paling dia ingat, dan aku sudah berikan nomor telepon kawan kita itu ke Tuty. Dia cerita juga ditelepon Surya, tapi dia akui dia lupa yang mana orangnya. Di foto tadi padahal ada Surya, dia nggak ingat. Kubilang sama dia, “untung aja aku masih kau ingat, Tut.”

Begitulah cerita sekilas tentang kawan kita Tuty Purwanto. Pokoknya kalau sedang di Bali dan butuh kendaraan sewaan, telepon aja Tuty, mobil bisa diantar ke tempat menginap, boleh pilih pakai supir atau mau nyupir sendiri.(wp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: