Operasi katarak (dan BPJS Kesehatan) – Bagian Pertama

Dr. John Freddy, Sp. M, dokter mata RSUD Pasar Minggu yang memeriksa kedua mataku dengan mantap mengatakan bahwa status katarak kedua mataku sudah mencapai Stadium 4 dari 5 tingkat stadium. Sangat disarankan untuk dioperasi karena jarak pandang yang kurang dari 1 meter. Kejadian itu menjelang akhir tahun 2016, tepatnya tanggal Kamis, 29 Desember 2016.

Aku diberi pengantar untuk periksa darah ke laboratiorium RSUD dan diingatkan agar tensi darahku jangan sampai naik lagi, karena sudah batas atas. Hasil pemeriksaan tensi sebanyak 2 kali Kamis pagi itu, di Puskesmas Ragunan dan di RSUD Pasar Minggu memang sangat tinggi, 150/90, sepanjang ingatanku baru kejadian sekali itu. Tanggal 6 November 2016 saat pemeriksaan awal sebelum donor darah di Bekasi pun, kondisinya sangat normal, 120/80.

RS Zahirah

RS Zahirah

Karena hasil pemeriksaan laboratorium semuanya berada dalam range rujukan (kecuali Hb 12,7 g/dL sedikit berada di bawah batas bawah 13,2 g/dL), Jumat pagi esoknya aku kembali ke Poli Mata RSUD dan setelah dilakukan pengukuran lensa, aku dirujuk lagi ke RS. Zahirah, Jl. Sirsak No. 21, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk menjalani operasi katarak. Menurut paramedis yang bertugas di Poli Mata, RSUD Pasar Minggu (yang diresmikan Desember 2015 oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, Red) itu belum dilengkapi dengan peralatan untuk operasi katarak mata.

Menjalani operasi

Rabu, 4 Januari 2017 pukul 22.55-23.05 WIB, aku menjalani operasi katarak mata kananku yang didiagnosa lebih parah dari mata kiri, sehingga dioperasi lebih dulu dari mata kiri. Sepuluh menit, ya sepuluh menit saja operasi sudah selesai dan mata kananku diberi pelindung batok plastik untuk menjaga benturan serta kemungkinan terkucek oleh tangan. Operasi di RS Zahirah dilaksanakan oleh Dokter Andi Elizar Asriyani, Sp.M, M.Kes, alumnus FK Universitas Hasanuddin, Makassar. Dokter ini juga berpraktek di RSUD Pasar Minggu setiap hari di pagi hari.

Pintu masuk RS Zahirah

Pintu masuk RS Zahirah

Operasi yang berlangsung singkat tersebut tanpa pembiusan total, melainkan hanya pembiusan lokal, yaitu di bagian mata yang dioperasi. Dengan begitu, aku masih mendengar dengan jelas semua instruksi yang diberikan dokter, baik kepadaku untuk memperbaiki posisi kepala, maupun instruksi kepada para asisten yang membantunya. Hampir tidak terasa sakit sedikit pun, yang kulihat di mataku seperti cairan yang bergerak menggenangi lensa mata dilatarbelakangi cahaya terang tapi blur berwarna-warni. Katanya teknologinya yang digunakan saat ini adalah dengan melepas lensa mata yang sudah berkatarak dan menggantinya dengan lensa mata yang baru. Tentu saja lensa buatan manusia. Jadi mirip seperti meletakkan contact lens, hanya saja ini secara permanen. Itu sebabnya hanya butuh waktu sekitar 10 menit.

Meski menjelang tengah malam dan aku merupakan pasien ke-31, dokter muda berjilbab yang akan mengoperasiku samar-samar terlihat santai sambil duduk di bangku di sebelah tempat tidur pasien, sesekali mulutnya menggumamkan lagu yang diputar di ruang operasi. Aku bilang samar-samar karena saat itu aku sudah melepas kacamata dan kedua mataku terhalang katarak stadium 4!

Operasi mata kiri tidak boleh dilakukan pada hari yang sama. Sewaktu kontrol mata kanan hari Jumat, 6 Januari 2017 atau 2 hari setelah operasi, aku mendapat jadwal untuk operasi mata yang kiri.  Usai kontrol, pelindung plastik boleh dibuka dan aku bisa melihat dengan sangat jelas dengan mata kananku, bahkan tanpa kacamata minus yang selama puluhan tahun ini aku pakai.

Sesuai yang dijadwalkan, Rabu, 11 Januari 2017 aku kembali menjalani operasi, kali ini mata kiriku. Operasi ditangani oleh dokter ahli mata yang sama di rumah sakit yang sama. Berlangsung sekitar 15 menit, pukul 17.55-18.10 WIB, sedikit lebih lama dari operasi mata kanan seminggu sebelumnya. Kalau minggu lalu mata kananku cukup ditutup batok plastik tanpa perban, untuk mata kiri ini diberi perban dulu sebelum ditutup plastik pelindung. Alhasil aku sama se

Sesaat setelah operasi berselang seminggu

Sesaat setelah operasi, berselang seminggu

kali tidak bisa melihat, apakah hasil operasinya seterang-benderang mata yang kanan atau tidak. Tiap kali dibuka sebentar untuk ditetes, kesempatanku untuk membandingkan hasilnya, dan memang ternyata mata kiri tidak sebaik hasil mata kanan, penglihatannya dobel (ganda). Jumat, 13 Januari 2017 saat kontrol sore hari, sewaktu diperiksa dengan melihat huruf dan angka di layar, memang penglihatan mata kiri jauh di bawah ketajaman penglihatan mata kanan. Sewaktu kulaporkan ke dokter yang mengoperasi dan memeriksaku, beliau hanya mengatakan hasil operasi kedua mataku baik dan aku diminta kontrol kembali 1 (satu) bulan kemudian.

Obat-obat pasca operasi

Obat anti nyeri

Obat anti nyeri

Obat anti peradangan

Obat anti radang

Baik setelah operasi mata kanan maupun kiri, aku langsung diberi obat yang sama yaitu untuk mengatasi radang dan nyeri berupa tablet (Methylprednisolone dan Asam Mefenamat), serta obat tetes 6 kali sehari yaitu Tobroson dan LFX Levogloxacin. Harus langsung ditebus malam harinya supaya esok pagi-pagi bisa langsung diteteskan.

Obat tetes 6 kali sehari

Obat tetes 6x sehari

Pada waktu kontrol 2 hari setelah operasi, diberi tambahan vitamin Vitanorm 40 tablet untuk 40 hari dan obat tetes lanjutan Polynel (Fluorometholone Neomycin) ikannya. Sama halnya obat tetes yang kupakai sesudah ope

obattetes1

Obat tetes 6x sehari

rasi retina mata kiriku dan perawatan kedua matauntuk diteteskan ke kedua mata sebanyak 4 kali sehari. Kalau untuk obat tetes, selalu kulihat nama Cendo sebagai fabrku selama tahun 2003-2014.

Saat kutulis artikel ini, aku sudah kontrol ketiga ke dokter Elizar. Selasa, 14 Februari 2017, sebulan setelah operasi mata yang kedua dan sehari sebelum Pilkada DKI. Sekitar pukul 07.15 WIB aku sudah sampai di RSUD Pasar Minggu untuk mengambil

Obat tetes 4 kali sehari

Obat tetes 4x sehari

nomor antrian. Sewaktu mendaftar di Poli Mata dan diperiksa pendahuluan di Ruang Optometri, paramedis yang memeriksa ketajaman penglihatanku mengatakan bahwa kedua mataku silindris (astigmatisme), yaitu kelainan pada mata yang disebabkan oleh karena lengkung kornea mata yang tidak merata. Kelainan refraksi ini bisa mengenai siapa saja tanpa peduli status sosial, umur dan jenis kelamin. Kalau aku bilangnya bola mataku benjol, karena memang panjang kornea antara horisontal dan vertikal yang tidak sama. Silindris ini berbeda dengan mata minus yang terjadi karena kelengkungan kornea yang lebih pendek serta sumbu bola mata yang terlalu panjang (Sumber: optikmelawai.com.

Silindrisku lumayan tinggi, yang kanan 1,25 dan yang kiri 2,75. Silindris ini rupanya yang membuat mata kiriku dobel kalau melihat

obatvitamin

Vitamin utk mata

objek. Yang kanan yang sepertinya sudah tajam dipakai melihat objek pun ternyata silidris, meskipun lebih rendah. Selain silindris, untuk melihat jarak dekat misalnya membaca, kedua mataku sudah mengalami plus yang cukup tebal yaitu masing-masing 2,75.

Obat tetes 4 kali sehari

Obat tetes 4x sehari.

Saat mendapat giliran sebagai pasien ke-15 yang diperiksa dokter Elizar, dokter tetap mengatakan bahwa kondisi hasil operasi kedua mataku baik, alhamdulillah, meski untuk memperbaiki silindris dan melihat dekat, kedua mataku masih harus dibantu kacamata. Dokter masih memberikan tambahan vitamin Vitanorm 10 tablet dan obat tetes Polynel 4 kali sehari sebanyak 1 botol kecil. Dan benar, ukuran minus yang kualami selama lebih dari 40 tahun tidak ada lagi pada kacamata baru yang mulai kukenakan sejak Senin malam, 20 Februari 2017.

Kebetulankah?

dr. Andi A. Viktor, Sp.M

dr. Andi Arus Viktor, Sp.M

Mungkin sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, urusan mataku ditangani oleh dokter mata yang bernama depan Andi. Tahun 2003 aku menjalani operasi retina mata kiri oleh Dokter Andi Arus Viktor, Sp.M, dokter pria senior ahli retina di RS Aini Prof. DR. Isak Salim, Kuningan, Jakarta Selatan. Dokter ini merawatku sampai bulan Oktober 2014, termasuk 2 tahun terakhirnya merawat katarak mataku agar tidak terlalu cepat menebal. Alhasil pada pemeriksaan terakhir Oktober 2014 itu beliau mengatakan sudah maksimum upayanya dan merujukku ke dokter ahli katarak di RS Aini juga, untuk pemeriksaan lanjutan sampai operasi.

Tanpa disengaja awal tahun 2017 aku ditangani oleh dokter ahli mata bernama awal Andi juga, Dokter Andi Elizar Asriyani, Sp.M, M.Kes. Bedanya yang ini dokter wanita, lebih muda dari dokter ahli retina di atas, namun tidak kalah pengalaman menangani puluhan, bahkan mungkin sudah ratusan pasien yang terkena gangguan katarak. (bersambung ke Bagian Kedua).

Memperpanjang paspor

Tepatnya bukan memperpanjang, melainkan mengganti. Penggantian paspor bisa karena hilang, karena halamannya sudah penuh, atau karena habis masa berlakunya. Pada Formulir Permohonan paspor tidak ada pilihan memperpanjang. Seperti kita ketahui, 6 bulan sebelum masa berlaku, umumnya pemegang paspor sudah tidak diperbolehkan bepergian ke luar negeri. Alhasil memang masa berlaku paspor yang katanya 5 tahun tersebut, prakstis hanya bisa dinikmati selama 4,5 tahun.

Paspor baru, 2017

Paspor baru, 2017

Pasporku akan berakhir bulan Mei 2017, proses penggantiannya aku urus sendiri mulai hari Rabu, 11 Januari 2017. Hari itu aku datang ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan menjelang pukul 11.00 WIB. Langsung ke Bagian Informasi di lantai dasar dan mendapat pemberitahuan bahwa kuota hari itu sudah tercapai sehingga tidak menerima lagi pendaftaran walk-in atau datang langsung. Disarankan untuk datang lagi besok pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Katanya kuota setiap harinya 500 paspor, termasuk pemohon lansia (lanjut usia), walk-in, online, dan 2 kantor cabang lainnya yaitu di ULP Pondok Pinang dan ULP Karang Tengah. Aku disarankan untuk mengambil dan mengisi Formulir Permohonan yang tersedia di lantai 2 terlebih dahulu supaya keesokan harinya sudah lebih siap.

Dimulai dari Subuh

Hari Kamis, 12 Januari 2017 aku datang lagi, pukul 05.00 tepat sudah sampai depan kantor, ternyata benar, antrian sudah panjang di pinggir Jl. Warung Buncit menunggu pintu pagar dibuka. Tidak lama pagar dibuka, barisan masuk 1 baris ke dalam, ditempatkan sementara di samping gedung, sebagian kecil duduk di area yang sehari-hari dipakai untuk tempat merokok, sebagian besarnya mengular di jalan masuk ke tempat parkir. Ada yang berdiri, ada yang jongkok, ada yang yang duduk di lantai begitu saja tanpa alas, demi mempertahankan posisi antrian. Kepada orang sebelah-menyebelah aku bilang bahwa menurut perkiraanku, nomor antrian kita bakal nomor 70-an. Oleh karena masih waktu shalat Subuh, sebagian yang antri meninggalkan antrian untuk shalat dengan menitipkan tempat antriannya ke pemohon di dekatnya. Semuanya berlaku tertib, tidak ada yang berperilaku menyalip atau berusaha menyerobot tempat antrian orang lain.

Lewat pukul 07.30 antrian beringsut bergerak, yang paling depan mulai masuk ke dalam gedung yang sudah dibuka, sebagian lagi bergantian duduk di bangku area merokok. Aku termasuk yang kebagian duduk di situ. Rupanya buntut antrian sudah sampai ke lokasi parkir di basement. Patugas sejak subuh memang sudah bertugas, memastikan barisan teratur, menanyakan satu per satu apakah ada yang berusia lansia atau di atas 60 tahun, berapa paspor yang akan diurus. Pemohon usia lansia langsung dipisahkan dan diarahkan menunggu di dalam gedung. Petugas merujuk pada kuota hari itu, agar tidak melewati. Ada yang bilang, sekitar pukul 06.00 WIB biasanya kuota sudah terpenuhi.

Nama 3 kata

Aku termasuk grup kedua yang memasuki gedung, langsung ke lantai 2 lewat tangga dan setiba di atas barisan dibagi 2 dan di setiap baris sudah siap 1-2 petugas yang memeriksa kelengkapan dokumen asli yang dibawa para pendaftar. Nomor antrian diberikan di meja pendaftaran berikut map seragam berwarna merah yang berisi Formulir Permohonan. Seperti kuperkirakan pada saat antrian di luar, aku mendapat nomor antrian 079 dengan kode angka 2 di depannya yang berarti Pemohon Datang Langsung (Walk-In). Nomor antrianku tertulis 2-079. Mahasiswa di belakangku waktu antrian di luar sudah mendaftar online dan dia mendapat nomor antrian dengan kode 3-xxx. Kalau lansia, difabel, dan batita (bawah tiga tahun) diberi kode 1-xxx, sedangkan antrian pengambilan diberi kode 5-xxx. Bedanya kalau pengambilan baru dimulai pukul 13.00 WIB, sehingga tidak perlu datang dini hari atau waktu subuh. Terakhir kode 6-xxx diperuntukkan bagi pemohon yang ingin mengganti paspor karena hilang/rusak/mengganti data di kolom identitas.

Setelah para pemohon sebagian besar sudah duduk di ruang tunggu di dalam gedung, seorang petugas dengan pengeras suara membimbing pengisian Formulir Permohonan, termasuk memberitahukan bahwa harus menggunakan tinta hitam, tidak boleh warna lain. Kolom demi kolom yang harus diisi dibimbing agar tidak salah mengisi. Karena aku sudah mengisi sebelumnya, aku memanfaatkan penjelasan tersebut untuk memeriksa isianku dan memang ada kolom yang harus dilengkapi, meski kotak-kotak yang disediakan tidak mencukupi.

Diumumkan juga bahwa bagi pemohon yang ingin bepergian ke Saudi Arabia, baik untuk umroh maupun menunaikan ibadah haji, harus memiliki nama yang terdiri dari 3 (tiga) kata. Bagi yang ingin menambahkan kata pada namanya, formulir Surat Pernyataan bisa dibeli di toko Koperasi yang berada di bagian belakang ruang tunggu. Harganya Rp 8.000 termasuk meterai Rp 6.000. Aku memutuskan untuk menambahkan nama kakek di belakang namaku. Untuk pertama kalinya di pasporku ada keterangan penambahan nama.

Beberapa perbedaan

Brosur paspor

Kode nomor antrian dan lamanya waktu pembuatan 3 (tiga) hari kerja.

Panggilan ke meja-meja pelayanan dimulai sekitar pukul 08.20 WIB, diakui terlambat dari biasanya sekitar pukul 07.30. Terdapat 10 meja pelayanan, sehingga dalam setiap 15-20 menit akan selesai 10 pemohon. Dimulai dari pemohon berkode 1-xxx alias lansia/difabel./batita sampai habis kuota 30 pemohon, barulah dipanggil pemohon dengan nomor kode 2-xxx dan 3-xxx secara bergantian. Aku dipanggil sekitar pukul 13.30, setelah istirahat makan siang dan setelah selesai wawancara, pengambilan sidik jari, dan pemotretan, diberikan Bukti Pengantar Pembayaran yang dapat langsung dibayarkan di Bank BRI Cabang Imigrasi Jaksel.

Diberitahukan juga bahwa paspor akan selesai 5 (lima) hari kerja, bukan 3 (hari) kerja seperti tercantum di brosur yang diletakkan di beberapa rak di seputar ruangan. Katanya karena loading sistem yang terlalu berat. Memang selama proses wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari, tiap kali petugasnya terlihat harus berhenti menunggu beberapa saat sampai di layar komputernya terlihat siap lagi untuk melakukan perintah berikutnya.

Surat Pengantar Pembayaran

Bukti Pengantar Pembayaran.

Dalam Bukti Pengantar Pembayaran tercantum biayanya Rp 355.000, Rp 55.000 lebih tinggi dari tarif yang tercantum di brosur. Tambahan biaya tersebut tertera untuk Biaya TI Biometrik. Lagi-lagi berbeda informasi yang dicetak di brosur dengan kenyataannya. Yang juga berbeda adalah tidak diberikannya pilihan jumlah halaman paspor seperti opsi yang terlihat pada brosur. Misalnya jumlah halaman 24 lebih rendah biayanya dibandingkan jumlah halaman 48.

Biaya pembuatan paspor

Biaya pembuatan paspor.

Yang berbeda tapi ke arah positif dari proses 5 tahun yang lalu adalah map merah seragam diberikan secara gratis, tidak harus membeli seperti waktu itu. Lumayalah, meski sangat tidak material, tapi mengurangi kerepotan harus bolak-balik ke toko koperasi. Aku langsung ke Bank BRI di lantai dasar untuk melakukan pembayaran, kebetulan mereka masih buka. Menjelang pukul 14.00 siang urusan tahap I sudah selesai sampai mendapatkan bukti bayar untuk keperluan pengambilan paspor baru.

Paspor baru

Hari Senin siang, 23 Januari 2017 merupakan proses tahap II. Paspor kuambil sesuai jadwal 5 hari kerja lebih 2 hari. Dapat nomor antrian 5-031 kalau tidak salah, menunggu sekitar setengah jam, sebelum pukul 14.00 sudah dipanggil ke loket, menerima paspor baru dan paspor lama, serta membubuhkan paraf di buku ekspedisi penyerahan paspor.

Nama yang terlihat di halaman pemegang paspor tetap 2 kata, namun di halaman Catatan Pengesahan (Endorsements), terdapat catatan Penambahan Nama (Full Name of Bearer). Perbedaan lainnya pada paspor baru ini adalah tidak ada lagi halaman tanda tangan pemegang paspor dan tidak ada legalisasi Kepala Kantor Imigrasi. Di halaman paling belakang paspor lama yang biasanya mencantumkan alamat lengkap domisili pemegang paspor sekarang sudah tidak terlihat lagi.

Selain informasi yang berbeda antara brosur dan kenyataannya, terdapat peningkatan layanan dengan dimungkinkannya melihat status antrian secara online di website Imigrasi halaman Informasi Antrian Layanan Paspor. Pemohon yang antriannya masih jauh, dapat meninggalkan sementara ruang tunggu untuk melakukan keperluan lainnya. Paspor ini juga dapat digunakan untuk naik haji, tidak perlu lagi paspor khusus yang sebelumnya dipersyaratkan. Itu sebabnya diingatkan untuk memakai nama yang terdiri dari 3 (tiga) kata seperti dijelaskan di atas. Sampai pengurusan lagi di tahun 2021 atau 5-6 bulan sebelum habis masa besrlakunya di awal tahun 2022.

Donor darah (lagi)

Piagam donor ke-10

Piagam donor ke-10 selain Pin.

Alhamdulillah aku bisa sampai ke-16 kali mendonorkan darahku, pada hari Minggu, 5 Februari 2017. Tetap di tempat yang sama yaitu di Studio Radio 8EH, Perumahan Taman Juanda, Bekasi Timur. Hari itu bersamaan dengan kali ke-35 RAPI dan Radio 8EH menyelenggarakan bakti sosial (baksos) donor darahnya.

6 tempat tidur

6 tempat tidur yang dioperasikan.

Kali ke-35 ini merupakan kali pertama penyelenggara didukung oleh PMI Kota Bekasi. Sebelumnya selalu bekerja sama dengan PMI DKI Jakarta. Karena lokasinya di Bekasi juga, sebelum pukul 9 pagi, Tim PMI sudah siap melaksanakan kegiatan pengambilan darah. Biasanya pada waktu yang sama masih menunggu datangnya bus PMI DKI.  Bedanya PMI Kota Bekasi hanya menyediakan 6 (enam) tempat tidur dengan 3 petugas, sehingga sedikit lebih lambat aliran antrian pendonornya dibandingkan dengan 8 (delapan) tempat tidur sewaktu didukung oleh PMI DKI.

Pemeriksaan awal

Dokter memeriksa dan menginterview.

Dokter dari PMI Kota Bekasi yang memeriksa setiap calon pendonor cukup ketat dalam pemeriksaannya. Setiap calon ditanyakan apakah sedang mengkonsumsi obat, apakah cukup tidur malam sebelumnya, dan bila tekanan darah (tensi) di atas 130 (normal 120) akan langsung ditolak. Begitu pula ukuran tensi bawahnya, harus 80 maksimum, di atasnya akan langsung ditolak juga. Beberapa calon pendonor terpaksa pulang atau sebelum pulang memeriksakan kesehatannya dulu di tempat pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan penyelenggara.

Suasana donor darah, yg antri dan yg sedang diproses.

Suasana donor darah, yg antri dan yg sedang diproses.

Aku bersyukur kali ini bisa lolos melewati pemeriksaan awal tersebut dengan tensi normal 120/80 dan Hb (hemoglobin) 15. Baru sekali mencapai angka 15, biasanya di bawahnya tapi masih dalam range antara 12,5 dan 17, misalnya 13,8, 14,2. Di bawah 12,5 darah terlalu encer, di atas 17 darah terlalu kental. Mudah-mudahan dengan ketatnya pemeriksaan itu pun, penyelenggara masih berhasil mengumpulkan jumlah kantong plastik darah yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sekitar 100 kantong.

Sambutan pembukaan

Pimpinan Radio 8RH, Bpk. Daddy Waluyo membuka kegiatan donor darah ke-35.

Kenapa aku tetap mendonor di Bekasi Timur, lokasi yang 30-an kilometer jarak sekali jalan dari tempat tinggalku? Ada beberapa alasan sebetulnya. Pertama, supaya jadwal 3 bulanan tetap bisa terjaga; kedua, Radio 8EH dan RAPI telah terbukti bisa rutin mengadakan baksos ini, tidak seperti kegiatan donor darah yang diadakan kalau ada event saja, misalnya kegiatan ulang tahun perusahaan anu, organisasi anu, dsb, yang sifatnya insidentil; ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah, sambil mengenang rekan kami Djasli Djamarus EL77 yang telah mendahului kami, komunitas ITB77. Almarhumlah yang mengenalkan aku dan kawan-kawan dengan lokasi donor darah ini, yang menjadi kediaman rekan kami Daddy Waluyo GL77.

Goodie bag

Goodie bag dari PMI Kota Bekasi

Lentera camping

Lentera camping multi fungsi

Seperti biasa selesai mendonor, setiap pendonor diberikan ucapan terima kasih, baik dari PMI Kota Bekasi, maupun dari penyelenggara. Dari PMI berupa goodie bag merah yang berisi mie instant, susu kotak, orange juice kotak, telur rebus, kue oat berisi almond dan mung bean. Sedangkan souvenir dari penyelenggara berupa lentera berdaya listrik dan solar, bisa buat senter dan lampu penerang saat camping, sekaligus bisa berfungsi sebagai power bank.

Spanduk kolaborasi

Kolaborasi beberapa pihak pada dondar ke-35.

Yang juga memperlihatkan kesungguhan penyelenggara adalah penyediaan pengobatan gratis yang dilayani oleh 6 (enam) dokter. Hal ini dapat terlaksana berkat kerja sama mereka dengan JPKP (Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan) yang sedang merayakan HUT yang ke-2.

Salut buat Radio 8EH dan RAPI Lokal 1 Bekasi Timur. Donor darah berikutnya dijadwalkan pada tanggal 7 Mei 2017, sebelum puasa Ramadhan.

Petugas dondar

Petugas di meja pendaftaran.

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,800 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Kok Djasli?

Ya Allah….kok Djasli?

Sampai Jumat pagi ini sebangun tidur, masih terus saja melintas di kepalaku pertanyaan,”Kok Djasli?” Rasanya masih nggak percaya Djasli sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kita. Apalagi Kamis siang itu (9/1/14), belum genap 1 jam aku dan Yadi MS77 meninggalkan RS TNI-AU Halim, Jakarta Timur waktu mendapatkan SMS dari Ongku EL77 yang mendapat kabar dari Retno EL77 bahwa Djasli sudah pergi.

Pagi ini aku nggak bisa ikut mengantarkan jenazah sahabat kita Djasli ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku harus di kantor karena ada acara dengan seluruh karyawan. Itu sebabnya, Kamis kemarin sore dari menjelang Maghrib aku melayat ke rumahnya dan terus di sana sampai menjelang jam 21.00.

Melihat kerabat dan sahabat2 Djasli yang melayat tadi malam, dari berbagai angkatan, jurusan, juga dari kalangan di luar ITB seperti Wanadri, Usakti, aku akui bagaimana luasnya pergaulan Djasli. Abangnya, Bang Djasmar pun bilang ke aku bahwa dia kaget juga ada kawan seangkatan dia datang melayat, “Rupanya kenal dan bersahabat juga dengan adik saya, Djasli,” katanya.

Djasli waktu banjir di Jakarta Jan 2013

Djasli waktu banjir di Jakarta Januari 2013

Memang Djasli itu istilahku ‘sangat sentral’ di setiap komunitasnya, termasuk di ITB77. Cek aja di event mana yang Djasli nggak nongol dan turun tangan. Bantu korban banjir hayo, bikin gerobak sampah hayo, tanam pohon di Kareumbi hayo, bahkan masih menyempatkan untuk memeriksa ‘status’ tanaman Kareumbi setelah ditanam beberapa bulan sesudahnya.

Aku bilang sama Bang Djasmar (4 tahun di atas Djasli) tadi malam, juga Bang Djasmir (abang yang langsung di atas Djasli), di sebelah ku ada Indra Sofnil EL77 juga, bahwa aku, Indra, dan Djasli dulu satu kelas T yaitu T-11. Aku ingat persis sedang pelajaran Matematika (lupa nama dosennya), dosennya menegor dan marah ke Djasli, mungkin waktu itu dia ngobrol atau bangornya muncul. Dosen marah dan menyuruh Djasli ke luar ruang kuliah. Djasli langsung berkemas dan ngeloyor ke luar. Dan sejak itu tidak pernah dia mengikuti kelas Matematika T-11. Entah ke mana dia. Tapi, setiap kali muncul pengumuman hasil ujian, nilainya selalu A untuk Matematika. Gila juga, kupikir. Termasuk dosennya gila juga rupanya alias fair, tidak lantas mem’black list’ Djasli (atau mungkin juga dia nggak ingat siapa mahasiswa yang dikeluarkannya dari kelas).

Terakhir tahun 2011-2013 aku bersama Anto SI77 dan seluruh kawan2 yang terlibat langsung di kepanitiaan Reuni 35th ITB77, bekerja bersama dengan Djasli sebagai Sekretaris Panitia. Donor Darah di Studio Radio 8EH, Bekasi Timur, tanam pohon di Bukit Kareumbi, Rancaekek, Bandung, adalah 2 diantara program yang digagas dan diwujudkan Djasli. Bahkan sampai Minggu, 12/1/13 lusa, aku masih akan DD alias Donor Darah di 8EH meski jaraknya 30-an km dari rumahku. DD itu kebetulan juga cara Djasli menyingkat namanya yaitu Djasli Djamarus.

Arthur-Djasli-Wahyoe

Djasli (tengah) diapit Arthur TP77 (kiri) dan Wahyoe TI77. “Setelah lari gabung petenis,” katanya.

“Kok Djasli?” Itu yang terus terngiang. Itulah rahasia Illahi. Orang yang mungkin dianggap Allah SWT sudah cukup berbuat, sudah banyak baktinya, sudah berat timbangan baiknya, segera dipanggil-Nya pulang. Keluarganya: Iir dan ketiga anak lelakinya (Sigit FISIP UI 2006, Setra TL-ITB 2007, dan Oksi SMA 14 Kelas 3), juga kita semua, kawan-kawan ITB77, dipisahkan dengan mendadak dari seorang yang sangat sentral ini. Kita semua pun sedang diuji-Nya.

Selamat jalan sahabatku, Djasli Djamarus, jalan dan proses yang kau alami untuk menghadap Sang Khalik sudah sesuai dengan niatmu yang pernah kau sampaikan ke kawan-kawan Wanadri yang tadi malam kudengar, bahwa kalau kau mati, kau ingin cepat prosesnya, tidak mau menyusahkan orang lain.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Aku berdoa semoga almarhum husnul khotimah. Aamiin.

Jakarta, 10 Januari 2014.

(Tulisan ini kubuat untuk mengenang sahabat kami ITB77, Djasli Djamarus EL77 yang meninggalkan kami semua pada hari Kamis, 9/1/14 sekitar pkl. 12.56 WIB di RS TNI-AU, Halim, Jakarta Timur, hanya sekitar 19 jam dari kejadian yang menimpanya Rabu sore menjelang Maghrib sehari sebelumnya. Aku posting pertama kali Jumat pagi di milis ITB77).

Kontrol mata (lagi) ke RS Aini

Setelah hampir 4 tahun tidak kontrol (terakhir tgl 20 Maret 2010), hari Kamis, 19 Desember 2013 aku kontrol mata lagi ke RS Mata Prof.DR. Isak Salim ‘Aini’ di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Masih tetap ke dokter yang sama yaitu dokter Andi Arus Viktor, ahli retina yang menanganiku sejak operasi retina tahun 2003. Tidak terasa sudah 10 tahun lebih aku berobat di sana, meski beberapa tahun belakangan tidak rutin. Tiap hari Kamis dokter Andi praktek pkl. 16.00-18.00. Selain Kamis, juga praktek tiap hari Rabu sore pada waktu yang sama.

Setelah mendaftar sebelum pkl. 16.00, langsung menunggu di depan Ruang Refraksi. Aku mendapat nomor urut 8 pada sore hari itu. Tidak lama menunggu dipanggil ke dalam untuk menjalani pemeriksaan tekanan mata (dengan meniupkan angin bertekanan tertentu), yang kedua pemeriksaan yang lupa tidak kutanyakan jenisnya, tapi kita diminta untuk melihat satu titik terang di tengah, baik kiri maupun kanan. Terakhir diperiksa ketajaman penglihatan. Di bagian ini aku tanyakan hasilnya bahwa mata kiriku yang dulu dioperasi bertambah minusnya dengan 2 sehingga menjadi -8, sedangkan yang kanan minusnya tetap -4. Cacat silinder juga ada baik di kiri maupun kanan dengan silindris 2 dan 1 (kalau tidak salah ingat).

Keluar dari Ruang Refraksi diminta menunggu di depan Ruang 6, tempat dokter Andi praktek. Sekitar pkl. 16.15 mata ditetes kiri kanan dengan 2 macam obat tetes untuk membuka lensa/kornea mata(?). Terasa perih sekitar 2 menit pertama, namun sesudahnya biasa saja. Pandangan kita makin lama makin kabur, pertanda lensa/kornea mata makin terbuka, siap untuk diperiksa. Persis 1 jam setelah ditetes, pkl. 17.15 aku dipanggil masuk ke dalam menemui dokter. (Note: Itu sebabnya setelah ditetes seperti ini sebaiknya tidak membawa kendaraan sendiri).

Dokter masih ingat bahwa aku sudah lama sekali tidak kontrol. Ia pun memastikan pada catatan medical recordku waktu aku bilang bahwa terakhir periksa Maret 2010, hampir 4 tahun yang lalu. Mataku diperiksa seperti biasa yaitu dengan menyorotkan lampu yang sangat silau ke mataku. Masing-masing mata diperiksa dengan teliti dengan diminta melihat ke kanan atas, kiri atas, kanan bawah, kiri bawah, dan lurus ke depan.

Hasil pemeriksaan cukup menggembirakan hatiku. Pertama dokter bilang bahwa dengan rentang waktu yang terbilang panjang yaitu hampir 4 tahun, pertambahan ketebalan katarak di mataku bisa dikatakan sangat sedikit. Yang kedua, beliau bilang bahwa meski minus bertambah dengan 2, masih belum perlu ganti kacamata. Kedua rekomendasi itu yang memang kutunggu, meski kuakui bahwa untuk melihat teks di televisi berjarak sekitar 4 meter sudah tidak begitu jelas.

Akhir pemeriksaan yang hanya berlangsung kurang dari 5 menit itu aku diberi  2 macam obat tetes: Cenfresh yang sama seperti pemeriksaan terakhir, yang harus diteteskan 6 kali sehari dan Kary Uni yang kubaca di labelnya untuk katarak karena usia, yang harus diteteskan 3 kali sehari. Jarak waktu penetesan kedua macam obat tersebut berselang 5 menit. Aku diberi resep yang dapat diulang sebanyak 2 kali dalam waktu 3 bulan, saat aku diharuskan kontrol kembali ke dokter.

Pada label Cenfresh terbaca tulisan carboxymethylcellulose sodium, jenis kemasannya minidose, terdiri dari 5 tabung plastik kecil masing-masing 0,6 ml, buatan pabrik obat Cendo Bandung. Aku diberi 3 minidose yang berarti total 15 tabung. Tiap tabung cukup untuk sehari untuk kedua mata, sehingga resep pertama itu cukup untuk 15 hari. Fungsinya untuk membantu menambah cairan mata agar tetap segar. Sedangkan Kary Uni berupa 1 botol kecil, tertera tulisan opthalmic suspension di bawah tulisan Kary Uni. Di bagian paling atas petunjuk pemakaian tertulis ‘opthalmic preparation for senile cataract’.

Aku bersyukur dengan hasil pemeriksaan ini dan selalu berdoa agar kondisi mataku masih tetap dapat ditingkatkan maksimal atau setidaknya dipertahankan untuk tidak semakin memburuk. Begitu pula dokter Andi yang usianya pun sudah bertambah 10 tahun sejak mengoperasi mataku, semoga masih tetap akurat pemeriksaannya dan makin matang keahliannya.***

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,600 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Previous Older Entries