2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,800 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Kok Djasli?

Ya Allah….kok Djasli?

Sampai Jumat pagi ini sebangun tidur, masih terus saja melintas di kepalaku pertanyaan,”Kok Djasli?” Rasanya masih nggak percaya Djasli sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kita. Apalagi Kamis siang itu (9/1/14), belum genap 1 jam aku dan Yadi MS77 meninggalkan RS TNI-AU Halim, Jakarta Timur waktu mendapatkan SMS dari Ongku EL77 yang mendapat kabar dari Retno EL77 bahwa Djasli sudah pergi.

Pagi ini aku nggak bisa ikut mengantarkan jenazah sahabat kita Djasli ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku harus di kantor karena ada acara dengan seluruh karyawan. Itu sebabnya, Kamis kemarin sore dari menjelang Maghrib aku melayat ke rumahnya dan terus di sana sampai menjelang jam 21.00.

Melihat kerabat dan sahabat2 Djasli yang melayat tadi malam, dari berbagai angkatan, jurusan, juga dari kalangan di luar ITB seperti Wanadri, Usakti, aku akui bagaimana luasnya pergaulan Djasli. Abangnya, Bang Djasmar pun bilang ke aku bahwa dia kaget juga ada kawan seangkatan dia datang melayat, “Rupanya kenal dan bersahabat juga dengan adik saya, Djasli,” katanya.

Djasli waktu banjir di Jakarta Jan 2013

Djasli waktu banjir di Jakarta Januari 2013

Memang Djasli itu istilahku ‘sangat sentral’ di setiap komunitasnya, termasuk di ITB77. Cek aja di event mana yang Djasli nggak nongol dan turun tangan. Bantu korban banjir hayo, bikin gerobak sampah hayo, tanam pohon di Kareumbi hayo, bahkan masih menyempatkan untuk memeriksa ‘status’ tanaman Kareumbi setelah ditanam beberapa bulan sesudahnya.

Aku bilang sama Bang Djasmar (4 tahun di atas Djasli) tadi malam, juga Bang Djasmir (abang yang langsung di atas Djasli), di sebelah ku ada Indra Sofnil EL77 juga, bahwa aku, Indra, dan Djasli dulu satu kelas T yaitu T-11. Aku ingat persis sedang pelajaran Matematika (lupa nama dosennya), dosennya menegor dan marah ke Djasli, mungkin waktu itu dia ngobrol atau bangornya muncul. Dosen marah dan menyuruh Djasli ke luar ruang kuliah. Djasli langsung berkemas dan ngeloyor ke luar. Dan sejak itu tidak pernah dia mengikuti kelas Matematika T-11. Entah ke mana dia. Tapi, setiap kali muncul pengumuman hasil ujian, nilainya selalu A untuk Matematika. Gila juga, kupikir. Termasuk dosennya gila juga rupanya alias fair, tidak lantas mem’black list’ Djasli (atau mungkin juga dia nggak ingat siapa mahasiswa yang dikeluarkannya dari kelas).

Terakhir tahun 2011-2013 aku bersama Anto SI77 dan seluruh kawan2 yang terlibat langsung di kepanitiaan Reuni 35th ITB77, bekerja bersama dengan Djasli sebagai Sekretaris Panitia. Donor Darah di Studio Radio 8EH, Bekasi Timur, tanam pohon di Bukit Kareumbi, Rancaekek, Bandung, adalah 2 diantara program yang digagas dan diwujudkan Djasli. Bahkan sampai Minggu, 12/1/13 lusa, aku masih akan DD alias Donor Darah di 8EH meski jaraknya 30-an km dari rumahku. DD itu kebetulan juga cara Djasli menyingkat namanya yaitu Djasli Djamarus.

Arthur-Djasli-Wahyoe

Djasli (tengah) diapit Arthur TP77 (kiri) dan Wahyoe TI77. “Setelah lari gabung petenis,” katanya.

“Kok Djasli?” Itu yang terus terngiang. Itulah rahasia Illahi. Orang yang mungkin dianggap Allah SWT sudah cukup berbuat, sudah banyak baktinya, sudah berat timbangan baiknya, segera dipanggil-Nya pulang. Keluarganya: Iir dan ketiga anak lelakinya (Sigit FISIP UI 2006, Setra TL-ITB 2007, dan Oksi SMA 14 Kelas 3), juga kita semua, kawan-kawan ITB77, dipisahkan dengan mendadak dari seorang yang sangat sentral ini. Kita semua pun sedang diuji-Nya.

Selamat jalan sahabatku, Djasli Djamarus, jalan dan proses yang kau alami untuk menghadap Sang Khalik sudah sesuai dengan niatmu yang pernah kau sampaikan ke kawan-kawan Wanadri yang tadi malam kudengar, bahwa kalau kau mati, kau ingin cepat prosesnya, tidak mau menyusahkan orang lain.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Aku berdoa semoga almarhum khusnul khotimah. Aamiin.

Jakarta, 10 Januari 2014.

(Tulisan ini kubuat untuk mengenang sahabat kami ITB77, Djasli Djamarus EL77 yang meninggalkan kami semua pada hari Kamis, 9/1/14 sekitar pkl. 12.56 WIB di RS TNI-AU, Halim, Jakarta Timur, hanya sekitar 19 jam dari kejadian yang menimpanya Rabu sore menjelang Maghrib sehari sebelumnya. Aku posting pertama kali Jumat pagi di milis ITB77).

Kontrol mata (lagi) ke RS Aini

Setelah hampir 4 tahun tidak kontrol (terakhir tgl 20 Maret 2010), hari Kamis, 19 Desember 2013 aku kontrol mata lagi ke RS Mata Prof.DR. Isak Salim ‘Aini’ di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Masih tetap ke dokter yang sama yaitu dokter Andi Arus Viktor, ahli retina yang menanganiku sejak operasi retina tahun 2003. Tidak terasa sudah 10 tahun lebih aku berobat di sana, meski beberapa tahun belakangan tidak rutin. Tiap hari Kamis dokter Andi praktek pkl. 16.00-18.00. Selain Kamis, juga praktek tiap hari Rabu sore pada waktu yang sama.

Setelah mendaftar sebelum pkl. 16.00, langsung menunggu di depan Ruang Refraksi. Aku mendapat nomor urut 8 pada sore hari itu. Tidak lama menunggu dipanggil ke dalam untuk menjalani pemeriksaan tekanan mata (dengan meniupkan angin bertekanan tertentu), yang kedua pemeriksaan yang lupa tidak kutanyakan jenisnya, tapi kita diminta untuk melihat satu titik terang di tengah, baik kiri maupun kanan. Terakhir diperiksa ketajaman penglihatan. Di bagian ini aku tanyakan hasilnya bahwa mata kiriku yang dulu dioperasi bertambah minusnya dengan 2 sehingga menjadi -8, sedangkan yang kanan minusnya tetap -4. Cacat silinder juga ada baik di kiri maupun kanan dengan silindris 2 dan 1 (kalau tidak salah ingat).

Keluar dari Ruang Refraksi diminta menunggu di depan Ruang 6, tempat dokter Andi praktek. Sekitar pkl. 16.15 mata ditetes kiri kanan dengan 2 macam obat tetes untuk membuka lensa/kornea mata(?). Terasa perih sekitar 2 menit pertama, namun sesudahnya biasa saja. Pandangan kita makin lama makin kabur, pertanda lensa/kornea mata makin terbuka, siap untuk diperiksa. Persis 1 jam setelah ditetes, pkl. 17.15 aku dipanggil masuk ke dalam menemui dokter. (Note: Itu sebabnya setelah ditetes seperti ini sebaiknya tidak membawa kendaraan sendiri).

Dokter masih ingat bahwa aku sudah lama sekali tidak kontrol. Ia pun memastikan pada catatan medical recordku waktu aku bilang bahwa terakhir periksa Maret 2010, hampir 4 tahun yang lalu. Mataku diperiksa seperti biasa yaitu dengan menyorotkan lampu yang sangat silau ke mataku. Masing-masing mata diperiksa dengan teliti dengan diminta melihat ke kanan atas, kiri atas, kanan bawah, kiri bawah, dan lurus ke depan.

Hasil pemeriksaan cukup menggembirakan hatiku. Pertama dokter bilang bahwa dengan rentang waktu yang terbilang panjang yaitu hampir 4 tahun, pertambahan ketebalan katarak di mataku bisa dikatakan sangat sedikit. Yang kedua, beliau bilang bahwa meski minus bertambah dengan 2, masih belum perlu ganti kacamata. Kedua rekomendasi itu yang memang kutunggu, meski kuakui bahwa untuk melihat teks di televisi berjarak sekitar 4 meter sudah tidak begitu jelas.

Akhir pemeriksaan yang hanya berlangsung kurang dari 5 menit itu aku diberi  2 macam obat tetes: Cenfresh yang sama seperti pemeriksaan terakhir, yang harus diteteskan 6 kali sehari dan Kary Uni yang kubaca di labelnya untuk katarak karena usia, yang harus diteteskan 3 kali sehari. Jarak waktu penetesan kedua macam obat tersebut berselang 5 menit. Aku diberi resep yang dapat diulang sebanyak 2 kali dalam waktu 3 bulan, saat aku diharuskan kontrol kembali ke dokter.

Pada label Cenfresh terbaca tulisan carboxymethylcellulose sodium, jenis kemasannya minidose, terdiri dari 5 tabung plastik kecil masing-masing 0,6 ml, buatan pabrik obat Cendo Bandung. Aku diberi 3 minidose yang berarti total 15 tabung. Tiap tabung cukup untuk sehari untuk kedua mata, sehingga resep pertama itu cukup untuk 15 hari. Fungsinya untuk membantu menambah cairan mata agar tetap segar. Sedangkan Kary Uni berupa 1 botol kecil, tertera tulisan opthalmic suspension di bawah tulisan Kary Uni. Di bagian paling atas petunjuk pemakaian tertulis ‘opthalmic preparation for senile cataract’.

Aku bersyukur dengan hasil pemeriksaan ini dan selalu berdoa agar kondisi mataku masih tetap dapat ditingkatkan maksimal atau setidaknya dipertahankan untuk tidak semakin memburuk. Begitu pula dokter Andi yang usianya pun sudah bertambah 10 tahun sejak mengoperasi mataku, semoga masih tetap akurat pemeriksaannya dan makin matang keahliannya.***

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,600 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Fun Walk IKA-PPM 2013

Peserta menjalang start

Menjelang start di Pos-1. Latar belakang Gedung PPM (lama).

Penglepasan balon dengan banner Fun Walk IKA-PPM

Penglepasan balon dengan banner Fun Walk IKA-PPM

Fun Walk IKA-PPM bersama Keluaga Besar PPM sudah berlangsung hari Minggu, 30 Juni 2013. Terlepas dari segala kekurangannya, acara besar pertama dari Pengurus IKA-PPM 2013-2016 di bawah nakhoda Pak Agung Adi Prasetyo (WM8), berjalan dengan lancar, sukses, dan meriah.

Menurut laporan Panitia yang disampaikan tgl 18/7/13, jumlah peserta mencapai 800-an, terdiri dari 140 lebih Alumni dan keluarga, ditambah 600 lebih Karyawan dan keluarga.

Acara dimulai sejak pagi hari dengan registrasi, pembagian kaos/topi/snack/kupon door prize, sambutan, dan penglepasan balon ke udara. Rombongan peserta pertama dilepas sekitar pkl. 07.15 dari Pos-1 yaitu pintu PPM yang menghadap ke Tugu Tani, Jl. Menteng Raya No. 9, Jakarta Pusat. Sebelum berangkat seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Cucuku Kei yg balita pun tak mau ketinggalan.

Cucuku Arasy Keiichiro pun tak mau ketinggalan.

Start rombongan pertama.

Start rombongan pertama.

Peserta memakai seragam putih kombinasi kerah dan lengan warna merah, dengan topi kuning yang warnanya menyala. Dari yang dewasa sampai balita yang masih  menggunakan stroller (dorongan bayi) turut meramaikan fun walk. Jarak yang ditempuh sekitar 6 km dengan rute Menteng Raya, Yusuf Adiwinata, Imam Bonjol, Bund HI, Thamrin, Bund Bank Indnesia/Air Mancur, Thamrin, Keboh Sirih, dan kembali ke PPM. Titik Finish sama dengan titik Start yaitu di pintu PPM yang sekarang menjadi pintu keluar kendaraan. Selain polisi, peserta juga dikawal dengan petugas bersepeda yang bertindak sebagai marshall atau bike protocoler yang menunjukkan rute, membantu peserta menyeberang jalan sebelum memasuki wilayah car-free day, juga menjadi penyapu (sweeper) barisan peserta paling akhir.

Bersama jejeran pasangan ondel2 di Jl. Thamrin.

Bersama jejeran pasangan ondel2 di Jl. Thamrin.

Foto di Bund HI jangan dilewatkan.

Foto di Bund HI jangan dilewatkan.

Rute yang dilalui, khususnya di Jl. Sudirman-Jl. Thamrin, bertepatan dengan hari bebas kendaraan bermotor (car-free day) sehingga ramai sekali kegiatan di sana. Peserta fun walk berbaur dengan peserta rombongan lain terutama di Bundaran HI, tempat strategis yang tidak boleh dilewatkan untuk berfoto bersama. Di Bundaran HI juga beberapa mahasiswi Universitas Trisakti membagi-bagikan bibit pohon kepada siapa saja yang lewat di sana. Menimbulkan kelucuan juga saat ditanya bibit tanaman apa si mahasiswi tidak bisa menjawab.  Di sepanjang pinggiran Jl. Thamrin berjejer puluhan pasang ondel2 yang sedang diperlombakan dalam rangka HUT DKI ke-486. Di Jl. Thamrin ini pula terletak Pos-3, tempat para peserta fun walk memasukkan kupon door prize ke kotak yang sudah disediakan Panitia. Sebagian peserta kabarnya melewati Pos-3 ini tanpa memperhatikan adanya kotak door prize tsb.

Tenda aneka makanan dan minuman di depan Gedung B PPM.

Tenda stand aneka makanan dan minuman di depan Gedung B PPM.

Pkl. 09.15 peserta mulai mencapai garis finish, langsung diarahkan ke arena panggung di depan Gedung B(aru) PPM, di mana berjejer stand makanan di seputar arena. Aneka makanan disediakan diantaranya pempek, bakso malang, bebek goreng, KFC, minuman segar dlsb, yang dapat dibeli dengan kupon makanan. Sedangkan di panggung para peserta disuguhi dengan berbagai acara seperti paduan suara SMB, stand up comedy, permainan, dan door prize. Bagi yang ingin berfoto sudah disediakan juga photo booth, mendapatkan foto langsung-jadi secara gratis.

Anak dan cucuku yang masih di Jl. Thamrin, saat peserta lainnya sudah finish.

Anak dan cucuku yang masih di Jl. Thamrin, saat peserta lainnya sudah finish.

Yang tidak kalah menarik, saat rombongan pertama tiba, disambut oleh Pak AIS (Andi Ilham Said), Direktur Utama PPM, yang naik Sisingaan (asal kata: singa), salah satu kesenian Sunda yang sering dipakai untuk meramaikan acara.

Penggabungan acara dengan Karyawan PPM ini karena sekaligus memeriahkan HUT PPM ke-46 yang jatuh beberapa hari lagi yaitu tgl 3 Juli 2013. Itu sebabnya panitianya pun gabungan antara IKA dan HIKA. IKA dari Ikatan Alumni dan HIKA dari Himpunan Karyawan.

Bersama kawan seangkatan WM14, Amar Rasyad dan istri.

Bersama kawan seangkatan WM14, Amar Rasyad dan istri.

Acara ditutup sekitar pkl. 13.30 dengan ucapan puji syukur karena dari awal hingga akhir hari tetap cerah. Semoga memberi kesan manis bagi para peserta yang ikut langsung, maupun yang turut mendoakan dari jauh karena berhalangan hadir. Bagi yang masih semangat, pada waktu itu langsung ke Merdeka Barat atau Thamrin untuk menonton karnaval HUT DKI ke-486 yang dimulai pkl. 15.00.

Foto Ketua Panitia usai paparan laporan.

Ki-ka: Indra Kewo, Hary Kintarso, Asmi, Nirma C. Diaz, Bramantyo, dan Syamsir Srg, usai paparan laporan Panitia Fun Walk 2013.

Dalam liputan ini terlihat beberapa foto jepretan fotografer amatir WP (WM14). Yang lengkap dan lebih bagus tentunya ada di fotografer resmi Panitia, dapat ditanyakan pada Pak Ketua Panitia yang sudah berhasil melaksanakan tugasnya yaitu Indra Karya Marcello Kewo (SMB-R3) <indra.kewo@gmail.com> atau Sekretariat IKA-PPM Sdri. Asmi Soemotanojo <asmi.ikappm@gmail.com>.

Kegiatan berikutnya yang akan diadakan tahun ini adalah Turnamen Golf Exepreneur yang rencananya akan berlangsung hari Kamis, 14 Nov 2013 di Pantai Indah Kapuk.

Bravo IKA-PPM, Bravo PPM-Manajemen!

(Peliput: Wahyoe Prawoto – WM14, salah satu peserta merangkap Panitia yang membawa rombongan 6,5 peserta Fun Walk)

Pengaturan lalin yang aneh

Jalur busway di Jl. Buncit dipenuhi motor.

Jalur busway, riwayatmu kini…

Jalur busway di Jakarta seolah tidak akan pernah steril. Tidak perlu kucing-kucingan dengan polisi, bahkan seperti direstui oleh polisi. Coba anda tiap pagi melewati Jl. Buncit ke arah perempatan Mampang, silahkan saksikan bagaimana jalur busway penuh dengan motor, tidak jarang juga disisipi oleh mobil pribadi. Panjang deretan motor tersebut bisa sampai 500 meter sebelum perempatan Mampang. Ini koridor busway yang dari Ragunan ke arah Manggarai via Buncit-Kuningan.

Perempatan Mampang

Di perempatan Mampang menghalangi yang akan belok ke kanan.

Yang menyesakkan adalah kendaraan yang akan membelok ke kanan ke arah Trans TV atau Pancoran, seringkali tidak kebagian waktu lampu hijau karena terhalang oleh motor dari jalur busway yang akan terus ke Kuningan. Waktu untuk belok kanan hanya diberi 48 detik, yang saat tulisan ini dibuat sudah diperpanjang menjadi 76 detik. Tidak jarang yang akan membelok ke kanan harus menunggu gilrian lampu hijau berikutnya.

Apa yang diperbuat polisi? Pura-pura tidak melihat atau hanya melihat dari kejauhan, tanpa membantu menghentikan motor-motor dari jalur busway. Bahkan pernah suatu ketika, seorang polisi berada di jalur busway tersebut dan menyuruh motor dan mobil yang di jalur busway untuk jalan terus. Hilang kesabaranku, aku buka kaca mobil dan berteriak ke Pak Polisi untuk segera menghentikan kendaraan yang dari jalur busway, bukannya malah menyuruh mereka jalan.

Masuk ke jalur busway

Berebut masuk ke jalur busway dgn bebas merdeka.

Hal aneh lainnya, ruas jalur busway dari Pejaten sampai perempatan terakhir sebelum Mampang (perempatan 7 Eleven/Mampang Prapatan VII), disterilkan oleh polisi, bahkan kadang-kadang sampai lebih dari 1 orang polisi menjaga dan menilang motor dan mobil pribadi yang masuk ke jalur busway. Tapi ruas jalan dari perempatan Mampang Prapatan VII/Seven Eleven, motor bebas merdeka masuk ke jalur busway.

Soal ini pernah juga ku-upload di Youtube dengan judul “Jalur busway riwayatmu kini”. Bagaimana di jalur busway koridor lain?

Donor darah

Jajaran tempat tidur donor

8 tempat tidur disiapkan untuk para pendonor.

Sebagian besar orang pasti tidak percaya kalau aku bilang bahwa aku baru saja jadi pendonor darah. Ya, baru setahun terakhir, setelah usia di atas setengah abad. Minggu pagi, 6 Januari 2013 merupakan kali ke-4 aku mendonorkan darahku. Lokasi donor darah bukanlah dekat dari rumah di Jaksel, melainkan di Bekasi Timur, tepatnya di Studio Radio 8EH yang juga Sekretariat RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Lokal 1, Perumahan Taman Juanda Blok F-8, Duren Jaya, Bekasi Timur. Studio 8EH itu milik kawanku seangkatan, sesama ITB77, Daddy Waluyo dari jurusan Geologi. Sebelumnya Radio 8EH itu radionya mahasiswa ITB yang studionya pun di dalam Kampus ITB, Jl. Ganesha 10, Bandung.

Awal pertama kali donor darah karena mengikuti salah satu dari rangkaian kegiatan Reuni 35 tahun ITB77 tahun 2012. Waktu itu hari Minggu, 8 Januari 2012, bersama sekitar 30 kawan2 dari ITB77 berbagai jurusan. Lokasinya sama, di Radio 8EH. Sebagian diantara kawan2 yang hadir ternyata tidak dapat mewujudkan keinginannya berbagi dalam kegiatan “ITB77 untuk Masyarakat” karena setelah dicek kondisi darahnya tidak memenuhi syarat.

Pemeriksaan Hb dan Tensi

Pemeriksaan Hb dan Tensi, harus 12,5-17 (8/1/12).

Pertama kali datang, setelah mengisi formulir pendaftaran, darah kita akan diambil sedikit untuk diperiksa. Diambil dari salah satu jari dengan tusukan jarum kecil dan dicek dengan alat yang menunjukkan berapa Hb atau Hgb (Haemoglobin). Katanya Hb menunjukkan tingkat kekentalan darah yang harus berada diantara angka 12,5 dan 17. Makin kecil angkanya makin encer dan makin besar berarti makin kental darahnya. Hb-ku selalu berada di angka 14, sehingga lolos saringan pertama. Istriku, Lita, yang juga baru pertama kali mendonor saat kegiatan reuni itu, lolos juga, tapi saat donor kedua tgl 8 April 2012, Hb-nya 12, hanya kurang 0,5, tidak diizinkan mendonor.

Wajah tegang karena takut

Istriku menertawai wajah ketakutanku (8/1/12).

Pemeriksaan kedua adalah tensi atau tekanan darah. Ukuran normal adalah 120/80, sehingga pendonor harus berada dalam rentang (range) tsb. Aku waktu pertama agak di atasnya sedikit, 130/90, tapi masih dibolehkan. Rupanya aku agak tegang waktu itu karena baru untuk pertama kalinya akan jadi pendonor. Aku paling takut melihat darah, lalu membayangkan sakitnya disuntik, membayangkan nanti pusing setelah darah diambil dst. Kekuatiran2 itu nampaknya yang membuat aku agak tegang dan tensi lebih tinggi dari normal. Sampai sekarang pun aku tidak pernah berani melihat apa yang dilakukan petugas pengambil darah, apalagi melihat darahnya. Setelah donor ke-2 kali dst sudah lebih santai, justru rasa deg-degan muncul karena takut tidak lolos persyaratan.

Setelah berat badan kita mencapai 45 kg, kita rupanya sudah boleh mendonorkan darah. Tentu harus sehat, tidak sedang mengkonsumsi obat, tidak juga dari keturunan yang memiliki penyakit yang tidak diperbolehkan menjadi pendonor. Lalu syarat Hb dan tekanan darah seperti yang sudah disebut di atas. Kalau kita belum pernah menjadi pendonor, maka selama usia belum  mencapai atau pas 55 tahun, masih diperbolehkan. Setelah lewat 55 tahun sudah tidak boleh. Umurku ternyata nyaris batas. Sebaliknya kalau kita sudah menjadi pendonor, maka masih terus diperbolehkan sampai usia 65 tahun. “Di atas 65 tahun, silahkan darahnya dipakai sendiri, Pak,” kata petugas yang aku tanyai.

Sudah lebih santai

Setelah kali ke-4, sudah lebih santai

Jarak waktunya paling cepat 3 bulan dan darah yang diambil 3 ukuran, 250 cc, 350, dan 450 cc, tergantung pada berat badan dan kondisi pendonor. Aku selalu diambil 350 cc dalam 4 kali donor ini. Beratku 64 kg. Waktunya sekitar 10 menit untuk jumlah darah 350 cc tsb. Darah dimasukkan dalam kantong plastik dan diberi label a.l. golongan darah, nama pendonor, dll.

Sakitkah? Yang namanya disuntik pastilah ada rasa sakitnya, namun hanya sebentar yaitu saat kita diminta mengepalkan tinju dan jarum suntik dimasukkan ke lengan. Setelah itu sekitar 1 menit ada rasa pegal lalu hilang. Muncul sakit lagi sedikit saat jarum dicabut sembari diminta menarik nafas panjang. Selesailah prosesnya dan lengan diminta untuk diangkat ke atas beberapa saat sambil bangkit dari tidur.

Extra fooding usai 'disedot'

Makanan tambahan setelah darah diambil (susu, mie, dan kapsul penambah darah).

Para pendonor diminta untuk mengambil kembali kartu donor dan makanan tambahan (extra fooding) seperti mie instan, susu, telor rebus, dan kapsul penambah darah (Hufabion) sebanyak 5 butir untuk 5 hari. Dan saat beranjak pulang, setiap pendonor diberi souvenir sebagai tanda terima kasih. Minggu pagi ini berupa payung atau termos, 3 bulan yl pupuk tanaman, pernah juga senter. Bagi yang sudah 10 kali mendonor diberi sertifikat, begitu seterusnya bila sudah mencapai kelipatan tertentu.

Anakku Gisa, Djasli dan istri

Anakku Gisa (kiri) kuajak jadi pendonor mendatang. Bersama kawanku Djasli (EL77) dan istri.

Kegiatan donor darah yang resmi dari PMI Bekasi ini merupakan bakti sosial RAPI setiap 3 bulanan dan kegiatan Minggu pagi ini sudah yang ke-19 kalinya. Tidak kurang dari 8 tempat tidur disiapkan dalam setiap kali kegiatan. Setiap 2 tempat tidur ditangani oleh 1 petugas PMI. Salut untuk RAPI Lokal 1 Bekasi dan Radio 8 EH dan aku senang bisa ikut 4 kali diantaranya. Sambil kegiatan berjalan, di radio dengan gelombang 104.00 FM, itu disiarkan langsung kegiatan yang rata2 menghasilkan 80-90 kantong darah tsb. Kali ini aku ajak anak bungsuku, Gisa, untuk melihat dulu dan mengajak dia mendonorkan darahnya tgl 14 April 2013 yad.

Previous Older Entries