Weblog Wahyoe Prawoto

Terminal Kristalisasi Permenungan dan Liputan

Archive for the ‘Liputan’ Category

Rusdani

Posted by wprawoto77 on January 12, 2011

RusdaniSedang hangat dibicarakan di milis Ikahar76, aku tanpa sengaja jumpa sama Rusdani, kawan kita yang sekarang mukim di Medan, bekerja di PT PP (Pembangunan Perumahan) dan sedang mengerjakan proyek di Aceh. Jumpanya di acara ngunduh mantunya Sebastian Dja’afar (Ikahar75), Hadistian Muhammad Kahfi (Kahfi) dengan Rizka Anneiza (Nieza), pada hari Minggu, 9/1/11 di Aula Kemtan (dulu Deptan), Jakarta Selatan.

Rusdani datang sekeluarga lengkap dengan istri dan 1 anak perempuan. Anaknya waktu SD di Harapan, setelah SMP pindah ke SMP 1 Medan, sekarang duduk di Kelas 1. Selama proyek di Aceh, keluarga tetap tinggal di Medan. Dani juga bawa 2 dari 3 anak abangnya, Almarhum Benny, yang seangkatan dan berkawan baik dengan Bastian. Selain lewat milis Ikahar76, Rusdani juga menerima sms undangan dari Bastian dan meminta Dani membawa anak2nya Benny utk hadir.

Rusdani dari Kelas 5 SD di Harapan, SMA-nya pindah ke SMA 1 dengan Nia, Erry Halim. Rudi dll, lalu Kelas 3 SMA pindah ke SMA 8 Bandung, juga dengan Nia. Melanjutkan ke ITB di Jurusan Sipil, satu jurusan dengan Donny Trisetia, satu angkatan dengan Edisan Edward (Mesin), Tami Idiyanti (Biologi), dan Wahyoe Prawoto (Teknik Industri), yaitu angkatan 1977. Jumpa jodohnya di Bandung, lulusan FE UNPAD, putri dari orang yang cukup dikenal Prof. Didi Atmadilaga, guru besar UNPAD dan pernah menjadi Rektor UNPAD.

Dani cerita katanya di Medan pernah jumpa sama Rinaldi, kawan Harapan yang kerja di perusahaan pemasok alat berat Hitachi. Dia banyak lupa kawan2 sekolah, hanya beberapa yang dia ingat, termasuk Lisdar, Mala, John, dan Tri Dewandono.

WP dan Rusdani

WP dan Rusdani - Minggu, 9/1/11.

Aku kembali mengingatkan Rusdani untuk menyempatkan jumpa Elina dan Syafri Gani di Banda Aceh. Karena dia tetap tidak ingat, kusarankan sekali lagi untuk melihat blogku di http://wprawoto77.wordpress.com pada bagian cerita berkunjung ke Aceh tahun 2007. Di blog itu ada foto Elina dan Syafri Gani yang cukup jelas.

Itu sedikit ceritaku tentang perjumpaan dengan Rusdani. Mudah2an bisa mengembalikan ingatan ke kawan lama kita. Aku sertakan juga foto Rusdani di tengah acara resepsi di gedung pertemuan Deptan itu untuk lebih memudahkan mengingat. Foto ini dijepret oleh putri semata wayangnya Rusdani.

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Edisan mantu

Posted by wprawoto77 on December 12, 2010

Bersama kawan2 ITB77 dan SMA-11 Bdg (dok: FC)

Satu demi satu kawan kita mantu. Hari Minggu, 12.12.2010 ini giliran Ir. M. Edisan Edward yang mantu. Anak pertamanya, Essy Prita Cinta, ST dipersunting cowok pujaannya, Bram Prasetyo, SIP, MM. Akad nikah berlangsung pagi hari, sedangkan resepsi diadakan siang harinya, di tempat yang sama, Gedung Wanita Patra, Terusan Simprug, Jakarta Selatan.

Edisan (kiri) dan dominasi ungu di pelaminan (dok: VL)

Essy yang finalis Putri Indonesia 2009 mewakili Jawa Barat, adalah lulusan ITB jurusan Planologi. Lahir dan besar di Bandung, Essy mengikuti jejak sang ayah yang juga lulusan ITB, tapi dari jurusan Teknik Mesin Penerbangan. Sulung dari 3 bersaudara ini sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta asing di Jakarta. Karena masih mengalir darah Sumateranya, maka acara resepsi siang itu bernuansa Sumatera dengan dominasi warna ungu. Sang suami, Bram, adalah putra dari Kel. (Alm) Bpk. H. Abdul Kadir Said.

20-an kawan2 Ikahar'76 Mdn menghadiri resepsi pernikahan (dok: LA)

Kawan2 Ikahar’76 Medan lumayan banyak yang hadir. Ada Vely & istri,  Rizali & istri & anak, Lena & suami, Linda & suami, Iyun, Mala, Una, Rudi, Putu, dan Jim. Lalu menyusul datang Wahyoe & istri, Edris & istri & anak. Terakhir di ujung acara datang Nia Pulungan. Total jenderal sekitar 20-an orang yang hadir. Belum yang hadir dari kejauhan seperti Yanie, Erna, Thila, Ruli, Kiky, Ida, dan Lisdar. Hadir pula beberapa kawan Edisan dari ITB’77 dan kawan2 ex SMA-11 Bandung. Edisan memang lulus dari SMA-11 Bandung setelah SMP dan SMA sampai kelas II di Harapan Medan.

Sekali lagi semua kawan2 Ikahar’76 mengucapkan selamat dan ikut berbahagia bersama kedua keluarga yang telah dipersatukan. Selamat kepada kedua mempelai, semoga dapat membina keluarga yang langgeng, mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah. Amin.(wp)

Posted in Liputan | Tagged: , , , | 2 Comments »

Kontrol mata ke RS Aini

Posted by wprawoto77 on March 20, 2010

Sabtu menjelang siang, 20 Maret 2010 aku kontrol mata ke RS Mata Prof.DR. Isak Salim ‘Aini’ di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Hampir 2 tahun tidak kontrol, terakhir ke sana tanggal 5 April 2008. Alhamdulillah hasilnya baik, menurut Dokter Andi Arus Victor, dokter spesialis mata sub spesialis retina, yang selama ini menanganiku. Aku diberi obat tetes Cenfresh, katanya untuk penyegar. Waktu kuambil di apotiknya, dijelaskan petugas apotik bahwa diteteskan 6 kali sehari, mata kanan dan kiri. Dosisnya untuk selama 15 hari dan resepnya boleh diulang sebanyak 1 kali.

Ruang tunggu RS Aini

Ruang tunggu RS Aini yang luas, di depan kamar praktek dokter.

Meski setelah direnovasi aku sudah pernah berobat ke sana, tapi kali ini sewaktu menunggu, baru aku perhatikan dengan lebih seksama bahwa RS Aini memang sudah berubah wajah. Apalagi sekarang renovasinya sudah bisa dikatakan rampung. Rumah sakit yang digagas oleh Bu Ali Sadikin, istri Bang Ali, Gubernur DKI waktu itu, terlihat lebih megah dan nyaman. Tempat pendaftaran pasien lebar dan bagus, ruang tunggunya langsung di hadapan tempat pendaftaran, sangat luas karena digabungkan untuk semua ruang praktek dokter. Kalau yang lama, terpisah-pisah, masing-masing ruang praktek ada ruang tunggunya, sehingga lebih sempit dan terlihat pasien terlalu berjubel.

Tempat pendaftaran dan ruang inap di atas

Tempat pendaftaran dan ruang inap di atas.

Kafetarianya di dalam ruang kaca pada lantai yang sama dengan ruang tunggu, sangat memudahkan bagi pasien dan pengantar yang ingin jajan. Ruang rawat inapnya di lantai atas pun sudah difungsikan. Bangunan yang lama masih tetap ada, tapi semua kegiatan sudah dipindahkan ke bangunan yang baru. Pintu masuk dari jalan besar dipindah dan alur parkir diubah arah. Biaya berobatnya pun sudah naik lagi rupanya, beda dengan 2 tahun lalu saat aku berobat.

Patung di depan bangunan lama

Patung Ny. Ali Sadikin di halaman tengah bangunan lama

Tahun 2003, pertama kali aku mengunjungi RS Mata Aini setelah 18 tahun menetap di Jakarta dan setelah 30 tahun memakai kacamata. Waktu itu penglihatan melalui mata kiriku mengalami gangguan. Semua obyek hanya terlihat setengah bagian atasnya, sedangkan bagian bawahnya hitam pekat. Rabu sore, 28 Mei 2003 waktu memeriksakan mata ke sana, setelah berganti ke dokter kedua yaitu Dokter Andi, aku langsung diperintahkan untuk opname sore itu juga karena harus dioperasi esok harinya. Kalau tidak, mata kiriku akan buta. Sejak itu aku tahu, bahwa mata kiriku terkena ablasio retina (retinal detachment), jaringan retina mata yang berfungsi menampung bayangan obyek, “lepas” dari dinding dalam bola mata bagian belakang karena “ditarik” oleh cairan vitreous dalam bola mata yang menyusut/mengkerut, yang di beberapa lokasi erat melekat dengan retina. Selaput halus yang terdiri dari syaraf yang tersambung ke syaraf optik di otak menjadi berlubang atau robek. Di tempat yang robek itulah muncul bayangan gelap alias tak tertangkap gambar obyek.

Bola mata

Posisi Retina dalam bola mata (Sumber: Brosur RS Aini).

Setelah sempat tertunda karena kejadian yang tidak terduga kurang dari 2 jam sebelum operasi tanggal 29 Mei, akhirnya aku menjalani operasi pada hari Senin, 1 Juni 2003. Operasi bedah vitrektomi dapat menyelamatkan mataku, meski 1 minggu setelah operasi aku harus tidur menelungkup. Hal ini dilakukan agar gas yang disuntikkan ke dalam bola mata dapat mendorong retina untuk melekat kembali ke tempat semula. Bayangkan balon gas yang menyundul ke langit-langit kamar, kira-kira seperti itulah cara kerjanya.

Berkat keterampilan Dokter Andi Victor, ketekunan para perawat RS Aini, kesabaran keluarga yang menjaga, kawan-kawan kantor Pacific Link serta rekan sesama anggota APJII yang terus memberi semangat, dan tentu saja kehendak Allah SWT, alhamdulillah operasi berhasil sampai penyembuhan pasca operasi. Yang bertambah adalah minusnya menjadi 2 kali lipat dari semula, sehingga minus mata kiri menyalip minus mata kanan.***

Posted in Liputan | Tagged: , | 17 Comments »

Arsip Ikahar’76.News

Posted by wprawoto77 on February 28, 2010

Sayang-sayang dibuang sayang, aku letakkan saja arsip Ikahar’76.News, buletin Ikatan Abiturient Harapan Medan Angkatan 1976 yang pernah kukelola penerbitannya, di blog ini.

News Edisi 2002-11

News Edisi 2006-03

News Edisi 2006-08

News Edisi 2007-03

News Edisi 2007-08

News Edisi 2008-03

News Edisi 2008-08

Siapa tahu ada kawan yang belum pernah menerima kiriman buletin-buletin ini via pos atau arsipnya sudah hilang, ingin membacanya (kembali).

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

UI menang telak atas IA-PPM

Posted by wprawoto77 on November 30, 2008

Dolly, satu2nya pemain putri yang datang pagi, harus berpasangan dnegan pemain UI.

Dolly, satu2nya pemain putri yang datang pagi, harus berpasangan dnegan pemain UI.

Di tengah panas yang sangat terik, Tim UI menang dengan telak atas Tim IA-PPM dalam pertandingan tenis persahabatan yang berlangsung hari Minggu, 23/11/08 di Lapangan Tenis UI. Meski tidak ada catatan resminya, dari sekian partai ganda yang dimainkan, Tim UI sangat mendominasi sehingga selalu menang dan dengan angka mencolok 8-0. Paling tinggi Tim IA-PPM mendapatkan angka 6 dari 8 game yang dimainkan.

Joseph, Iwan, Ananda, Budi, Priyanto, Rahmad, Timotius.

Ki-ka: Joseph, Iwan, Ananda, Budi, Priyanto, Rahmad, Timotius.

Pertandingan yang menggunakan 4 lapangan hard court di areal dekat Politeknik Negeri Jakarta Kampus UI Depok, itu merupakan program kerja Pengurus Ikatan Alumni PPM 2008-2010 yang dikomandani Pak Sumarsono. Pak Ketum juga hadir waktu itu untuk memberikan dorongan semangat. Tim IA-PPM dengan non-playing-captain-nya Joseph Sumanti, memang kalah baik secara kuantitas maupun kualitas. Dengan susah payah setelah pada pukul 7 sesuai jadwal yang datang hanya 2 orang, setengah jam kemudian jadi 5 orang, maka partai ganda pertama, kedua, dan ketiga pun dimulai. Karena pemain kurang 1, maka Pak Sunarji yang sebetulnya bertindak selaku tuan rumah (UI) terpaksa mengganti topinya dengan topi PPM dan berpasangan dengan Pak Priyanto. Pasangan ini yang katanya menang. Pemain putrinya malah tadinya cuma 1 yaitu Bu Dolly, lalu menjelang siang menyusul Bu Mulyawan. Sebaliknya dari dari UI yang hadir lebih dari 20 pemain, sebagian besar dosen meskipun ada diantara alumni yang ikut juga.

Pasangan Narji dan Mulyawan in action

Pasangan Narji dan Mulyawan in action

Meski usia semua pemain sudah tidak muda lagi, namun kalau melihat aksi mereka di lapangan penonton tetap disuguhi permainan ala orang muda. Tak kurang dari overhead smash yang keras, forehand dan backhand drive yang kencang, juga servis yang menggeledek, masihlah enak ditonton. Jangan dikira bola drop shot dibiarkan lepas begitu saja, tetap dikejar sampai nafas ngos2an. Seru dan asyik walaupun panas terus saja menyengat sejak awal sampai akhir pertandingan yang ditutup sekitar pukul 12.00.

Pak Ketum Sumarsono berada di lapangan untuk memberi support.

Pak Ketum Sumarsono berada di lapangan untuk memberi support.

Pagi hari sudah disediakan bubur ayam dan goreng2an tahu, tempe, dan pisang, sedangkan untuk makan siangnya nasi lengkap dengan lauk-pauk serta puding dan buah2an. Kalah atau menang tidak soal, yang penting perut terisi terus.

Tim IA-PPM setelah pkl 09.00: Priyanto, Wahyoe Prawoto, Iwan, Rahmad, Budi, Ananda Sutrisno, Timotius, Dolly Prameswari, dan Mulyawan Tjandra & Istri. Selaku suppoter terlihat hadir Pak Sumarsono, Bu Nirma, Joseph Sumanti dan Septi dari Sekretariat Alumni. Dari Tim UI antara lain: Sunarji, Tisna, Narsikin, Martani, Ersi, Faturrahman, Tafsir & Istri.

Pertandingan tenis berikutnya direncanakan akan diadakan dengan Harian Pikiran Rakyat di Bandung, lalu dengan klub Pak Mulyawan di perumahan Raffles Hills Cibubur, dan Bu Dolly akan mengundang dalam rangka HUT Humpuss.

Ayo Tim Tenis IA-PPM, sekali-sekali kita berlatih bersama supaya setidaknya bisa mengimbangi lawan kalaupun belum sampai mengalahkannya, dan kita bentuk IA-PPM Tennis Club. (wp)

UI dan IA-PPM

Foto bersama kedua Tim: UI dan IA-PPM

Posted in Liputan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Jenguk Bang Dharma

Posted by wprawoto77 on November 30, 2008

Bang Dharma Judha (GL-72)

Bang Dharma Judha (GL-72)

Senang campur haru, itulah perasaan yang spontan timbul saat bertemu Bang Dharma Judha, seniorenku di Rumah C Asrama Mahasiswa ITB. Rencana menjenguk Bang Dharma yang disusun spontan saat undangan Totot Susanto (IF-81) untuk nonton Konser Leo Kristi hari Sabtu sebelumhya, terlaksana hari Rabu malam, 19/11/08. Kami menyambangi Bang Dharma di rumahnya di Kompleks Pertamina Pulo Gebang Jaktim.

Jarak yang lumayan jauh tidak jadi halangan kalau niat sudah tertanam. Aku (TI-77), Eddy Asmanto (TI-76) dan Adi Subagyo (SI-78) dengan masing-masing membawa istri, sepulang kantor langsung meluncur menuju rumah Bang Dharma. Bagyo paling dulu tiba, disusul Eddy dan terakhir aku. Kawan2 lain tidak ada yang bisa ikut karena waktunya bersamaan dengan keperluan lain yang sudah lebih dulu terjadwal.

Bang Dharma menyambut kami dengan senyum, waktu itu mengenakan kaos putih, celana pendek selutut dan tongkat di tangan kanan. Jalannya ter-tatih2 dibantu tongkat karena sejak usai operasi di bagian kepala 6 tahun yl (2002), tangan dan kaki sebelah kirinya tidak dapat digerakkan. Bersyukur dia bilang sekarang ini sudah lancar berbicara. Semula berbicara pun susah karena lidahnya ikut kelu. Di rumahnya saat itu cuma ada 1 dari 3 anak laki2nya, yaitu anak terkecil, Ibung namanya, dan seorang ibu separoh baya yang bertugas sebagai pramu wisma. Yang sulung, Boy, dan Buyung si nomor dua belum pulang.

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Kami langsung ngobrol, nostalgia di asrama ITB maupun perjalanan hidup setelahnya. Bang Dharma adalah alumnus Geologi, jurusan yang dimasukinya tahun 1972 tapi betah didiaminya sampai tahun 1982. Itu sebabnya dengan aku yang angkatan 77 masih jumpa serumah di RC-ITB. Bang Dharma memilih tinggal di kompleks itu karena di depan rumahnya tinggal adiknya yang staf Pertamina. Waktu awal2 pindah ke sana, ibunya pun ikut bersamanya di situ.

Si Abang yang asal Palembang ini masih ingat bagaimana skandal ‘ayam’ yang menimpa Rumah C waktu Pekan Olahraga Antarasrama (PORAM) tahun 70-an untuk mengalah karena Tim Rumah C dikenal jago catur. Juga dia ingat saat kita menerbitkan buletin ‘C Family‘ di tengah hangatnya perang antar Rumah B dan G (Barraq). Rumah C yang letaknya diantara kedua peseteru itu seringkali jadi korban juga.

Yang aku ingat tentang Bang Dharma adalah tawaran meminjamkan motornya, kalau tidak salah Honda Kijang 90cc. Di-sodor2kannya kunci motornya kepada kawan2 yang memerlukan motor. Baik kalikah dia? Iyalah, tapi rupanya ada maunya juga, syarat buat yang minjam adalah mengisikan bensin motornya itu. Aku dan Eddy juga sangat ingat bagaimana kami bertiga dengan Bang Robin Tibuluji (AR-73), menjadi wakil kawan2 RC untuk menghadiri resepsi pernikahan Bang Dharma di Semarang tahun 1982. Kami mampir dulu ke Yogya sekalian jalan2 dan entah disengaja entah tidak (cuma tokek yang tahu; yang jelas niatnya cari yang murah), kami mengingap di lokasi yang assooii punya di sekitar Malioboro.

Belum puas ngobrol di ruang tamu, kami diajak makan malam dengan hidangan khas Sumatera yang dominan pedasnya. Ada rendang, sambal goreng tempe, oseng pari, dan ayam balado. Betul2 di luar dugaan karena kami niatnya tinggal memanggil tukang nasi goreng atau makanan apalah yang lewat di depan rumah untuk makan malam di sana. Eh, dasar sifat positif orang Timur yang kedatangan tamu, tidak lengkap kalau tidak diajak makan. Yang ditawari punya prinsip: rezeki tidak boleh ditolak!

Ngobrol diteruskan di meja makan, termasuk saling mengingat kebiasaan makan kami2 sewaktu di asrama. Ada yang selalu menyisakan lauknya dengan menyikat habis nasinya lebih dulu. Ada yang suka menunggu batas waktu jam makan, begitu lewat langsung menyapu bersih yang masih ‘nganggur’. Ada istilah tukang clutak, mengambil jatah orang lain padahal belum waktunya. Pernah juga hired bibi masak dengan belanja bahan sendiri supaya lauknya lebih bergizi.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah foto bersama kami pun pamit di tengah hujan lebat yang sudah turun sejak sejam sebelumnya. Kita semua sama2 senang, yang bertamu selain disuguhi makan malam juga senang bisa jumpa kawan2 yang lainnya, termasuk para istri yang sebetulnya sudah saling kenal sejak lama. Tuan rumah pun senang dengan kunjungan itu, via SMS esok harinya selain ucapan terima kasih, Bang Dharma bilang seperti mendapat terapi saja dengan kunjungan dan ngobrol lepas rindu.

Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe

Ki-ka: Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe.

Terima kasih dan jangan kapoklah Bang dengan kedatangan kami, semoga cepat pulih kesehatannya. Kami pun berniat untuk menjenguk Mas Herry Andiarbowo (FT-74) yang menurut informasi dari Bang Gusni Aidil (TK-74), Mas Herry dalam kondisi sakit sejak sekitar 4 tahun yang lalu. Sampai jumpa lagi. (wp)

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

TI-77 ber-HUT Emas bersama

Posted by wprawoto77 on November 29, 2008

Tiarap, siap..... tembak!

Tiarap, siap..... tembak!

“Dar….dar…..dar….dar…dar..dar..dar,” suara letusan senjata api terdengar ber-sahut2an dari senapan laras panjang. Sepuluh orang bertiarap dengan masing2 senjata dibidikkan ke target lingkaran berjarak 25 meter di depan mereka. Setelah 7 peluru dihabiskan, terdengar suara instruksi,”Aman di kiri, aman di kanan, silahkan maju ke depan.” Kesepuluh petembak tadi maju ke jarak 10 meter dan kali ini masing2 menggunakan pistol dengan posisi berdiri, mengarahkan ke target yang sebelah atas, juga dengan 7 peluru. Dan hasilnya? Maman Adikusmana keluar sebagai Juara I menembak dengan senapan laras panjang dan Wahyoe Prawoto sebagai Juara II jenis pistol.

Wahyoe Prawoto (Jr.)

Wahyoe Prawoto (Jr.)

Lainnya dimenangkan oleh anggota keluarga yang turut serta: Fauzan dan Ariadita sebagai Juara II dan III senapan, sedangkan Juara I dan III pistol masing2 Ariadita lagi dan Yohannes R. Para juara tentu saja mendapatkan hadiah, yang diserahkan oleh Wahyu Utomo (Uut/EL-76), Direktur Produk Non-Militer alias Komersil Pindad.

Itu tadi salah satu mata acara yang disuguhkan pada peserta Syukuran HUT Emas TI-77 ke-50 (Limpul) yang diselenggarakan dengan sangat menarik pada hari Minggu, 24 Agustus 2008 di PT. Pindad Bandung. Kegiatan ini juga digelar dalam rangka pertemuan 6-bulanan yang telah disepakati TI-77 sebelumnya, dan menjadi klotter kedua HUT Limpul tahun ini. Klotter pertama sudah dilaksanakan tanggal 17 Februari 2008 di Pacific Place Jakarta. Delapan belas (18) alumni hadir: 9 dari Bdg, 8 dari Jkt, 1 dari Semarang, dan ditambah dengan anggota keluarga yang diajak serta, tercatat seluruhnya 42 orang meramaikan acara.

Wawan, si pengatur laku

Wawan, si pengatur laku

Hermawan ‘Wawan’ Hadimulya sebagai penggagas sekaligus panitia tunggal kegiatan ini tampak puas dengan senyum dan tawa lepas terlihat dari awal sampai akhir acara.

Meski tepat pukul 10 pagi yang dijadwalkan ruang Direktorat tempat kumpul pertama masih lengang, tapi begitu 40 menit kemudian mulai rame, acara segera dimulai dengan berjalan memasuki kompleks Pindad, dipandu oleh petugas yang menjelaskan sejarah singkat dan status Pindad sampai saat ini. Dua ribu karyawan bekerja di pabrik Bandung dan 1000 lagi di pabrik Turen, Malang, Jatim. Senjata laras panjang SS-2 dan pistol P-2 yang dipakai menembak itu adalah produksi Pindad yang tetap digunakan sampai hari ini oleh TNI dan instansi Pemerintah yang memerlukannya, seperti untuk petugas Lapas.

Pitit, Jeni, Herry, Kentis, Ponakan Kentis (Ryan), Sarwo, Henry, Juliadi, Chui, dan Wawan

Pitit, Jeni, Herry, Kentis, Ponakan Kentis (Ryan), Sarwo, Henry, Juliadi, Chui, dan Wawan

Kunjungan pada rute pertama adalah ke hutan lindung. Hampir semua peserta tidak mengetahui bahwa Pindad memiliki hutan lindung dan ikut dalam konservasi alam dengan menanam 6000-an pohon di daerah kritis. Tidak ada satu pun pohon yang boleh diganggu, pohon yang tumbang karena tua segera diganti dengan yang baru. Pohon buah2an juga ditanam a.l. durian, dan setiap jenis buah2an ditanam dalam kelompoknya masing2. Rombongan terus dibawa lebih ke dalam lagi, melewati bunker, melewati jembatan kecil di tengah rimbunnya pohon2 besar, yang kalau melihat akar gantungnya sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

Ular yang mukim di Pindad. Bagian dari suguhan acara?

Ular yang mukim di Pindad. Bagian dari suguhan acara?

Rupanya bukan hutannya saja yang dilindungi, bahkan baru beberapa meter melangkah masuk dari gerbang utama, rombongan sudah dipertontonkan dengan seekor ular di bawah pohon di pinggir jalan, yang kelihatannya juga nyaman bermukim di kompleks Pindad.

Ujung dari perjalanan menempuh rimba, rombongan peserta diajak melihat lokasi produksi panser. Dimulai dari penjelasan skema urut2an produksi, melihat produk yang sedang dikerjakan (Work in Process – WIP), yang sudah jadi, sampai menjajal produk jadi dengan menaikinya. Di hari ulang tahun TNI 5 Oktober yad, 10 panser dari 160 yang dipesan TNI-AD harus sudah selesai, untuk ikut parade.

Jeni, Herry, dan Abenk

Kentis di atas Panser. Depan: Jeni, Herry, dan Abenk

Dua panser yang sudah jadi, yang sedikit beda dalam susunan kursi di dalamnya dipakai untuk mengangkut peserta dari lokasi asembling ke Lapang Tembak, tempat dilangsungkannya lomba menembak seperti yang sudah diceritakan di depan. Kedua panser penuh sesak, sebagian peserta bahkan tidak kebagian naik. Kendaraan berbesi baja setebal minimal 1 cm tersebut dengan mulus tiba di tujuan dan semua peserta ber-puas2 untuk berpose di samping, depan, maupun atas panser tersebut.

Senjata yang diproduksi dan digunakan oleh peserta di bawah tanggung-jawab Divisi Senjata dengan tuan rumah Ir. Eddy Sriyarmanto (TI-79), yang siang itu langsung mengkoordinir para instruktur menembak dan dewan jurinya.

Selongsong peluru, senapan dan pistol

Selongsong peluru, senapan dan pistol

Peluru yang dipakai bukan main2, peluru betulan yang populer kita kenal dengan peluru tajam. Proyektil timah panasnya kalau mengena bisa mematikan. Itu sebabnya sebelum lomba dimulai, seluruh peserta diajak berdoa bersama dan puji syukur semua selamat sampai acara bubar.

Selesai menembak, rombongan berjalan kaki kembali ke gedung Direktorat untuk menikmati makan siang. Dalam perjalanan kembali, terlihat beberapa petugas naik sepeda ontel, kendaraan yang disediakan oleh Pindad untuk penghubung antargedung yang lumayan jauh jaraknya. Karena hari Minggu, sederetan sepeda diparkir rapi di salah satu ‘halte’. Kembali di Direktorat, sambil makan siang peserta menikmati alunan musik dari Fruit N’ Salads, grup yang diawaki 4 cowok dan 1 cewek sebagai vokalis.

Fruit N' Salads, menghibur sejak pagi

Fruit N' Salads, menghibur sejak pagi

Semuanya mahasiswa ITB. Devi sang vokalis yang tidak lain adalah putri pertama Wawan yang kuliah di SBM-ITB, disela menyanyi menjelaskan bahwa sebagian lagu yang mereka bawakan merupakan ciptaan sendiri. Paten kali ah, kata orang Medan.

Ada juga beberapa permainan untuk memeriahkan suasana seperti 2 tim beranggotakan 3 orang yang berlomba memasukkan badan ke kain sarung hanya dengan tangan kiri, kuis menjawab soal dari pembawa acara dll. Beberapa sambutan disampaikan usai santap siang, baik dari Wawan sebagai panitia tunggal, Uut mewakili Pindad, Bu Lurah TI-77 Pitit, yang intinya saling mengucapkan terima kasih atas layanan yang luar biasa yang dinikmati peserta kali ini. Untuk pertemuan 6-bulan yang akan jatuh di bulan Februari tahun depan direncanakan di Puspiptek Serpong, tempat salah satu alumni TI-77, Jeni Ruslan, menjabat sebagai Kepala sejak bulan Juni 2008 ybl. Wawan yang mantan Direktur Keuangan Pindad (1994-2000) sendiri sejak Agustus ini kembali masuk BUMN dengan menjadi Direktur Keuangan PT. Dirgantara Indonesia.

Gilang, Wahyoe, Herry, Eddy Entum, Maman

Foto bersama. Dpn: Irwan, Juliadi, Mus, John, Pitit, Kentis, Wawan, Heddy, Ramon, Sarwo. Blk: Gilang, Wahyoe, Herry, Eddy Entum, Maman

Terakhir, Mustafa Umar diminta memimpin doa dan pertemuan yang sangat berkesan itu ditutup dengan menyanyikan lagu Kemesraan sambil membentuk lingkaran dan bergandengan tangan. Sebelum berpisah pukul 16.00, masih disempatkan berfoto bersama, tentu dengan jumlah peserta yang tidak selengkap pada waktu siang harinya: Wawan ber-4, Herry Saptanto (1), Mustafa (5), Abenk (4), Heddy (2), Ramon (1), Chui (2), Juliadi (1), Maman (1), Jeni (2), Wahyoe (2), Pitit (1), Irwan (1), John Purba (6), Sarwo (1), Henry Bangun (4), Eddy Entum (2) dan Kentis (2). Belum ditambah 4 orang anggota grup musik kawan2 Devi. Mudah2an persahabatan TI-77 khususnya dan ITB-77 pada umumnya tetap langgeng dan bisa memberi manfaat bagi sesamanya. Terima kasih Wawan dan Manajemen PT. Pindad. (wp)***

Posted in Liputan | 1 Comment »

Kawan di Yogya

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

LENGKAP rasanya perjalananku kali ini ke Yogya. Tugas utama dari asosiasi internet APJII selesai, tugas cari pesanan untuk orang rumah beres, dan pamungkasnya adalah niat berjumpa dengan Kolonel (TNI-AU) Syafrudin ‘Ucok’ Abdie. Itu semua terjadi dalam sehari dari pagi sampai sore di hari Selasa, 2 September 2008, hari ke-2 puasa Ramadhan 1429H.

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

Kalian tahu ‘kan siapa Ucok Abdie? Nama yang sekali sebut, langsung berbagai kenangan dari kawan2 yang mendengarnya, muncul. Ada yang ingat dia itu anaknya Pak AW Abdie, penggiat bola di Medan (PSMS), ada yang terkenang Ucok sebagai anak yang suka jahil, aku sendiri ingat dia ini salah satu jago bola di sekolah, seperti juga Arfansyah yang sampai sekarang kupanggil Ipong.

Sore itu kupikir sudah hilang kesempatan emasku untuk jumpa dia, karena  sampai 30 menit menjelang boarding pesawatku di Bandara Adi Sucipto Yogya waktu mau balik ke Jakarta, Pak Jenderal kurang sikit ini belum juga nongol sesuai janji telepon siangnya. Apalagi teleponnya pun tidak aktif. Eh, akhirnya datang juga. Ucok dengan santai bisa masuk ke area check-in bandara bersama istri dan anaknya. Maklum dengan seragam TNI-AU-nya, siapa pula di bandara yang berani menghalanginya. Rupanya dia memerlukan untuk pulang dulu menjemput istri dan anaknya untuk jumpa kawan yang sudah 25 tahun tidak tatap muka, bahkan ‘tatap suara’ pun baru terjadi sekitar 3 bulan yl.

Sang Kolonel ini di Harapan semasa SD dan SMP, lalu melanjutkan ke SMA-6 bersama Abubakar, Prima, Syafrudin Bahagia, Una, Azmalia dll. Tidak tamat di sana karena dia terus pindah ke SMA-7 Bandung, sesuai kepercayaan yang dianut masa itu, bahwa untuk masuk ke universitas negeri di P. Jawa, kita harus SMA di P. Jawa juga. Lulus SMA ia melanjutkan ke Jurusan Statistik Unpad, tamat tahun 1984 meninggalkan Bandung, masuk milsuk (militer sukarela) TNI-AU dan bertugas di Komando di Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto, sampai sekarang. Tinggalnya pun di Kompleks Pangkalan.

Jumpa Tri, sang istri yang orang Jawa, di Yogya, yang dinikahinya tahun 1988. Istri tercinta sekarang mengajar di SMP-5 Yogya dan telah memberikan 3 orang anak: kembar Laki dan Perempuan dan si bungsu laki yang bernama Yanda, yang diajaknya menemuiku. Yang kembar tahun ini masuk kuliah, sayang aku belum sempat tanya kuliah di mana, sedangkan si bungsu kelas 2 SMA, tapi badannya tinggi tegap mengalahkan bapaknya. Ya, aku tidak menduga bahwa Ucok bisa tetap berbadan langsing. Bayanganku sebagai tentara tentu badannya tegap, malah mungkin cenderung gemuk. Tapi kumisnya masih hitam, sehingga waktu jumpa, spontan dia bilang, ”Kumis kau udah putih, Yu.” Mereka dapat anak kembar karena dari keluarga embahnya Tri ada yang kembar.

Ada yang unik dari si Ucok, tanggal lahirnya beda2 antara di SD, SMP, dan terakhir yang disampaikannya ke aku. Ini terungkap dari Kartika yang membongkar data kita di sekolah. Waktu kutanyakan ke Ucok, dia bilang, ”Aku memang asal isi aja, pokoknya tiap kali dapat formulir yang harus diisi dari sekolah, kuisikan aja semauku.” Yang terakhir dia berikan ke aku dan kumasukkan ke data Ikahar’76 adalah Medan, 5 Agustus 1958 (Mudah2an ini data dari akte kelahiran, Red)

Dia sebetulnya sering ke Jakarta, tapi belum punya cukup waktu untuk jumpa kawan2 di Jakarta. Di Jakarta ada abangnya, Pardomuan (Domu) yang bekerja di Litbang Depdagri Kalibata dan adiknya, Yan, yang jadi pengacara, lulusan FH-USU sama2 Taufik Chandra. Aku juga melacak lokasi Ucok lewat Taufik yang menanyakan ke Yan. Taufik sendiri diketemukan oleh Mala yang memberikan nomor Hpnya ke aku beberapa waktu sebelum Jumpa Kawan Lama Medan di Shangri La Jkt. Waktu acara HUT Emas Cisarua Ucok tidak bisa hadir karena kesibukan sebagai Ketua Panitia HUT Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto. Tapi cerita tentang syukuran itu sudah dia ikuti dari Ikahar76News yang sudah diterimanya.

Yanda (anak ke-3), Ucok, dan Tri – Selasa, 2 Sept 2008

Tag nama yang dipakai Ucok di dadanya adalah “Abdie”, bukan Syafrudin. Tidak langsung kutanya waktu jumpa, tapi aku tetap penasaran sehingga begitu mendarat di Cengkareng aku tanyakan via sms sambil mengabarkan bahwa aku sudah sampai. “Memang Yu, aku di Yogya pakai nama Abdie, bukan Syafrudin apalagi Ucok,” jawabnya. Waduh, jangan2 waktu di bandara Adi Sucipto itu istri dan anaknya untuk pertama kalinya mendengar bapaknya dipanggil Ucok. Waktu bekoyok di sana, aku memang cerita ke istrinya bahwa di angkatan kita ada 3 Syafrudin: Syafrudin Nasution yang sekarang dipanggil Rudi, Syafrudin Bahagia (karena punya rumah makan Padang Bahagia), dan Syafrudin Abdie atau Ucok Abdie. Jadi masing2 ada nama panggilan untuk membedakan satu sama lain.

Begitulah Pak Kolonel kawan kita. Seperti kubilang di awal, lengkap rasanya perjalananku, terima kasih Ucok dan keluarga, kalian datang menjumpaiku di bandara saja sudah lebih dari cukup, apalagi masih sempat2nya membawakan buah tangan buat kubawa ke Jakarta. Salam buat si kembar! (wp)

Posted in Liputan | Tagged: | Leave a Comment »

Berkunjung ke Aceh 19-21 Nov 2007

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

Rezeki tidak kemana, kalau memang Allah menghendakinya maka akan kita peroleh jua. Begitulah, selain mendapat kesempatan berkunjung ke kota Banda Aceh, juga berkesempatan untuk mengunjungi kawan yang sudah beberapa kali berkunjung dan bertemu di Jakarta, lalu bertemu dengan seorang kawan SMP/SMA yang sudah 32 tahun tidak jumpa, dan seorang kawan kuliah yang sudah 20-an tahun tidak jumpa. Setelah sekian puluh tahun di Jakarta, baru sekali ini ada kesempatan melihat kota di ujung Sumatera itu.

Hari Senin malam, 19 November 2007 rombongan kami check-in ke Hotel Hermes Palace, hotel mewah di Jl. T. Panglima Nyak Makam yang dulunya bernama Swiss-Bell. Aku ikut ke sana karena suatu acara berkaitan dengan pekerjaanku di bidang Internet. Perjalanan sejak siang dari Jakarta tidak terasa melelahkan karena kami langsung bisa makan malam begitu datang. Kami di sana untuk selama 3 hari 2 malam karena Rabu pagi 21/11 akan kembali lagi ke Jakarta.

Yang lebih menyenangkan adalah pukul 20.00 sesuai komunikasi sebelumnya dengan kawan kita Elina, aku dijemput oleh kawan lama yang bernama Syafri Gani. Ini kawan yang

Elina, Syafri Gani, dan Wahyoe P.

Ikan bawal segar disantap di sini. Ki-ka: Elina, Syafri Gani, dan Wahyoe P.

sudah 32 tahun tidak jumpa, namun kami tetap saling mengenali wajah dan postur masing2 yang tidak banyak berubah. Setelah ngobrol sebentar, aku diajak menemui Elina yang rupanya sudah menunggu di tempat makan. Kami bertiga makan ikan bawal segar di Cafe Fusse…. (pokoknya susah nyebutnya karena pakai B. Jerman, maklum pemiliknya lulusan Jerman, kata Elina). Meski di hotel sudah makan, tetap saja di tempat itu masih lebih nikmat dan lahap. Ditraktir pula. Lokasinya memang tidak jauh dari laut, jadi beda2 tipislah dengan suasana di Jimbaran, Bali. Ikan bawal pakai bumbu kecap pedas, dan sayur sejenis cap cai kami sikat habis.

Selesai makan aku diajak keliling melihat bekas2 tsunami akhir 2004 yl. Obrolan yang semula ceria langsung senyap karena aku merasa merinding melihat tempat2 itu. Paling merinding waktu mereka bawa ke lokasi kapal PLTD Apung-nya PLN yang berukuran besar yang “terlempar” ke darat dari pantai Ulee Lee sejauh kurang lebih 4 km. Kuasa Allah betul2 ditunjukkan di situ.

Di depan kapal PLTD Apung PLN yang terdampar 4 km ke dalam kota.

Di depan kapal PLTD Apung PLN yang terdampar 4 km ke dalam kota.

Kapal sebesar itu bisa ada di tengah perumahan dan diam memotong jalan. Kalau beberapa kapal lainnya sudah “dikembalikan” ke laut, kapal ini selain paling berat juga paling jauh terlempar. Kata Syafri di lokasi itu akan dibangun Museum Tsunami Aceh, disainnya dilombakan dan sudah ada pemenangnya.

Sekarang ini jalan yang semula lurus terpaksa harus dibelokkan mengitari buritan kapal besi tsb. Kapal pembangkit listrik bertenaga diesel berkapasitas 10 Megawatt itu diberi beberapa lampu penerang dan di situ tinggal seorang operator mesin. Malam dengan penerang yang temaram seperti itu tentu tidak memungkinkan untuk mengambil foto, oleh sebab itu aku kembali ke sana besok siangnya menyewa taksi dengan kawan sekamar yang sama2 menjadi pembicara di acara kami. Jadi hampir semua foto yang terlihat di tulisan ini diambil siang hari esoknya.

Elina yang duduk di kursi belakang mobil bercerita bahwa sejak kejadian tsunami warga Banda Aceh bisa menikmati makanan seperti Pizza Hut, Pizza House, A & W, KFC dll yang

KFC dan billboard besar, 2 diantara budaya yang muncul pasca tsunami.

KFC dan billboard besar, 2 diantara budaya yang muncul pasca tsunami.

sebelumnya tidak ada. Mungkin karena ratusan orang asing berdatangan ke Aceh dalam rangka memberi bantuan pemulihan. Syafri juga menambahkan bahwa billboard iklan pun sekarang lumayan banyak dengan ukuran yang lumayan besar. Selain makanan asing itu, biaya hidup juga meningkat karena banyak jasa dan barang yang tarifnya terangkat naik mengikuti daya beli orang2 asing tsb. Kamar tanpa kamar mandi contohnya, bisa disewakan dengan tarif Rp 6 juta/bulan.

Seperti halnya kota besar, di Banda Aceh juga ditemui pusat belanja yang cukup besar, Barata namanya, dengan memasang tag line Pusat Belanja Murah. Kata Elina di situ memang dijual barang2 dengan harga yang lumayan murah. Selalu ramai pembelinya. Kalau bioskop

BARATA, Pusat Belanja Murah

BARATA, Pusat Belanja Murah

yang memutar film sudah tidak ada. Kami melewati bangunan seperti pertokoan di hook, sebagian kiosnya sudah tutup, dan di dinding gedung paling atas tertulis Jelita Theatre, katanya dulunya bioskop, sekarang sudah tidak terpakai.

Aku juga ditunjukkan rumah2 yang dibangun oleh NGO yang berukuran 30-40 m2 atau Tipe-36. Rumah2 itu sebagian sudah ditempati dan sudah ditanami halamannya dengan

Rumah tipe-36 yang dibangun oleh NGO pasca tsunami yang sudah ditempati (kiri) dan yang belum ditempati (kanan).

Rumah tipe-36 yang dibangun oleh NGO pasca tsunami yang sudah ditempati.

Rumah yang belum ditempati.

Kuburan Massal tempat ribuan korban dimakamkan, terletak di tepi laut.

Kuburan Massal tempat ribuan korban dimakamkan, terletak di tepi laut.

tanaman hias dan berpagar, tapi sebagian lagi masih dibiarkan kosong. Begitu juga terdapat mesjid yang harus dibangun kembali karena hancur sama sekali. Tidak jauh dari situ, di sebelah kiri jalan, terdapat Kuburan Massal, tempat dimakamkannya ratusan korban yang tidak bisa dikenali lagi identitasnya. Tidak ada nisan, tidak ada gundukan2 tanah, yang ada hanyalah batu prasasti berisi kutipan ayat Qur’an, beberapa batu besar, mirip makam Baqi di dekat Mesjid Nabawi, Madinah.

Karena malam hari dan masih basah bekas hujan, suasana kota jadi terasa sepi dan sangat lengang. Aku diajak melihat Mesjid Raya Baiturrahman yang tetap utuh meski sekelilingnya waktu itu dikepung air setinggi pagar mesjid. Mesjid ini lebih besar dan lebih indah dari Mesjid Raya Medan. Kami juga melewati satu sekolah SMA yang dibangun zaman Belanda yang masih utuh sementara di sebelahnya sekolah SD yang dibangun belakangan malah hancur terkena terjangan tsunami. Sekarang SD itu sudah dibangun kembali.

Di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Di tempat aku berdiri itu dulunya air setinggi pagar

Di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Di tempat aku berdiri itu dulunya air setinggi pagar

Yang aku kagum adalah alun2 yang luar biasa luasnya, bisa jadi alun2 terluas yang ada di Indonesia. Perbedaan yang langsung terlihat dibandingkan Jakarta adalah tidak ada bangunan tingkat tinggi, paling tinggi cuma 3-4 lantai. Lalu bangunan kantor pemerintah, selain gedungnya besar, halamannya juga sangat luas.  Lihat saja kantor gubernur, kantor DPRD, Polda, dan rumah2 dinas pejabat pemerintah. Yang juga membedakan adalah di kamar hotel sudah disediakan sajadah, tidak perlu diminta lagi ke housekeeping. Begitu pula dengan petugas perempuan yang dinas di lobi semuanya mengenakan kerudung.

Syafri Gani & aku, 32 thn tidak jumpa.

Syafri Gani & aku, 32 thn tidak jumpa.

Setelah Elina diantar ke tempat mobilnya diparkir dekat cafe semula, aku diantar pulang ke hotel oleh Syafri Gani. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 23.00. Selasa besok siang kalau ada waktu rencananya Elina mau mengantar aku keliling2 kota lagi supaya bisa melihat lebih Jelas. Syafri ada tugas ke Sabang, tidak bisa gabung. Aku bersyukur punya kawan yang baik seperti Elina dan Syafri Gani ini. Semoga Allah membalas budi baik kalian berdua.

Syafri di Harapan sama dengan Elina, dari kelas 1 SMP sampai tamat SMA. Dia

insinyur sipil lulusan Unsyah tahun 1988 kemudian mencoba bekerja di Medan tapi akhirnya menjadi Civil Engineer di Bappeda Aceh. Tinggal di Aceh sejak mulai kuliah tahun 1978 dan sekarang bersama istri telah dikaruniai 2 orang anak kembar laki-perempuan berumur 2 tahun. Kog masih kecil? Iya, dikasih momongan sesudah tiga belas tahun menikah. Alhamdulillah.

Elina setelah lulus SMA Harapan, meneruskan kuliah di Fak. Ekonomi UII Yogya. Sekarang bekerja di BPD Aceh sebagai Kepala Divisi Syariah. Dia bilang sudah kenyang berpindah tugas, termasuk cukup sering ke Jakarta untuk mengikuti upgrading dan pelatihan. Suaminya, AK Jauhari, yang bekerja di Dinas Pertambangan Pemda Aceh, adalah lulusan Akademi Geologi Bandung. Kantor Elina dan Syafri persis bersebelahan di Jl. Tgk. M. Daud Beureuh, satu diantara jalan besarnya kota Banda Aceh. Kantor Dinas Pertambangan juga terletak di jalan yang sama.

Lokasi tempat Elina & suami dihantam tsunami

Lokasi tempat Elina & suami dihantam tsunami

Memenuhi janjinya, Elina menjemput aku lagi ke hotel pkl. 17.30 Selasa sore

Di atap ini Elina tersangkut dibawa air, suaminya tersangkut di rumah lainnya.

Di atap ini Elina tersangkut dibawa air, suaminya tersangkut di rumah lainnya.

20/11. Aku ajak seorang kawan dari rombongan kami, Pak Rudi Rusdiah namanya. Elina mengajak kami ke lokasi tempat dia dan suaminya terkena musibah tsunami saat mereka sedang mengendarai mobil menuju rumah saudara. Mobil yang mereka tinggal lari, terseret air ke dalam halaman rumah orang, sedangkan Elina sendiri tersangkut di atap rumah itu, sementara suaminya tersangkut di atas rumah lainnya yang berjarak 2 rumah dari rumah diman Elina tersangkut.

Mobil yang diparkir di rumahnya bernasib lebih buruk, berpindah ke halaman belakang rumah tetangga yang tidak ada jalan mobilnya, sehingga untuk mengeluarkannya harus menggunakan backhoe.

Aku di pinggir pantai Lhoknga, tempat air bah itu berawal. Suasana Maghrib waktu itu.

Aku di pinggir pantai Lhoknga, tempat air bah itu berawal. Suasana Maghrib waktu itu.

Lalu kami ke pantai Lhoknga, pantai tempat wisata yang menjadi awal tempat datangnya tsunami. Pantai ini sekarang sepi dan tertutup untuk wisata, di pinggir pantainya sudah disusun batu2 besar melebihi tinggi jalan. Langit Banda Aceh masih agak terang meskipun waktu sudah menunjukkan lewat pukul 6 sore karena posisi kota ini memang lebih ke barat dibandingkan Jakarta. Kami masih bisa melihat pantai dengan deburan ombaknya yang cukup keras dalam suasana sunset saat itu.

Di seberang jalan ada gunung yang menjadi penahan air bah, yang masih menunjukkan batas tinggi air waktu itu karena tidak ditumbuhi tanaman.

Pabrik Semen Andalas di pinggir pantai Lhoknga, yang pekerjanya banyak menjadi korban.

Pabrik Semen Andalas di pinggir pantai Lhoknga, yang pekerjanya banyak menjadi korban.

Tidak jauh dari pantai terdapat pabrik Semen Andalas yang dulu juga hancur dan pekerjanya banyak menjadi korban. Sekarang sudah beroperasi kembali. Hasil pabrik ini berupa semen curah yang dialirkan lewat pipa panjang ke pinggir pantai dimana sudah menunggu kapal yang akan mengangkut semen curah itu ke Padang untuk dikemas ke dalam kantong2nya.

Lucu juga, pergi ke pantai aku pakai batik, maklum pakaian sehabis menghadiri diskusi pagi sampai siang belum sempat diganti, bahkan laptop pun masih kubawa di mobil Elina. Tidak jauh dari pantai itu, melewati bekas perumahan tentara yang juga hancur, rupanya Elina punya langganan Mie Aceh dan sea food bernama “Lhoknga Cafee”. Jalannya menuju lapangan

Rudi dan Elina.

Makan mie Aceh dengan kepiting di Lhoknga Cafee. Ki-ka: Rudi dan Elina.

golf yang juga makan korban pemainnya di hari Minggu, 26 Des 2004 itu. Kami mampir dan pesan mie rebus dengan kepiting. Enak kali rasanya karena kepitingnya segar, mienya juga lebih gurih rasanya. Warung ini sempat hancur juga diterjang tsunami, istri pemiliknya tewas sedangkan anaknya terseret air hingga jauh. Si bapak pemilik warung waktu itu sedang belanja ke pasar sehingga selamat dari musibah. Warungnya sekarang sudah ramai kembali, terutama akhir minggu. Waktu kami makan, ada 2 meja lainnya yang terisi. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke warung di pinggir jalan untuk sekedar membeli oleh2 kue2 kering. Mobil tidak langsung diarahkan ke hotel, melainkan menuju Kampus Unsyah (Universitas Syah Kuala) meskipun waktu sudah menunjukkan pkl. 19.00 lebih. Tidak lama sesudah melewati jembatan yang lumayan panjang, kami memasuki areal kampus. Kampus yang sangat luas seperti luasnya kampus UGM dan UI Depok. Jalan2nya lebar, bangunannya besar2. Sayang di sana-sini terlihat genangan air bekas hujan di jalan2 kampus karena drainage yang kurang baik. Bangunan2 bagian depan kampus ikut direhabilitasi karena juga terkena tsunami, sedangkan kampus IAIN Ar-raniri yang berada di depannya terkena lebih parah karena lebih dekat ke laut.

Mendekati pkl. 21.00 kami diantar kembali ke hotel dan Elina membatalkan rencananya pergi ke suatu acara yang seharusnya pkl. 20.00. Maaf Elina, jadi mengganggu acaramu, tapi tidak ada ucapan yang lebih pantas aku ucapkan kecuali terima kasih dan semoga Allah membalas semua kebaikanmu serta salam untuk Bang AK yang katanya masih di kantor.

Kawan kuliahku Alfian Abubakar yang 20-an tahun tidak jumpa.

Kawan kuliahku Alfian Abubakar yang 20-an tahun tidak jumpa.

Aku masuk hotel sambil menunggu seorang kawan kuliah yang sudah lebih dari 20 tahun tidak jumpa, tapi kembali kontak karena secara kebetulan berjumpa di TPS Pemilu Ketua Umum IA-ITB di gedung PLN empat hari sebelumnya yaitu hari Sabtu, 17/11/07. Alfian Abubakar namanya. Maghribnya dia sebetulnya baru mendarat dari Jakarta. Malam itu sekitar pukul 22.00 kami ke Warung Kopi di daerah Ulee Kareng Jl. T. Iskandar yang sangat terkenal itu.

Hampir setiap orang yang ada di tempat itu dikenal dan mengenal Al, begitu Alfian biasa dipanggil. Di tempat itu juga obrolan warung kopi bisa menjadi keputusan di parlemen (DPRD) karena yang datang ke sana adalah anggota parlemen, pimpinan proyek, di Pemda, pengusaha dll. Kopinya sendiri memang enak, dihidangkan bersama roti dengan sele (selai) serikaya, yang sudah puluhan tahun tidak kurasakan. Kami juga pesan martabak telor yang agak lain memasaknya karena tidak “rapi” seperti Jakarta yang dipotong persegi, melainkan hanya 2 lingkaran seperti telor ceplok dan ditaburi acar bawang yang diiris tipis2. Rasanya tidak kalah enak dibandingkan martabak telor di Jakarta. Tidak terasa kami ngobrol sampai menjelang pukul 24.00, sampai2 diingatkan pelayan warung bahwa mereka sudah mau tutup. Kami pun diantar kembali ke hotel oleh Al. Terima kasih banyak, Al, meski kamu capai baru datang dari Jakarta, tapi masih menyempatkan menjumpaiku. Sampai ketemu lagi. Akhirnya, siapa tahu suatu saat diperlukan, kucatatkan alamat Hotel Hermes Palace: Jl. T. Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Telp. (0651) 755 5888, Fax. (0651) 755 6999, Email: info@hermespalacehotel.com. (wp)

Posted in Liputan | Tagged: | 1 Comment »

Jumpa Tuty Purwanto di Bali

Posted by wprawoto77 on September 28, 2008

MUNGKIN terbawa suasana Reuni Medan yang masih terasa hangat, maka waktu ada kesempatan tugas ke Bali di akhir Februari 2007 lalu, aku telepon Tuty, siapa tahu dia ada waktu untuk berjumpa. Dasar nasib baik, dia datang berkunjung ke tempat acaraku (APRICOT 2007) di BICC Nusa Dua, Bali hari Rabu 28/2/07 siang. Jadilah kami bekoyok di sana sampai 2,5 jam. Kami makan siang sama2 di tempat acaraku, dia agak pilih2 makanan karena katanya sudah lama dia menjadi vegetarian. Tuty masih belum banyak berubah, masih langsing dan masih bergaya tomboi dengan celana jeans dan kaos kuning lengan panjang. Rambut pirang, entah dicat atau bawaan umur aku juga lupa nanya.

Sri Madyastuti atau lebih dikenal dengan panggilan Tuty Purwanto adalah anak ke-3 dari 6 bersaudara anak Pak Purwanto. Siapa yang tidak kenal dengan Pak Purwanto yang Jaksa Tinggi di Medan dulu. Pak Purwanto kini sudah tiada, meninggal tahun 1982 di Solo dan sekarang tinggal Ibu yang tinggal di kompleks Adyaksa, Lebak Bulus Jakarta Selatan, bersama adik Tuty yang terkecil, Deni.

Tuty menikah dengan orang Bali asli dan sekarang menjadi penganut Hindu yang taat. Pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, yang sulung dan yang tengah laki-laki, baru ditutup si bungsu yang cewek. Yang sulung sudah semester 8 di Jurusan Arsitek, nomor 2 sudah semester 3 di Jurusan Perhotelan, dan si bungsu masih kelas 6 SD. Memang terpaut jarak umur yang cukup jauh. “Pengen punya kawan, karena kesepian nggak ada anak kecil,” kata Tuty waktu ditanya kog beda umurnya lumayan jauh. Waktu ditanya suami dinas di mana, Tuty cuma menjawab bahwa rambut suaminya gondrong.

Putri Solo yang dikenal sebagai anak yang tomboi ini, mampir di SMA Harapan cuma 2 tahun, kelas I dan II, lalu pindah sampai tamat di SMA 6 Jakarta Selatan. “Maklum anak jaksa, pindah2 terus, padahal waktu itu masih betah di Medan,” katanya. Saudara kandungnya semua perempuan, kecuali 1 orang laki-laki yang nomor 4. Itu mungkin sebabnya kenapa bawaan Tuty jadi kayak anak laki.Dengan alasan sering pindah sekolah dan sangat singkatnya waktu bersekolah di Harapan, sebagian besar nama maupun wajah kawan2 SMA sudah raib dari ingatan Tuty. Bahkan waktu aku tunjukkan foto kita di halaman rumah Rudi Nst seusai pengajan, Tuty hanya bisa mengingat Linda Anggraini. Tapi ada 1 nama kawan kita di Medan yang paling dia ingat, dan aku sudah berikan nomor telepon kawan kita itu ke Tuty. Dia cerita juga ditelepon Surya, tapi dia akui dia lupa yang mana orangnya. Di foto tadi padahal ada Surya, dia nggak ingat. Kubilang sama dia, “untung aja aku masih kau ingat, Tut.”

Begitulah cerita sekilas tentang kawan kita Tuty Purwanto. Pokoknya kalau sedang di Bali dan butuh kendaraan sewaan, telepon aja Tuty, mobil bisa diantar ke tempat menginap, boleh pilih pakai supir atau mau nyupir sendiri.(wp)

Posted in Liputan | Tagged: | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.