Weblog Wahyoe Prawoto

Terminal Kristalisasi Permenungan dan Liputan

Archive for the ‘Kristalisasi Permenungan’ Category

Di larang dan disini

Posted by wprawoto77 on February 28, 2010

Dalam satu perjalananku ke Bandung hari Sabtu, 31 Oktober 2009, aku singgah di tempat istirahat Km 40 (kalau tidak salah) jalan tol Cikampek. Di sana ada mesjid yang lumayan besar, kubahnya berwarna hijau. Sewaktu mengambil wudhu untuk shalat Dzuhur, terbaca petunjuk yang dipasang di atas kran wudhunya yang menarik perhatianku, “DI LARANG KENCING DISINI!!” dengan huruf besar semua dan dengan 2 tanda seru di belakangnya.

Awalan “di” yang seharusnya tidak dipisah malah dipisah (seharusnya “dilarang”) sedangkan kata depan “di” yang seharusnya dipisah malah tidak dipisah (seharusnya “di sini”). Rupanya si pembuat sudah mendengar ada “di” yang harus dipisah, tapi masih menempatkannya secara terbalik.

Petunjuk di tempat wudhu

Petunjuk di tempat wudhu, di tempat istirahat Km 40 tol Cikampek - Sabtu, 31 Okt 2009.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | 3 Comments »

Rumah “di jual”

Posted by wprawoto77 on October 24, 2009

Sabtu sore ini (24/10/09) saya sempatkan akses ke FB, melihat sebuah foto yang menarik yang ditayangkan oleh kawan saya. Semula saya pikir dia berbaik hati ingin menyumbangkan foto itu ke saya karena saya punya blog yang banyak membahas soal ejaan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Ternyata dugaan saya keliru, karena sewaktu saya berikan komentar soal ejaan, dia katakan bahwa dia serius mau jual rumah.

Sekalian mengisi kembali blog saya yang sudah lama vakum, tentu tidak ada salahnya juga membantu kawan yang mau menjual rumahnya, sehingga foto tersebut saya tampilkan di sini.

Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)

Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Menaikan atau menaikkan?

Posted by wprawoto77 on May 21, 2009

Masih soal kebahasaan. Pulang dari Yogyakarta urusan APJII hari Selasa sore, 12 Mei 2009 di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, saya dan rekan berjalan ke luar mencari lokasi Bus Bandara. Tidak sengaja terlihat di lokasi penjemputan penumpang, sebuah rambu dilarang parkir dengan huruf P dicoret. Rambu tersebut dilengkapi dengan tulisan di bawahnya berbunyi: KECUALI MENAIKAN/MENURUNKAN PENUMPANG.

Apa yang salah dari kata di atas? Kata dasar ‘naik’ pada kata menaikan itu seharusnya diberi akhiran kan, bukan an, jadi yang benar penulisannya adalah menaikkan yang kalau dipisahkan berdasarkan suku katanya menjadi me-na-ik-kan. Berbeda dengan kenaikan, kata ini memang berakhiran an yang kalau dipisahkan menjadi ke-na-ik-an.

Rambu di Bandara Soekarno-Hatta

Rambu di Bandara Soekarno-Hatta

Masih di tempat menunggu bus bandara, mata tertarik pada sebuah bilbor raksasa dengan modelnya Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Negara kita dan Ibu Fadilah Supari, Menteri Kesehatan kita. Bilbor itu isinya mengajak masyarakat berperilaku hidup sehat. Di baris paling bawah tertulis: Makan-makanan Bergizi.

Apa yang salah? Kalimat itu tentu maksudnya ‘Makanlah makanan yang bergizi’. Agar lebih singkat dapat saja ditulis ‘Makan Makanan Bergizi’. Jadi, seharusnya tidak digunakan tanda hubung (-).  Penggunaan kata ulang dan akhiran an biasanya diartikan sebagai menyerupai atau bermacam-macam, misalnya orang-orangan sawah artinya menyerupai orang, buah-buahan artinya bermacam-macam buah. Penulisan makan-makanan tidak dapat diartikan menyerupai makan atau bermacam-macam makan.

Makan-makanan(?) Bergizi - bilbor di Bandara Soekarno-Hatta

Makan-makanan(?) Bergizi - bilbor di Bandara Soekarno-Hatta

Pembuatan rambu atau bilbor sudah lazim dilakukan oleh ahli membuat papan reklame yang tersebar di penjuru kota. Mereka umumnya anggota masyarakat biasa yang bukan ahli bahasa atau memperhatikan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tertulisnya ejaan yang salah pada rambu dengan demikian menjadi tanggung jawab si pemesan yang logikanya mempunyai pengetahuan bahasa yang lebih baik dari si pembuat papan reklame.

Mari kita upayakan terus penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya pun mengakui belum dapat menggunakannya dengan sempurna, namun terus belajar dan berusaha. Setiap kali ada yang meragukan, saya sempatkan untuk melihat ke buku atau internet yang ditulis oleh para pakar bahasa.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | 1 Comment »

Mobil “di jual”, harap “di isi”

Posted by wprawoto77 on March 26, 2009

Salah kaprah penggunaan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan rupanya terus berlanjut hingga hari ini. Padahal sudah 37 tahun sejak EYD – Ejaan Yang Disempurnakan diresmikan penggunaannya tanggal 16 Agustus 1972. Tulisan seperti judul di atas sangat sering kita jumpai di sekitar kita. Tahukah anda bahwa ejaan tersebut salah? Menyalahi EYD?

Jangankan oleh masyarakat awam dan kelas bawah, di lokasi yang mentereng pun penulisan seperti itu masih kerap terlihat. Di salah satu tempat pendidikan, di SMAN terkenal di Jakarta Selatan saja di pintunya masih dapat kita baca “Pintu di tutup pkl. 07.00″. Bisa dibayangkan bagaimana keluaran sekolah tersebut nantinya. Lalu di Gerbang Tol Padalarang Barat kalau kita dari arah Jakarta, tertera tulisan sangat besar dengan huruf kapital “Tidak tukar tiket DI DENDA di gerbang exit”.

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Padahal kalau mau sedikit belajar, sangat mudah membedakan mana di yang harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya dan mana di yang harus diserangkaikan. Di sekolahku di Medan, EYD mulai diajarkan tahun 1973, saat aku duduk di Kelas 3 SMP. Begitu mulai diberlakukan, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Namun untuk lebih memahami secara sistematis, April 1984 aku beli buku Pak Yus Badudu terbitan 1983 (cetakan kedua September 1983) berjudul “Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar”. Mari kita baca di bagian ‘Bagaimana membedakan di Kata Depan dengan di Awalan’.

Awalan di- hanya terdapat pada kata kerja, baik kata kerja itu berakhiran -kan atau -i maupun tanpa akhiran-akhiran itu.

Contoh:
dipukul, dipukulkan, dipukuli
dilempar, dilemparkan, dilempari

Kata kerja yang berawalan di- itu ialah semua kata yang menjadi jawab pertanyaan diapakan dia atau diapakan benda itu. Ini adalah salah satu cara mengenal kata dengan awalan di-. Cara yang kedua ialah kata-kata kerja berawalan di- mempunyai bentuk lawan awalan me-
dipukul lawannya      memukul
dipukulkan lawannya      memukulkan
dipukuli lawannya      memukuli

Jadi, kalau kita ragu apakah di pada kata itu dirangkaikan, kita cobalah membentuk lawan kata itu dengan cara di atas. Apabila ada lawan bentuknya dengan awalan me-, pastilah di pada kata itu adalah awalan dan oleh karenanya haruslah dirangkaikan.

Kata depan di memang harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya karena di jenis ini mempunyai kedudukan sebagai kata. Fungsinya menyatakan ‘tempat’. Cara mengenalnya mudah sekali. Semua kata yang menjadi jawab pertanyaan di mana pastilah kata yang mengandung kata depan di, karena itu jawaban itu harus dituliskan dengan dua patah kata yang terpisah.

Contoh:
Di mana dia?    Jawab:   Di kantor.
Di mana rumahnya?    Jawab:   Di Jakarta.   Di sana.
Di mana kaubeli daging itu?   Jawab:   Di pasar.    Di situ.

Jadi, kata seperti di mana, di sana, di sini, di situ, di atas, di bawah, di tengah, di samping, di depan, di belakang pun harus dituliskan terpisah sebagai dua patah kata seperti di sekolah, di dinding, di laut.

Cara kedua untuk mengenal bahwa di itu kata depan ialah bahwa kata depan di itu mempunyai pasangan yaitu kata depan dari dan ke.
Contoh:
di sana              ke sana              dari sana
di mana            ke mana            dari mana
di pasar            ke pasar            dari pasar

Namun, ada beberapa bentuk kecuali. Pertama, kata kepada dan daripada selalu harus dituliskan serangkai sebagai sepatah kata saja. Kedua, kata kemari juga dituliskan serangkai sebagai sepatah kata karena tidak ada pasangannya di mari dan dari mari. Ketiga, kata ke luar sebagai lawan kata ke dalam harus dibedakan dari kata keluar lawan kata masuk. Bentuk yang kedua ini kata kerja.
Contoh:
Azis keluar dari pintu belakang.
Dari tadi dia memandang ke luar.

Begitu ajaran Pak Yus Badudu. Mudah ‘kan? Aku yakin setelah membaca ini kita semua bisa menuliskan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan dengan benar.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | 2 Comments »

Fenomena datang terlambat

Posted by wprawoto77 on October 18, 2008

Datang terlambat katanya sudah menjadi budaya orang Melayu (baca: Indonesia). Datang terlambat ke suatu rapat, ke suatu undangan acara, dst, dari lingkup yang paling kecil di rapat RT, rapat organisasi, sampai rapat suatu perusahaan kelas raksasa. Dari undangan acara pertemuan yang dibuat oleh paguyuban atau organisasi tanpa bentuk, sampai undangan acara organisasi kemasyarakatan kelas kakap.

Datang tidak tepat waktu alias terlambat itu sebetulnya lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Dalam hal rapat, biasanya terpaksa dimulai molor waktu karena harus mentoleransi dengan menunggu beberapa menit atau jam. Lalu seringkali pimpinan rapat harus mengulangi menjelaskan jalannya rapat kepada yang baru datang, bahkan bisa lebih dari sekali kalau yang datang lebih belakangan dianggap ‘orang penting’. Kalau tidak dijelaskan ulang, tidak jarang yang datang terlambat ini mengulang pembahasan atau malah sekalian mengacaukan pembicaraan, sehingga pembahasan menjadi bertele-tele.

Kalau dalam hal undangan acara, sudah lazim acara jadi mundur, di awal acara dan otomatis saat selesainya. Yang meresahkan adalah kalau kita ingin bepergian bersama dengan menggunakan 1 bus misalnya, bisa jadi hanya karena 1 orang peserta, keberangkatan ditangguhkan. Akibatnya waktu yang tersisa untuk berekreasi menjadi lebih pendek karena lalu lintas yang makin siang makin macet, tiba di tujuan kesiangan dll. Bagaimana dengan yang sudah datang tepat waktu? Manusiawi kalau mereka merasa kesal dan merasa tidak dihargai oleh penyelenggara acara maupun oleh peserta atau undangan lainnya.

Aku kadang mengamati dan merenung kenapa fenomena datang terlambat atau tidak tepat waktu ini seperti sudah menjadi budaya? Orang bahkan sudah menjadi biasa dengan membuat undangan mencantumkan pukul X karena memberi waktu cadangan keterlambatan sampai 0,5-1,5 jam. Kucoba tuliskan apa yang kupikirkan dan juga comot sana-sini hasil pembicaraan warung kopi, apa yang ada di balik pikiran orang yang (suka) datang terlambat, apa yang ada di belakang fenomena datang terlambat ini.

Ada yang sengaja datang terlambat karena sudah berasumsi bahwa peserta lainnya juga akan datang terlambat. Tidak mau datang duluan dan duduk menunggu sendiri, malah mungkin ada rasa malu kalau datang terlalu cepat, kuatir dicap terlalu rajin, terlalu semangat. Ini alasan yang kelihatannya sekarang paling banyak dianut orang. Ada yang memang orang penting, sengaja datang terlambat karena memastikan hadirin sudah banyak yang datang. Yang lucu ada yang bilang, seseorang datang terlambat agar semua mata yang hadir tertuju padanya. Bahasa asingnya, dia butuh perhatian orang. Apa iya ya ada yang seperti itu? Jangan-jangan orang yang seperti ini pulangnya pun ingin selalu lebih cepat supaya diperhatikan lagi saat kepulangannya oleh orang banyak.

Yang di luar dugaan adalah alasan seorang kawan yang sudah sangat dikenal oleh lingkungan kumpulannya sebagai orang yang tidak pernah tepat waktu. Dia bilang sudah lelah dengan keharusan tepat waktu sejak sekolah TK, SD, SMP, lalu SMA, terus berlanjut di tempat kerja. Oleh sebab itu di perkumpulan yang dianggapnya informal inilah kesempatan dia untuk bisa datang terlambat, bebas dari keterikatan waktu. Mungkin dalam pikirannya tokh tanpa sanksi hukuman seperti di sekolah atau di tempat kerja dulu.

Tapi ada juga keterlambatan yang termasuk sulit untuk dihindarkan, termasuk aku sendiri sesekali mengalaminya, yaitu kalau menghadiri acara berbeda secara berurutan di hari yang sama. Biasanya kalau acara pertama molor waktunya, akan berakibat datang terlambat di acara kedua dan seterusnya di hari tersebut. Makanya, sulit dimengerti kalau acara pertama di pagi hari, yang berarti langsung dari rumah, masih juga bisa terlambat. Padahal berangkat langsung dari rumah dimana kendali waktu sepenuhnya ada pada kita. Kog bisa ya?

Lalu lintas kota besar yang macet sering dijadikan kambing hitam, padahal bagiku macet seperti di Jakarta itu sudah ‘given situation’, sudah tidak zamannya lagi disodorkan sebagai penyebab. ‘Kan tinggal kita atur waktu keberangkatan kita dengan lebih awal?

Akhirnya, tidak mudah memutus rantai salah kaprah ini, mau mulai dari mana? Dari penyelenggara acara yang harus disiplin saja memulai acara sesuai rencana meskipun yang hadir baru 2 orang, dari si orang penting yang kehadirannya harus ditunggu yang lainnya, atau dari peserta secara umum? (wp)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

Kini bagian kami

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

Waktu mau perayaan 17-an tahun lalu (2007), aku coretkan seuntai puisi yang semula untuk dibacakan oleh salah satu anak muda di kavling tempat tinggalku. Tapi urung, karena ada materi yang lebih pas dibacakan saat itu. Sayang dibuang sayang, puisi itu aku posting di sini.

Kini bagian kami

Kami pasti percaya
perjuangan para pahlawan bertaruh nyawa
demi memerdekakan bangsa
dari belenggu penjajahnya

Kami pasti percaya
sebagian yang melanjutkan perjuangannya
memberi yang terbaik yang mereka punya
tanpa mengharap puji dan puja

Namun sama kita tahu
bagaimana nasib Indonesiaku
dalam 62 tahun perjalanan bangsaku
jauh…, jauh dari negeri yang terpandang dan maju

Generasi pasti berganti
kini bagian kami
kini giliran kami
memegang kendali
untuk membenahi, memperbaiki, dan menyusun kembali
keping-keping potensi yang terserak di sana-sini

Kini bagian kami
membangun Pertiwi

Jakarta, Juli-Agustus 2007

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

Mengapa harus 1 Syawal?

Posted by wprawoto77 on September 29, 2008

Menjelang Idul Fitri 1429H ini, aku teringat surat yang kutulis di Pembaca Menulis di harian Bisnis Indonesia tgl 30 Oktober 2007 halaman 7 berjudul “Mengapa harus 1 Syawal?” seperti di bawah ini:

Mengapa harus 1 Syawal?

Lagi, tahun ini untuk kesekian kalinya terjadi perbedaan 1 Syawal di kalangan kaum muslim. Entah sampai kapan perbedaan ini akan terjadi. Para pemimpin cuma berlindung di balik kata-kata, “Jangan membesar-besarkan perbedaan ini.”

Menurut saya, masyarakat muslim bukannya ingin membesar-besarkan perbedaan, tapi makin merasa janggal, kenapa perbedaan ini tidak bisa dihentikan.

Janggal karena mengapa harus 1 Syawal yang dijadikan ajang perbedaan, sementara tahun baru Islam 1 Muharam bisa seragam, Maulid Nabi bisa sama, Idul Adha bisa serentak? Logikanya kalau 1 Syawal berbeda, tanggal-tanggal lainnya pun seharusnya berbeda juga.(wp)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

Jalur “3 in 1″ dan Busway

Posted by wprawoto77 on September 29, 2008

Soal belum beroperasinya Koridor VIII-X busway Transjakarta sampai menjelang Lebaran 2008, padahal kesibukan pembangunannya sudah dirasakan penduduk Jakarta bulan puasa tahun 2007 yang lalu, aku teringat surat yang kutulis di Redaksi Yth di harian Kompas tgl 31 Mei 2008 di halaman 7 berjudul “Jalur ’3 in 1′ dan Busway” seperti di bawah ini:

Jalur “3 in 1″ dan Busway

Setelah diberlakukannya busway di jalan-jalan protokol Jakarta, sudah saatnya untuk menghapus peraturan 3 in 1. Dengan adanya jalur busway yang mengambil badan jalan yang sudah ada dan tetap memberlakukan 3 in 1 sekaligus, hak pemakai jalan dirugikan dua kali. Kalau dulu bagi yang ingin lancar dapat memilih lewat daerah 3 in 1 dengan syarat membawa tiga penumpang atau lebih dalam kendaraannya. Dengan adanya bus transjakarta, siapa yang mau lancar silahkan naik bus transjakarta.

Dihapuskannya 3 in 1 diperoleh beberapa manfaat yaitu arus padat lalu lintas dapat berkurang karena sebagian sudah dapat masuk ke semua jalan. Aktivitas kantor dan tempat usaha di daerah tersebut dapat bergairah kembali karena tidak dibatasi dengan waktu 3 in 1 dan praktek joki yang memprihatinkan dapat dihilangkan.

Juga dapat mengurangi pengerahan petugas pada saat-saat 3 in 1 yang tentu menambah biaya dan mengurangi perhatian petugas pada tempat-tempat lain yang lebih membutuhkan tenaganya. Mudah-mudahan usulan ini dapat diterima dan tidak lantas buru-buru dianggap sebagai ketidakpatuhan warga terhadap pemerintah daerah.(wp)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

Kuda binal itu akhirnya berpelana

Posted by wprawoto77 on September 29, 2008

Begitu mendapat sms dari kawan di Koran Tempo ada anggota KPPU ditangkap KPK tgl 16/9/08 malam, aku langsung teringat pada tulisanku yang pernah dimuat di Harian Waspada Medan rubrik Universitaria hari Selasa, 26 Januari 1982 (hampir 27 tahun yl) yang berjudul seperti di atas. Tulisan itu kuposting di sini.

Kuda binal itu akhirnya berpelana

Ngotot, bersitegang leher, itu barangkali istilah yang paling tepat untuk gambaran dua “front” yang sedang bertemu di arena pertempuran semu saat ini, Anak Negara dan Bapak Negara. Argumentatif? Ya, keduanya sama punya alibi seperti itu. Cuma saja, asam garam yang sudah membumbui kehidupan para orang tua tentu lebih banyak, katanya. Terlebih orang “tua” yang dulu waktu mudanya juga bersikap macam anak negara yang kita lihat pada saat ini. Mereka kini hampir menjadi Bapak sehingga telah tau persis bagaimana mengambil posisi menghadapi kenakalan anak-anak tersebut. Bisa mulai dibayangkan-bayangkan bagaimana jika nanti beliau sudah benar-benar menjadi Bapak. Kebijaksanaan sepenuhnya di tangan mereka. Putuss asakah kita? Hampir! Trenyuh? Mungkin.

Segala rupa pemrosesan dalam dunia pendidikan tinggi kita sekarang mirip aliran air sungai. Massa yang ada di belakang akan mendorong massa di depannya hingga ia akhirnya menggantikan tempat yang depan. Si depan sendiri mau tak mau menyingkir untuk kemudian termuara ke laut lepas tanpa bisa dicirikan lagi asal maupun usulnya, jenis ataupun kelompoknya. Begitu terus-menerus sepanjang jaman.

Kalaupun idealisme itu memang betul tumbuh di sana, idealisme mengalirlah namanya. Coba iseng-iseng dihitung, berapa banyak Bapak (katakanlah masih menjelang Bapak) yang sudah mulai melaut sekarang, dulunya bekas Anak-anak negara yang beridealisme “teguh”. Tokh keadaan tak berubah menjadi lebih baik seperti yang mereka teriakkan dulu. Di sekitar kita saja perhatikan, Anak yang belum lama berselang ngotot di panggung kampus hingga mesti bergelut juga di riuhnya pengadilan. Belum lagi hilang bau naik bandingnya, kini setelah lulus dan berpeluang pada suatu tawaran menarik, seakan lupa pada peristiwa yang barusan ditinggalkannya. Seakan lupa pada dunia sekelilingnya, pada air yang masih berada di belakangnya. Sungguh ironis, bak kata pepatah datang tampak muka…. tapi pergi tidak tampak punggungnya. Banyak contoh konkrit, rasanya nggak perlulah dipaparkan satu per satu di sini. Kuda binal itu akhirnya berpelana…. Mungkin mereka punya missi tersendiri (missi perubahan terntunya) yang belum mau diungkapkan secepatnya. Akan tetapi kita umumnya hanya bisa menyayangkan bahwa sebelum missi tadi terwujudkan, mereka sudah terlanjur menyatu di laut lepas dengan segala perilakunya.

Tadinya ada pendapat bilang, “… yah, minimal semasa masih di kampuslah, kesempatan kita berbuat….”. Dapatkah hal itu dipertahankan? Begini kisahnya: Terkadang kurang disadari bahwa “ulah” pendahulu-pendahulu tersebut meninggalkan bekas pada adik-adiknya kini, adakalanya berupa parut di permukaan atau mungkin pula berupa luka dalam. Parut mudah-mudahan bisa diobati dengan bebagai obat pemoles ataupun menutupinya dengan kain pembungkus yang apik. Tapi luka dalam ini yang berbahaya! Adik-adiknya (Anak negara juga ‘kan?) yang menjelang, barusan, bahkan yang telah cukup lama berkecimpung di gelanggang ketangkasan berkampus, akhirnya akan melihat realita ini. Medan semakin berat, dan dengan setengah berputus asa ia terpengaruh ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya. “Ah, buat apa aku berkaok sekarang bila nantinya akan larut seperti Bang Anu, Bang X, Bang Y, ….” Nah, kalau sempat itu sudah membayangi semua pikiran mereka, apa jadinya. Iklim demikian akan melahirkan Anak negara yang apatis, segan berbuat dan selalu diganggu dengan cita-cita naif. Situasi bertambah buruk, dinamika kehidupan bernegara meredup, makin samar, dan punah. Sementara itu front Bapak semakin establish. Barrier-barrier yang mereka bikin kian terpasak tegar. Komunikasi putus dan dialog akan merupakan hal yang tabu kecuali jika mau memenuhi aturan main sepihak dan disudahi dengan suatu kompromi.

Kampus-kampus sekarang sepi dari gejolak. Pesta demokrasipun sudah diambang pintu… Anak-anak negara kembali bergelut dalam gelimangnya buku dan bisikan halus tuntutan sanak keluarga. Atau barangkali inilah yang disinyalir oleh seorang rekan kita dari UI di harian Kompas bahwa nilai-nilai kemahasiswaan di bumi pertiwi saat ini sedang (atau sudah?) bergeser. Tak heranlah kita mendengar telah bershasil dirintisnya tatar-menatar di lingkungan mahasiswa. Mungkin memang lebih bagus begitu.

Dalam kebingungan ini pada siapa kita mesti bertanya, betulkah proses pendidikan tinggi yang seperti itu? Apatisme, tentulah bukan cerminan generasi masa datang yang kita harapkan di bumi tercinta Indonesia. Ya Tuhan, semoga kami dijauhkan dari musibah tersebut meski saat ini banyak orang menyorot kami dengan cibiran, “Kuda binal itu akhirnya berpelana…” (wp)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.