Weblog Wahyoe Prawoto

Terminal Kristalisasi Permenungan dan Liputan

Archive for November, 2008

UI menang telak atas IA-PPM

Posted by wprawoto77 on November 30, 2008

Dolly, satu2nya pemain putri yang datang pagi, harus berpasangan dnegan pemain UI.

Dolly, satu2nya pemain putri yang datang pagi, harus berpasangan dnegan pemain UI.

Di tengah panas yang sangat terik, Tim UI menang dengan telak atas Tim IA-PPM dalam pertandingan tenis persahabatan yang berlangsung hari Minggu, 23/11/08 di Lapangan Tenis UI. Meski tidak ada catatan resminya, dari sekian partai ganda yang dimainkan, Tim UI sangat mendominasi sehingga selalu menang dan dengan angka mencolok 8-0. Paling tinggi Tim IA-PPM mendapatkan angka 6 dari 8 game yang dimainkan.

Joseph, Iwan, Ananda, Budi, Priyanto, Rahmad, Timotius.

Ki-ka: Joseph, Iwan, Ananda, Budi, Priyanto, Rahmad, Timotius.

Pertandingan yang menggunakan 4 lapangan hard court di areal dekat Politeknik Negeri Jakarta Kampus UI Depok, itu merupakan program kerja Pengurus Ikatan Alumni PPM 2008-2010 yang dikomandani Pak Sumarsono. Pak Ketum juga hadir waktu itu untuk memberikan dorongan semangat. Tim IA-PPM dengan non-playing-captain-nya Joseph Sumanti, memang kalah baik secara kuantitas maupun kualitas. Dengan susah payah setelah pada pukul 7 sesuai jadwal yang datang hanya 2 orang, setengah jam kemudian jadi 5 orang, maka partai ganda pertama, kedua, dan ketiga pun dimulai. Karena pemain kurang 1, maka Pak Sunarji yang sebetulnya bertindak selaku tuan rumah (UI) terpaksa mengganti topinya dengan topi PPM dan berpasangan dengan Pak Priyanto. Pasangan ini yang katanya menang. Pemain putrinya malah tadinya cuma 1 yaitu Bu Dolly, lalu menjelang siang menyusul Bu Mulyawan. Sebaliknya dari dari UI yang hadir lebih dari 20 pemain, sebagian besar dosen meskipun ada diantara alumni yang ikut juga.

Pasangan Narji dan Mulyawan in action

Pasangan Narji dan Mulyawan in action

Meski usia semua pemain sudah tidak muda lagi, namun kalau melihat aksi mereka di lapangan penonton tetap disuguhi permainan ala orang muda. Tak kurang dari overhead smash yang keras, forehand dan backhand drive yang kencang, juga servis yang menggeledek, masihlah enak ditonton. Jangan dikira bola drop shot dibiarkan lepas begitu saja, tetap dikejar sampai nafas ngos2an. Seru dan asyik walaupun panas terus saja menyengat sejak awal sampai akhir pertandingan yang ditutup sekitar pukul 12.00.

Pak Ketum Sumarsono berada di lapangan untuk memberi support.

Pak Ketum Sumarsono berada di lapangan untuk memberi support.

Pagi hari sudah disediakan bubur ayam dan goreng2an tahu, tempe, dan pisang, sedangkan untuk makan siangnya nasi lengkap dengan lauk-pauk serta puding dan buah2an. Kalah atau menang tidak soal, yang penting perut terisi terus.

Tim IA-PPM setelah pkl 09.00: Priyanto, Wahyoe Prawoto, Iwan, Rahmad, Budi, Ananda Sutrisno, Timotius, Dolly Prameswari, dan Mulyawan Tjandra & Istri. Selaku suppoter terlihat hadir Pak Sumarsono, Bu Nirma, Joseph Sumanti dan Septi dari Sekretariat Alumni. Dari Tim UI antara lain: Sunarji, Tisna, Narsikin, Martani, Ersi, Faturrahman, Tafsir & Istri.

Pertandingan tenis berikutnya direncanakan akan diadakan dengan Harian Pikiran Rakyat di Bandung, lalu dengan klub Pak Mulyawan di perumahan Raffles Hills Cibubur, dan Bu Dolly akan mengundang dalam rangka HUT Humpuss.

Ayo Tim Tenis IA-PPM, sekali-sekali kita berlatih bersama supaya setidaknya bisa mengimbangi lawan kalaupun belum sampai mengalahkannya, dan kita bentuk IA-PPM Tennis Club. (wp)

UI dan IA-PPM

Foto bersama kedua Tim: UI dan IA-PPM

Posted in Liputan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Jenguk Bang Dharma

Posted by wprawoto77 on November 30, 2008

Bang Dharma Judha (GL-72)

Bang Dharma Judha (GL-72)

Senang campur haru, itulah perasaan yang spontan timbul saat bertemu Bang Dharma Judha, seniorenku di Rumah C Asrama Mahasiswa ITB. Rencana menjenguk Bang Dharma yang disusun spontan saat undangan Totot Susanto (IF-81) untuk nonton Konser Leo Kristi hari Sabtu sebelumhya, terlaksana hari Rabu malam, 19/11/08. Kami menyambangi Bang Dharma di rumahnya di Kompleks Pertamina Pulo Gebang Jaktim.

Jarak yang lumayan jauh tidak jadi halangan kalau niat sudah tertanam. Aku (TI-77), Eddy Asmanto (TI-76) dan Adi Subagyo (SI-78) dengan masing-masing membawa istri, sepulang kantor langsung meluncur menuju rumah Bang Dharma. Bagyo paling dulu tiba, disusul Eddy dan terakhir aku. Kawan2 lain tidak ada yang bisa ikut karena waktunya bersamaan dengan keperluan lain yang sudah lebih dulu terjadwal.

Bang Dharma menyambut kami dengan senyum, waktu itu mengenakan kaos putih, celana pendek selutut dan tongkat di tangan kanan. Jalannya ter-tatih2 dibantu tongkat karena sejak usai operasi di bagian kepala 6 tahun yl (2002), tangan dan kaki sebelah kirinya tidak dapat digerakkan. Bersyukur dia bilang sekarang ini sudah lancar berbicara. Semula berbicara pun susah karena lidahnya ikut kelu. Di rumahnya saat itu cuma ada 1 dari 3 anak laki2nya, yaitu anak terkecil, Ibung namanya, dan seorang ibu separoh baya yang bertugas sebagai pramu wisma. Yang sulung, Boy, dan Buyung si nomor dua belum pulang.

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Ngobrol tahap I di ruang tamu

Kami langsung ngobrol, nostalgia di asrama ITB maupun perjalanan hidup setelahnya. Bang Dharma adalah alumnus Geologi, jurusan yang dimasukinya tahun 1972 tapi betah didiaminya sampai tahun 1982. Itu sebabnya dengan aku yang angkatan 77 masih jumpa serumah di RC-ITB. Bang Dharma memilih tinggal di kompleks itu karena di depan rumahnya tinggal adiknya yang staf Pertamina. Waktu awal2 pindah ke sana, ibunya pun ikut bersamanya di situ.

Si Abang yang asal Palembang ini masih ingat bagaimana skandal ‘ayam’ yang menimpa Rumah C waktu Pekan Olahraga Antarasrama (PORAM) tahun 70-an untuk mengalah karena Tim Rumah C dikenal jago catur. Juga dia ingat saat kita menerbitkan buletin ‘C Family‘ di tengah hangatnya perang antar Rumah B dan G (Barraq). Rumah C yang letaknya diantara kedua peseteru itu seringkali jadi korban juga.

Yang aku ingat tentang Bang Dharma adalah tawaran meminjamkan motornya, kalau tidak salah Honda Kijang 90cc. Di-sodor2kannya kunci motornya kepada kawan2 yang memerlukan motor. Baik kalikah dia? Iyalah, tapi rupanya ada maunya juga, syarat buat yang minjam adalah mengisikan bensin motornya itu. Aku dan Eddy juga sangat ingat bagaimana kami bertiga dengan Bang Robin Tibuluji (AR-73), menjadi wakil kawan2 RC untuk menghadiri resepsi pernikahan Bang Dharma di Semarang tahun 1982. Kami mampir dulu ke Yogya sekalian jalan2 dan entah disengaja entah tidak (cuma tokek yang tahu; yang jelas niatnya cari yang murah), kami mengingap di lokasi yang assooii punya di sekitar Malioboro.

Belum puas ngobrol di ruang tamu, kami diajak makan malam dengan hidangan khas Sumatera yang dominan pedasnya. Ada rendang, sambal goreng tempe, oseng pari, dan ayam balado. Betul2 di luar dugaan karena kami niatnya tinggal memanggil tukang nasi goreng atau makanan apalah yang lewat di depan rumah untuk makan malam di sana. Eh, dasar sifat positif orang Timur yang kedatangan tamu, tidak lengkap kalau tidak diajak makan. Yang ditawari punya prinsip: rezeki tidak boleh ditolak!

Ngobrol diteruskan di meja makan, termasuk saling mengingat kebiasaan makan kami2 sewaktu di asrama. Ada yang selalu menyisakan lauknya dengan menyikat habis nasinya lebih dulu. Ada yang suka menunggu batas waktu jam makan, begitu lewat langsung menyapu bersih yang masih ‘nganggur’. Ada istilah tukang clutak, mengambil jatah orang lain padahal belum waktunya. Pernah juga hired bibi masak dengan belanja bahan sendiri supaya lauknya lebih bergizi.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah foto bersama kami pun pamit di tengah hujan lebat yang sudah turun sejak sejam sebelumnya. Kita semua sama2 senang, yang bertamu selain disuguhi makan malam juga senang bisa jumpa kawan2 yang lainnya, termasuk para istri yang sebetulnya sudah saling kenal sejak lama. Tuan rumah pun senang dengan kunjungan itu, via SMS esok harinya selain ucapan terima kasih, Bang Dharma bilang seperti mendapat terapi saja dengan kunjungan dan ngobrol lepas rindu.

Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe

Ki-ka: Wahyoe P, Eddy Asmanto, Bang Dharma, Adi Subagyo, Gwenny Filya Subagyo, Wati Asmanto, Lita Wahyoe.

Terima kasih dan jangan kapoklah Bang dengan kedatangan kami, semoga cepat pulih kesehatannya. Kami pun berniat untuk menjenguk Mas Herry Andiarbowo (FT-74) yang menurut informasi dari Bang Gusni Aidil (TK-74), Mas Herry dalam kondisi sakit sejak sekitar 4 tahun yang lalu. Sampai jumpa lagi. (wp)

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

TI-77 ber-HUT Emas bersama

Posted by wprawoto77 on November 29, 2008

Tiarap, siap..... tembak!

Tiarap, siap..... tembak!

“Dar….dar…..dar….dar…dar..dar..dar,” suara letusan senjata api terdengar ber-sahut2an dari senapan laras panjang. Sepuluh orang bertiarap dengan masing2 senjata dibidikkan ke target lingkaran berjarak 25 meter di depan mereka. Setelah 7 peluru dihabiskan, terdengar suara instruksi,”Aman di kiri, aman di kanan, silahkan maju ke depan.” Kesepuluh petembak tadi maju ke jarak 10 meter dan kali ini masing2 menggunakan pistol dengan posisi berdiri, mengarahkan ke target yang sebelah atas, juga dengan 7 peluru. Dan hasilnya? Maman Adikusmana keluar sebagai Juara I menembak dengan senapan laras panjang dan Wahyoe Prawoto sebagai Juara II jenis pistol.

Wahyoe Prawoto (Jr.)

Wahyoe Prawoto (Jr.)

Lainnya dimenangkan oleh anggota keluarga yang turut serta: Fauzan dan Ariadita sebagai Juara II dan III senapan, sedangkan Juara I dan III pistol masing2 Ariadita lagi dan Yohannes R. Para juara tentu saja mendapatkan hadiah, yang diserahkan oleh Wahyu Utomo (Uut/EL-76), Direktur Produk Non-Militer alias Komersil Pindad.

Itu tadi salah satu mata acara yang disuguhkan pada peserta Syukuran HUT Emas TI-77 ke-50 (Limpul) yang diselenggarakan dengan sangat menarik pada hari Minggu, 24 Agustus 2008 di PT. Pindad Bandung. Kegiatan ini juga digelar dalam rangka pertemuan 6-bulanan yang telah disepakati TI-77 sebelumnya, dan menjadi klotter kedua HUT Limpul tahun ini. Klotter pertama sudah dilaksanakan tanggal 17 Februari 2008 di Pacific Place Jakarta. Delapan belas (18) alumni hadir: 9 dari Bdg, 8 dari Jkt, 1 dari Semarang, dan ditambah dengan anggota keluarga yang diajak serta, tercatat seluruhnya 42 orang meramaikan acara.

Wawan, si pengatur laku

Wawan, si pengatur laku

Hermawan ‘Wawan’ Hadimulya sebagai penggagas sekaligus panitia tunggal kegiatan ini tampak puas dengan senyum dan tawa lepas terlihat dari awal sampai akhir acara.

Meski tepat pukul 10 pagi yang dijadwalkan ruang Direktorat tempat kumpul pertama masih lengang, tapi begitu 40 menit kemudian mulai rame, acara segera dimulai dengan berjalan memasuki kompleks Pindad, dipandu oleh petugas yang menjelaskan sejarah singkat dan status Pindad sampai saat ini. Dua ribu karyawan bekerja di pabrik Bandung dan 1000 lagi di pabrik Turen, Malang, Jatim. Senjata laras panjang SS-2 dan pistol P-2 yang dipakai menembak itu adalah produksi Pindad yang tetap digunakan sampai hari ini oleh TNI dan instansi Pemerintah yang memerlukannya, seperti untuk petugas Lapas.

Pitit, Jeni, Herry, Kentis, Ponakan Kentis (Ryan), Sarwo, Henry, Juliadi, Chui, dan Wawan

Pitit, Jeni, Herry, Kentis, Ponakan Kentis (Ryan), Sarwo, Henry, Juliadi, Chui, dan Wawan

Kunjungan pada rute pertama adalah ke hutan lindung. Hampir semua peserta tidak mengetahui bahwa Pindad memiliki hutan lindung dan ikut dalam konservasi alam dengan menanam 6000-an pohon di daerah kritis. Tidak ada satu pun pohon yang boleh diganggu, pohon yang tumbang karena tua segera diganti dengan yang baru. Pohon buah2an juga ditanam a.l. durian, dan setiap jenis buah2an ditanam dalam kelompoknya masing2. Rombongan terus dibawa lebih ke dalam lagi, melewati bunker, melewati jembatan kecil di tengah rimbunnya pohon2 besar, yang kalau melihat akar gantungnya sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

Ular yang mukim di Pindad. Bagian dari suguhan acara?

Ular yang mukim di Pindad. Bagian dari suguhan acara?

Rupanya bukan hutannya saja yang dilindungi, bahkan baru beberapa meter melangkah masuk dari gerbang utama, rombongan sudah dipertontonkan dengan seekor ular di bawah pohon di pinggir jalan, yang kelihatannya juga nyaman bermukim di kompleks Pindad.

Ujung dari perjalanan menempuh rimba, rombongan peserta diajak melihat lokasi produksi panser. Dimulai dari penjelasan skema urut2an produksi, melihat produk yang sedang dikerjakan (Work in Process – WIP), yang sudah jadi, sampai menjajal produk jadi dengan menaikinya. Di hari ulang tahun TNI 5 Oktober yad, 10 panser dari 160 yang dipesan TNI-AD harus sudah selesai, untuk ikut parade.

Jeni, Herry, dan Abenk

Kentis di atas Panser. Depan: Jeni, Herry, dan Abenk

Dua panser yang sudah jadi, yang sedikit beda dalam susunan kursi di dalamnya dipakai untuk mengangkut peserta dari lokasi asembling ke Lapang Tembak, tempat dilangsungkannya lomba menembak seperti yang sudah diceritakan di depan. Kedua panser penuh sesak, sebagian peserta bahkan tidak kebagian naik. Kendaraan berbesi baja setebal minimal 1 cm tersebut dengan mulus tiba di tujuan dan semua peserta ber-puas2 untuk berpose di samping, depan, maupun atas panser tersebut.

Senjata yang diproduksi dan digunakan oleh peserta di bawah tanggung-jawab Divisi Senjata dengan tuan rumah Ir. Eddy Sriyarmanto (TI-79), yang siang itu langsung mengkoordinir para instruktur menembak dan dewan jurinya.

Selongsong peluru, senapan dan pistol

Selongsong peluru, senapan dan pistol

Peluru yang dipakai bukan main2, peluru betulan yang populer kita kenal dengan peluru tajam. Proyektil timah panasnya kalau mengena bisa mematikan. Itu sebabnya sebelum lomba dimulai, seluruh peserta diajak berdoa bersama dan puji syukur semua selamat sampai acara bubar.

Selesai menembak, rombongan berjalan kaki kembali ke gedung Direktorat untuk menikmati makan siang. Dalam perjalanan kembali, terlihat beberapa petugas naik sepeda ontel, kendaraan yang disediakan oleh Pindad untuk penghubung antargedung yang lumayan jauh jaraknya. Karena hari Minggu, sederetan sepeda diparkir rapi di salah satu ‘halte’. Kembali di Direktorat, sambil makan siang peserta menikmati alunan musik dari Fruit N’ Salads, grup yang diawaki 4 cowok dan 1 cewek sebagai vokalis.

Fruit N' Salads, menghibur sejak pagi

Fruit N' Salads, menghibur sejak pagi

Semuanya mahasiswa ITB. Devi sang vokalis yang tidak lain adalah putri pertama Wawan yang kuliah di SBM-ITB, disela menyanyi menjelaskan bahwa sebagian lagu yang mereka bawakan merupakan ciptaan sendiri. Paten kali ah, kata orang Medan.

Ada juga beberapa permainan untuk memeriahkan suasana seperti 2 tim beranggotakan 3 orang yang berlomba memasukkan badan ke kain sarung hanya dengan tangan kiri, kuis menjawab soal dari pembawa acara dll. Beberapa sambutan disampaikan usai santap siang, baik dari Wawan sebagai panitia tunggal, Uut mewakili Pindad, Bu Lurah TI-77 Pitit, yang intinya saling mengucapkan terima kasih atas layanan yang luar biasa yang dinikmati peserta kali ini. Untuk pertemuan 6-bulan yang akan jatuh di bulan Februari tahun depan direncanakan di Puspiptek Serpong, tempat salah satu alumni TI-77, Jeni Ruslan, menjabat sebagai Kepala sejak bulan Juni 2008 ybl. Wawan yang mantan Direktur Keuangan Pindad (1994-2000) sendiri sejak Agustus ini kembali masuk BUMN dengan menjadi Direktur Keuangan PT. Dirgantara Indonesia.

Gilang, Wahyoe, Herry, Eddy Entum, Maman

Foto bersama. Dpn: Irwan, Juliadi, Mus, John, Pitit, Kentis, Wawan, Heddy, Ramon, Sarwo. Blk: Gilang, Wahyoe, Herry, Eddy Entum, Maman

Terakhir, Mustafa Umar diminta memimpin doa dan pertemuan yang sangat berkesan itu ditutup dengan menyanyikan lagu Kemesraan sambil membentuk lingkaran dan bergandengan tangan. Sebelum berpisah pukul 16.00, masih disempatkan berfoto bersama, tentu dengan jumlah peserta yang tidak selengkap pada waktu siang harinya: Wawan ber-4, Herry Saptanto (1), Mustafa (5), Abenk (4), Heddy (2), Ramon (1), Chui (2), Juliadi (1), Maman (1), Jeni (2), Wahyoe (2), Pitit (1), Irwan (1), John Purba (6), Sarwo (1), Henry Bangun (4), Eddy Entum (2) dan Kentis (2). Belum ditambah 4 orang anggota grup musik kawan2 Devi. Mudah2an persahabatan TI-77 khususnya dan ITB-77 pada umumnya tetap langgeng dan bisa memberi manfaat bagi sesamanya. Terima kasih Wawan dan Manajemen PT. Pindad. (wp)***

Posted in Liputan | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.