Weblog Wahyoe Prawoto

Terminal Kristalisasi Permenungan dan Liputan

Archive for October, 2008

Fenomena datang terlambat

Posted by wprawoto77 on October 18, 2008

Datang terlambat katanya sudah menjadi budaya orang Melayu (baca: Indonesia). Datang terlambat ke suatu rapat, ke suatu undangan acara, dst, dari lingkup yang paling kecil di rapat RT, rapat organisasi, sampai rapat suatu perusahaan kelas raksasa. Dari undangan acara pertemuan yang dibuat oleh paguyuban atau organisasi tanpa bentuk, sampai undangan acara organisasi kemasyarakatan kelas kakap.

Datang tidak tepat waktu alias terlambat itu sebetulnya lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Dalam hal rapat, biasanya terpaksa dimulai molor waktu karena harus mentoleransi dengan menunggu beberapa menit atau jam. Lalu seringkali pimpinan rapat harus mengulangi menjelaskan jalannya rapat kepada yang baru datang, bahkan bisa lebih dari sekali kalau yang datang lebih belakangan dianggap ‘orang penting’. Kalau tidak dijelaskan ulang, tidak jarang yang datang terlambat ini mengulang pembahasan atau malah sekalian mengacaukan pembicaraan, sehingga pembahasan menjadi bertele-tele.

Kalau dalam hal undangan acara, sudah lazim acara jadi mundur, di awal acara dan otomatis saat selesainya. Yang meresahkan adalah kalau kita ingin bepergian bersama dengan menggunakan 1 bus misalnya, bisa jadi hanya karena 1 orang peserta, keberangkatan ditangguhkan. Akibatnya waktu yang tersisa untuk berekreasi menjadi lebih pendek karena lalu lintas yang makin siang makin macet, tiba di tujuan kesiangan dll. Bagaimana dengan yang sudah datang tepat waktu? Manusiawi kalau mereka merasa kesal dan merasa tidak dihargai oleh penyelenggara acara maupun oleh peserta atau undangan lainnya.

Aku kadang mengamati dan merenung kenapa fenomena datang terlambat atau tidak tepat waktu ini seperti sudah menjadi budaya? Orang bahkan sudah menjadi biasa dengan membuat undangan mencantumkan pukul X karena memberi waktu cadangan keterlambatan sampai 0,5-1,5 jam. Kucoba tuliskan apa yang kupikirkan dan juga comot sana-sini hasil pembicaraan warung kopi, apa yang ada di balik pikiran orang yang (suka) datang terlambat, apa yang ada di belakang fenomena datang terlambat ini.

Ada yang sengaja datang terlambat karena sudah berasumsi bahwa peserta lainnya juga akan datang terlambat. Tidak mau datang duluan dan duduk menunggu sendiri, malah mungkin ada rasa malu kalau datang terlalu cepat, kuatir dicap terlalu rajin, terlalu semangat. Ini alasan yang kelihatannya sekarang paling banyak dianut orang. Ada yang memang orang penting, sengaja datang terlambat karena memastikan hadirin sudah banyak yang datang. Yang lucu ada yang bilang, seseorang datang terlambat agar semua mata yang hadir tertuju padanya. Bahasa asingnya, dia butuh perhatian orang. Apa iya ya ada yang seperti itu? Jangan-jangan orang yang seperti ini pulangnya pun ingin selalu lebih cepat supaya diperhatikan lagi saat kepulangannya oleh orang banyak.

Yang di luar dugaan adalah alasan seorang kawan yang sudah sangat dikenal oleh lingkungan kumpulannya sebagai orang yang tidak pernah tepat waktu. Dia bilang sudah lelah dengan keharusan tepat waktu sejak sekolah TK, SD, SMP, lalu SMA, terus berlanjut di tempat kerja. Oleh sebab itu di perkumpulan yang dianggapnya informal inilah kesempatan dia untuk bisa datang terlambat, bebas dari keterikatan waktu. Mungkin dalam pikirannya tokh tanpa sanksi hukuman seperti di sekolah atau di tempat kerja dulu.

Tapi ada juga keterlambatan yang termasuk sulit untuk dihindarkan, termasuk aku sendiri sesekali mengalaminya, yaitu kalau menghadiri acara berbeda secara berurutan di hari yang sama. Biasanya kalau acara pertama molor waktunya, akan berakibat datang terlambat di acara kedua dan seterusnya di hari tersebut. Makanya, sulit dimengerti kalau acara pertama di pagi hari, yang berarti langsung dari rumah, masih juga bisa terlambat. Padahal berangkat langsung dari rumah dimana kendali waktu sepenuhnya ada pada kita. Kog bisa ya?

Lalu lintas kota besar yang macet sering dijadikan kambing hitam, padahal bagiku macet seperti di Jakarta itu sudah ‘given situation’, sudah tidak zamannya lagi disodorkan sebagai penyebab. ‘Kan tinggal kita atur waktu keberangkatan kita dengan lebih awal?

Akhirnya, tidak mudah memutus rantai salah kaprah ini, mau mulai dari mana? Dari penyelenggara acara yang harus disiplin saja memulai acara sesuai rencana meskipun yang hadir baru 2 orang, dari si orang penting yang kehadirannya harus ditunggu yang lainnya, atau dari peserta secara umum? (wp)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

Kawan di Yogya

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

LENGKAP rasanya perjalananku kali ini ke Yogya. Tugas utama dari asosiasi internet APJII selesai, tugas cari pesanan untuk orang rumah beres, dan pamungkasnya adalah niat berjumpa dengan Kolonel (TNI-AU) Syafrudin ‘Ucok’ Abdie. Itu semua terjadi dalam sehari dari pagi sampai sore di hari Selasa, 2 September 2008, hari ke-2 puasa Ramadhan 1429H.

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

WP dengan Kol. (AU) Syafrudin 'Ucok' Abdie dan istri (Tri) di bandara Adi Sucipto Yogya – Selasa sore, 2 Sept 2008

Kalian tahu ‘kan siapa Ucok Abdie? Nama yang sekali sebut, langsung berbagai kenangan dari kawan2 yang mendengarnya, muncul. Ada yang ingat dia itu anaknya Pak AW Abdie, penggiat bola di Medan (PSMS), ada yang terkenang Ucok sebagai anak yang suka jahil, aku sendiri ingat dia ini salah satu jago bola di sekolah, seperti juga Arfansyah yang sampai sekarang kupanggil Ipong.

Sore itu kupikir sudah hilang kesempatan emasku untuk jumpa dia, karena  sampai 30 menit menjelang boarding pesawatku di Bandara Adi Sucipto Yogya waktu mau balik ke Jakarta, Pak Jenderal kurang sikit ini belum juga nongol sesuai janji telepon siangnya. Apalagi teleponnya pun tidak aktif. Eh, akhirnya datang juga. Ucok dengan santai bisa masuk ke area check-in bandara bersama istri dan anaknya. Maklum dengan seragam TNI-AU-nya, siapa pula di bandara yang berani menghalanginya. Rupanya dia memerlukan untuk pulang dulu menjemput istri dan anaknya untuk jumpa kawan yang sudah 25 tahun tidak tatap muka, bahkan ‘tatap suara’ pun baru terjadi sekitar 3 bulan yl.

Sang Kolonel ini di Harapan semasa SD dan SMP, lalu melanjutkan ke SMA-6 bersama Abubakar, Prima, Syafrudin Bahagia, Una, Azmalia dll. Tidak tamat di sana karena dia terus pindah ke SMA-7 Bandung, sesuai kepercayaan yang dianut masa itu, bahwa untuk masuk ke universitas negeri di P. Jawa, kita harus SMA di P. Jawa juga. Lulus SMA ia melanjutkan ke Jurusan Statistik Unpad, tamat tahun 1984 meninggalkan Bandung, masuk milsuk (militer sukarela) TNI-AU dan bertugas di Komando di Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto, sampai sekarang. Tinggalnya pun di Kompleks Pangkalan.

Jumpa Tri, sang istri yang orang Jawa, di Yogya, yang dinikahinya tahun 1988. Istri tercinta sekarang mengajar di SMP-5 Yogya dan telah memberikan 3 orang anak: kembar Laki dan Perempuan dan si bungsu laki yang bernama Yanda, yang diajaknya menemuiku. Yang kembar tahun ini masuk kuliah, sayang aku belum sempat tanya kuliah di mana, sedangkan si bungsu kelas 2 SMA, tapi badannya tinggi tegap mengalahkan bapaknya. Ya, aku tidak menduga bahwa Ucok bisa tetap berbadan langsing. Bayanganku sebagai tentara tentu badannya tegap, malah mungkin cenderung gemuk. Tapi kumisnya masih hitam, sehingga waktu jumpa, spontan dia bilang, ”Kumis kau udah putih, Yu.” Mereka dapat anak kembar karena dari keluarga embahnya Tri ada yang kembar.

Ada yang unik dari si Ucok, tanggal lahirnya beda2 antara di SD, SMP, dan terakhir yang disampaikannya ke aku. Ini terungkap dari Kartika yang membongkar data kita di sekolah. Waktu kutanyakan ke Ucok, dia bilang, ”Aku memang asal isi aja, pokoknya tiap kali dapat formulir yang harus diisi dari sekolah, kuisikan aja semauku.” Yang terakhir dia berikan ke aku dan kumasukkan ke data Ikahar’76 adalah Medan, 5 Agustus 1958 (Mudah2an ini data dari akte kelahiran, Red)

Dia sebetulnya sering ke Jakarta, tapi belum punya cukup waktu untuk jumpa kawan2 di Jakarta. Di Jakarta ada abangnya, Pardomuan (Domu) yang bekerja di Litbang Depdagri Kalibata dan adiknya, Yan, yang jadi pengacara, lulusan FH-USU sama2 Taufik Chandra. Aku juga melacak lokasi Ucok lewat Taufik yang menanyakan ke Yan. Taufik sendiri diketemukan oleh Mala yang memberikan nomor Hpnya ke aku beberapa waktu sebelum Jumpa Kawan Lama Medan di Shangri La Jkt. Waktu acara HUT Emas Cisarua Ucok tidak bisa hadir karena kesibukan sebagai Ketua Panitia HUT Pangkalan TNI-AU Adi Sucipto. Tapi cerita tentang syukuran itu sudah dia ikuti dari Ikahar76News yang sudah diterimanya.

Yanda (anak ke-3), Ucok, dan Tri – Selasa, 2 Sept 2008

Tag nama yang dipakai Ucok di dadanya adalah “Abdie”, bukan Syafrudin. Tidak langsung kutanya waktu jumpa, tapi aku tetap penasaran sehingga begitu mendarat di Cengkareng aku tanyakan via sms sambil mengabarkan bahwa aku sudah sampai. “Memang Yu, aku di Yogya pakai nama Abdie, bukan Syafrudin apalagi Ucok,” jawabnya. Waduh, jangan2 waktu di bandara Adi Sucipto itu istri dan anaknya untuk pertama kalinya mendengar bapaknya dipanggil Ucok. Waktu bekoyok di sana, aku memang cerita ke istrinya bahwa di angkatan kita ada 3 Syafrudin: Syafrudin Nasution yang sekarang dipanggil Rudi, Syafrudin Bahagia (karena punya rumah makan Padang Bahagia), dan Syafrudin Abdie atau Ucok Abdie. Jadi masing2 ada nama panggilan untuk membedakan satu sama lain.

Begitulah Pak Kolonel kawan kita. Seperti kubilang di awal, lengkap rasanya perjalananku, terima kasih Ucok dan keluarga, kalian datang menjumpaiku di bandara saja sudah lebih dari cukup, apalagi masih sempat2nya membawakan buah tangan buat kubawa ke Jakarta. Salam buat si kembar! (wp)

Posted in Liputan | Tagged: | Leave a Comment »

Berkunjung ke Aceh 19-21 Nov 2007

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

Rezeki tidak kemana, kalau memang Allah menghendakinya maka akan kita peroleh jua. Begitulah, selain mendapat kesempatan berkunjung ke kota Banda Aceh, juga berkesempatan untuk mengunjungi kawan yang sudah beberapa kali berkunjung dan bertemu di Jakarta, lalu bertemu dengan seorang kawan SMP/SMA yang sudah 32 tahun tidak jumpa, dan seorang kawan kuliah yang sudah 20-an tahun tidak jumpa. Setelah sekian puluh tahun di Jakarta, baru sekali ini ada kesempatan melihat kota di ujung Sumatera itu.

Hari Senin malam, 19 November 2007 rombongan kami check-in ke Hotel Hermes Palace, hotel mewah di Jl. T. Panglima Nyak Makam yang dulunya bernama Swiss-Bell. Aku ikut ke sana karena suatu acara berkaitan dengan pekerjaanku di bidang Internet. Perjalanan sejak siang dari Jakarta tidak terasa melelahkan karena kami langsung bisa makan malam begitu datang. Kami di sana untuk selama 3 hari 2 malam karena Rabu pagi 21/11 akan kembali lagi ke Jakarta.

Yang lebih menyenangkan adalah pukul 20.00 sesuai komunikasi sebelumnya dengan kawan kita Elina, aku dijemput oleh kawan lama yang bernama Syafri Gani. Ini kawan yang

Elina, Syafri Gani, dan Wahyoe P.

Ikan bawal segar disantap di sini. Ki-ka: Elina, Syafri Gani, dan Wahyoe P.

sudah 32 tahun tidak jumpa, namun kami tetap saling mengenali wajah dan postur masing2 yang tidak banyak berubah. Setelah ngobrol sebentar, aku diajak menemui Elina yang rupanya sudah menunggu di tempat makan. Kami bertiga makan ikan bawal segar di Cafe Fusse…. (pokoknya susah nyebutnya karena pakai B. Jerman, maklum pemiliknya lulusan Jerman, kata Elina). Meski di hotel sudah makan, tetap saja di tempat itu masih lebih nikmat dan lahap. Ditraktir pula. Lokasinya memang tidak jauh dari laut, jadi beda2 tipislah dengan suasana di Jimbaran, Bali. Ikan bawal pakai bumbu kecap pedas, dan sayur sejenis cap cai kami sikat habis.

Selesai makan aku diajak keliling melihat bekas2 tsunami akhir 2004 yl. Obrolan yang semula ceria langsung senyap karena aku merasa merinding melihat tempat2 itu. Paling merinding waktu mereka bawa ke lokasi kapal PLTD Apung-nya PLN yang berukuran besar yang “terlempar” ke darat dari pantai Ulee Lee sejauh kurang lebih 4 km. Kuasa Allah betul2 ditunjukkan di situ.

Di depan kapal PLTD Apung PLN yang terdampar 4 km ke dalam kota.

Di depan kapal PLTD Apung PLN yang terdampar 4 km ke dalam kota.

Kapal sebesar itu bisa ada di tengah perumahan dan diam memotong jalan. Kalau beberapa kapal lainnya sudah “dikembalikan” ke laut, kapal ini selain paling berat juga paling jauh terlempar. Kata Syafri di lokasi itu akan dibangun Museum Tsunami Aceh, disainnya dilombakan dan sudah ada pemenangnya.

Sekarang ini jalan yang semula lurus terpaksa harus dibelokkan mengitari buritan kapal besi tsb. Kapal pembangkit listrik bertenaga diesel berkapasitas 10 Megawatt itu diberi beberapa lampu penerang dan di situ tinggal seorang operator mesin. Malam dengan penerang yang temaram seperti itu tentu tidak memungkinkan untuk mengambil foto, oleh sebab itu aku kembali ke sana besok siangnya menyewa taksi dengan kawan sekamar yang sama2 menjadi pembicara di acara kami. Jadi hampir semua foto yang terlihat di tulisan ini diambil siang hari esoknya.

Elina yang duduk di kursi belakang mobil bercerita bahwa sejak kejadian tsunami warga Banda Aceh bisa menikmati makanan seperti Pizza Hut, Pizza House, A & W, KFC dll yang

KFC dan billboard besar, 2 diantara budaya yang muncul pasca tsunami.

KFC dan billboard besar, 2 diantara budaya yang muncul pasca tsunami.

sebelumnya tidak ada. Mungkin karena ratusan orang asing berdatangan ke Aceh dalam rangka memberi bantuan pemulihan. Syafri juga menambahkan bahwa billboard iklan pun sekarang lumayan banyak dengan ukuran yang lumayan besar. Selain makanan asing itu, biaya hidup juga meningkat karena banyak jasa dan barang yang tarifnya terangkat naik mengikuti daya beli orang2 asing tsb. Kamar tanpa kamar mandi contohnya, bisa disewakan dengan tarif Rp 6 juta/bulan.

Seperti halnya kota besar, di Banda Aceh juga ditemui pusat belanja yang cukup besar, Barata namanya, dengan memasang tag line Pusat Belanja Murah. Kata Elina di situ memang dijual barang2 dengan harga yang lumayan murah. Selalu ramai pembelinya. Kalau bioskop

BARATA, Pusat Belanja Murah

BARATA, Pusat Belanja Murah

yang memutar film sudah tidak ada. Kami melewati bangunan seperti pertokoan di hook, sebagian kiosnya sudah tutup, dan di dinding gedung paling atas tertulis Jelita Theatre, katanya dulunya bioskop, sekarang sudah tidak terpakai.

Aku juga ditunjukkan rumah2 yang dibangun oleh NGO yang berukuran 30-40 m2 atau Tipe-36. Rumah2 itu sebagian sudah ditempati dan sudah ditanami halamannya dengan

Rumah tipe-36 yang dibangun oleh NGO pasca tsunami yang sudah ditempati (kiri) dan yang belum ditempati (kanan).

Rumah tipe-36 yang dibangun oleh NGO pasca tsunami yang sudah ditempati.

Rumah yang belum ditempati.

Kuburan Massal tempat ribuan korban dimakamkan, terletak di tepi laut.

Kuburan Massal tempat ribuan korban dimakamkan, terletak di tepi laut.

tanaman hias dan berpagar, tapi sebagian lagi masih dibiarkan kosong. Begitu juga terdapat mesjid yang harus dibangun kembali karena hancur sama sekali. Tidak jauh dari situ, di sebelah kiri jalan, terdapat Kuburan Massal, tempat dimakamkannya ratusan korban yang tidak bisa dikenali lagi identitasnya. Tidak ada nisan, tidak ada gundukan2 tanah, yang ada hanyalah batu prasasti berisi kutipan ayat Qur’an, beberapa batu besar, mirip makam Baqi di dekat Mesjid Nabawi, Madinah.

Karena malam hari dan masih basah bekas hujan, suasana kota jadi terasa sepi dan sangat lengang. Aku diajak melihat Mesjid Raya Baiturrahman yang tetap utuh meski sekelilingnya waktu itu dikepung air setinggi pagar mesjid. Mesjid ini lebih besar dan lebih indah dari Mesjid Raya Medan. Kami juga melewati satu sekolah SMA yang dibangun zaman Belanda yang masih utuh sementara di sebelahnya sekolah SD yang dibangun belakangan malah hancur terkena terjangan tsunami. Sekarang SD itu sudah dibangun kembali.

Di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Di tempat aku berdiri itu dulunya air setinggi pagar

Di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Di tempat aku berdiri itu dulunya air setinggi pagar

Yang aku kagum adalah alun2 yang luar biasa luasnya, bisa jadi alun2 terluas yang ada di Indonesia. Perbedaan yang langsung terlihat dibandingkan Jakarta adalah tidak ada bangunan tingkat tinggi, paling tinggi cuma 3-4 lantai. Lalu bangunan kantor pemerintah, selain gedungnya besar, halamannya juga sangat luas.  Lihat saja kantor gubernur, kantor DPRD, Polda, dan rumah2 dinas pejabat pemerintah. Yang juga membedakan adalah di kamar hotel sudah disediakan sajadah, tidak perlu diminta lagi ke housekeeping. Begitu pula dengan petugas perempuan yang dinas di lobi semuanya mengenakan kerudung.

Syafri Gani & aku, 32 thn tidak jumpa.

Syafri Gani & aku, 32 thn tidak jumpa.

Setelah Elina diantar ke tempat mobilnya diparkir dekat cafe semula, aku diantar pulang ke hotel oleh Syafri Gani. Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 23.00. Selasa besok siang kalau ada waktu rencananya Elina mau mengantar aku keliling2 kota lagi supaya bisa melihat lebih Jelas. Syafri ada tugas ke Sabang, tidak bisa gabung. Aku bersyukur punya kawan yang baik seperti Elina dan Syafri Gani ini. Semoga Allah membalas budi baik kalian berdua.

Syafri di Harapan sama dengan Elina, dari kelas 1 SMP sampai tamat SMA. Dia

insinyur sipil lulusan Unsyah tahun 1988 kemudian mencoba bekerja di Medan tapi akhirnya menjadi Civil Engineer di Bappeda Aceh. Tinggal di Aceh sejak mulai kuliah tahun 1978 dan sekarang bersama istri telah dikaruniai 2 orang anak kembar laki-perempuan berumur 2 tahun. Kog masih kecil? Iya, dikasih momongan sesudah tiga belas tahun menikah. Alhamdulillah.

Elina setelah lulus SMA Harapan, meneruskan kuliah di Fak. Ekonomi UII Yogya. Sekarang bekerja di BPD Aceh sebagai Kepala Divisi Syariah. Dia bilang sudah kenyang berpindah tugas, termasuk cukup sering ke Jakarta untuk mengikuti upgrading dan pelatihan. Suaminya, AK Jauhari, yang bekerja di Dinas Pertambangan Pemda Aceh, adalah lulusan Akademi Geologi Bandung. Kantor Elina dan Syafri persis bersebelahan di Jl. Tgk. M. Daud Beureuh, satu diantara jalan besarnya kota Banda Aceh. Kantor Dinas Pertambangan juga terletak di jalan yang sama.

Lokasi tempat Elina & suami dihantam tsunami

Lokasi tempat Elina & suami dihantam tsunami

Memenuhi janjinya, Elina menjemput aku lagi ke hotel pkl. 17.30 Selasa sore

Di atap ini Elina tersangkut dibawa air, suaminya tersangkut di rumah lainnya.

Di atap ini Elina tersangkut dibawa air, suaminya tersangkut di rumah lainnya.

20/11. Aku ajak seorang kawan dari rombongan kami, Pak Rudi Rusdiah namanya. Elina mengajak kami ke lokasi tempat dia dan suaminya terkena musibah tsunami saat mereka sedang mengendarai mobil menuju rumah saudara. Mobil yang mereka tinggal lari, terseret air ke dalam halaman rumah orang, sedangkan Elina sendiri tersangkut di atap rumah itu, sementara suaminya tersangkut di atas rumah lainnya yang berjarak 2 rumah dari rumah diman Elina tersangkut.

Mobil yang diparkir di rumahnya bernasib lebih buruk, berpindah ke halaman belakang rumah tetangga yang tidak ada jalan mobilnya, sehingga untuk mengeluarkannya harus menggunakan backhoe.

Aku di pinggir pantai Lhoknga, tempat air bah itu berawal. Suasana Maghrib waktu itu.

Aku di pinggir pantai Lhoknga, tempat air bah itu berawal. Suasana Maghrib waktu itu.

Lalu kami ke pantai Lhoknga, pantai tempat wisata yang menjadi awal tempat datangnya tsunami. Pantai ini sekarang sepi dan tertutup untuk wisata, di pinggir pantainya sudah disusun batu2 besar melebihi tinggi jalan. Langit Banda Aceh masih agak terang meskipun waktu sudah menunjukkan lewat pukul 6 sore karena posisi kota ini memang lebih ke barat dibandingkan Jakarta. Kami masih bisa melihat pantai dengan deburan ombaknya yang cukup keras dalam suasana sunset saat itu.

Di seberang jalan ada gunung yang menjadi penahan air bah, yang masih menunjukkan batas tinggi air waktu itu karena tidak ditumbuhi tanaman.

Pabrik Semen Andalas di pinggir pantai Lhoknga, yang pekerjanya banyak menjadi korban.

Pabrik Semen Andalas di pinggir pantai Lhoknga, yang pekerjanya banyak menjadi korban.

Tidak jauh dari pantai terdapat pabrik Semen Andalas yang dulu juga hancur dan pekerjanya banyak menjadi korban. Sekarang sudah beroperasi kembali. Hasil pabrik ini berupa semen curah yang dialirkan lewat pipa panjang ke pinggir pantai dimana sudah menunggu kapal yang akan mengangkut semen curah itu ke Padang untuk dikemas ke dalam kantong2nya.

Lucu juga, pergi ke pantai aku pakai batik, maklum pakaian sehabis menghadiri diskusi pagi sampai siang belum sempat diganti, bahkan laptop pun masih kubawa di mobil Elina. Tidak jauh dari pantai itu, melewati bekas perumahan tentara yang juga hancur, rupanya Elina punya langganan Mie Aceh dan sea food bernama “Lhoknga Cafee”. Jalannya menuju lapangan

Rudi dan Elina.

Makan mie Aceh dengan kepiting di Lhoknga Cafee. Ki-ka: Rudi dan Elina.

golf yang juga makan korban pemainnya di hari Minggu, 26 Des 2004 itu. Kami mampir dan pesan mie rebus dengan kepiting. Enak kali rasanya karena kepitingnya segar, mienya juga lebih gurih rasanya. Warung ini sempat hancur juga diterjang tsunami, istri pemiliknya tewas sedangkan anaknya terseret air hingga jauh. Si bapak pemilik warung waktu itu sedang belanja ke pasar sehingga selamat dari musibah. Warungnya sekarang sudah ramai kembali, terutama akhir minggu. Waktu kami makan, ada 2 meja lainnya yang terisi. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke warung di pinggir jalan untuk sekedar membeli oleh2 kue2 kering. Mobil tidak langsung diarahkan ke hotel, melainkan menuju Kampus Unsyah (Universitas Syah Kuala) meskipun waktu sudah menunjukkan pkl. 19.00 lebih. Tidak lama sesudah melewati jembatan yang lumayan panjang, kami memasuki areal kampus. Kampus yang sangat luas seperti luasnya kampus UGM dan UI Depok. Jalan2nya lebar, bangunannya besar2. Sayang di sana-sini terlihat genangan air bekas hujan di jalan2 kampus karena drainage yang kurang baik. Bangunan2 bagian depan kampus ikut direhabilitasi karena juga terkena tsunami, sedangkan kampus IAIN Ar-raniri yang berada di depannya terkena lebih parah karena lebih dekat ke laut.

Mendekati pkl. 21.00 kami diantar kembali ke hotel dan Elina membatalkan rencananya pergi ke suatu acara yang seharusnya pkl. 20.00. Maaf Elina, jadi mengganggu acaramu, tapi tidak ada ucapan yang lebih pantas aku ucapkan kecuali terima kasih dan semoga Allah membalas semua kebaikanmu serta salam untuk Bang AK yang katanya masih di kantor.

Kawan kuliahku Alfian Abubakar yang 20-an tahun tidak jumpa.

Kawan kuliahku Alfian Abubakar yang 20-an tahun tidak jumpa.

Aku masuk hotel sambil menunggu seorang kawan kuliah yang sudah lebih dari 20 tahun tidak jumpa, tapi kembali kontak karena secara kebetulan berjumpa di TPS Pemilu Ketua Umum IA-ITB di gedung PLN empat hari sebelumnya yaitu hari Sabtu, 17/11/07. Alfian Abubakar namanya. Maghribnya dia sebetulnya baru mendarat dari Jakarta. Malam itu sekitar pukul 22.00 kami ke Warung Kopi di daerah Ulee Kareng Jl. T. Iskandar yang sangat terkenal itu.

Hampir setiap orang yang ada di tempat itu dikenal dan mengenal Al, begitu Alfian biasa dipanggil. Di tempat itu juga obrolan warung kopi bisa menjadi keputusan di parlemen (DPRD) karena yang datang ke sana adalah anggota parlemen, pimpinan proyek, di Pemda, pengusaha dll. Kopinya sendiri memang enak, dihidangkan bersama roti dengan sele (selai) serikaya, yang sudah puluhan tahun tidak kurasakan. Kami juga pesan martabak telor yang agak lain memasaknya karena tidak “rapi” seperti Jakarta yang dipotong persegi, melainkan hanya 2 lingkaran seperti telor ceplok dan ditaburi acar bawang yang diiris tipis2. Rasanya tidak kalah enak dibandingkan martabak telor di Jakarta. Tidak terasa kami ngobrol sampai menjelang pukul 24.00, sampai2 diingatkan pelayan warung bahwa mereka sudah mau tutup. Kami pun diantar kembali ke hotel oleh Al. Terima kasih banyak, Al, meski kamu capai baru datang dari Jakarta, tapi masih menyempatkan menjumpaiku. Sampai ketemu lagi. Akhirnya, siapa tahu suatu saat diperlukan, kucatatkan alamat Hotel Hermes Palace: Jl. T. Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Telp. (0651) 755 5888, Fax. (0651) 755 6999, Email: info@hermespalacehotel.com. (wp)

Posted in Liputan | Tagged: | 1 Comment »

Kini bagian kami

Posted by wprawoto77 on October 15, 2008

Waktu mau perayaan 17-an tahun lalu (2007), aku coretkan seuntai puisi yang semula untuk dibacakan oleh salah satu anak muda di kavling tempat tinggalku. Tapi urung, karena ada materi yang lebih pas dibacakan saat itu. Sayang dibuang sayang, puisi itu aku posting di sini.

Kini bagian kami

Kami pasti percaya
perjuangan para pahlawan bertaruh nyawa
demi memerdekakan bangsa
dari belenggu penjajahnya

Kami pasti percaya
sebagian yang melanjutkan perjuangannya
memberi yang terbaik yang mereka punya
tanpa mengharap puji dan puja

Namun sama kita tahu
bagaimana nasib Indonesiaku
dalam 62 tahun perjalanan bangsaku
jauh…, jauh dari negeri yang terpandang dan maju

Generasi pasti berganti
kini bagian kami
kini giliran kami
memegang kendali
untuk membenahi, memperbaiki, dan menyusun kembali
keping-keping potensi yang terserak di sana-sini

Kini bagian kami
membangun Pertiwi

Jakarta, Juli-Agustus 2007

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.