Weblog Wahyoe Prawoto

Terminal Kristalisasi Permenungan dan Liputan

2011 in review

Posted by wprawoto77 on January 7, 2012

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 3,200 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 53 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Tagged: , , | Leave a Comment »

Rusdani

Posted by wprawoto77 on January 12, 2011

RusdaniSedang hangat dibicarakan di milis Ikahar76, aku tanpa sengaja jumpa sama Rusdani, kawan kita yang sekarang mukim di Medan, bekerja di PT PP (Pembangunan Perumahan) dan sedang mengerjakan proyek di Aceh. Jumpanya di acara ngunduh mantunya Sebastian Dja’afar (Ikahar75), Hadistian Muhammad Kahfi (Kahfi) dengan Rizka Anneiza (Nieza), pada hari Minggu, 9/1/11 di Aula Kemtan (dulu Deptan), Jakarta Selatan.

Rusdani datang sekeluarga lengkap dengan istri dan 1 anak perempuan. Anaknya waktu SD di Harapan, setelah SMP pindah ke SMP 1 Medan, sekarang duduk di Kelas 1. Selama proyek di Aceh, keluarga tetap tinggal di Medan. Dani juga bawa 2 dari 3 anak abangnya, Almarhum Benny, yang seangkatan dan berkawan baik dengan Bastian. Selain lewat milis Ikahar76, Rusdani juga menerima sms undangan dari Bastian dan meminta Dani membawa anak2nya Benny utk hadir.

Rusdani dari Kelas 5 SD di Harapan, SMA-nya pindah ke SMA 1 dengan Nia, Erry Halim. Rudi dll, lalu Kelas 3 SMA pindah ke SMA 8 Bandung, juga dengan Nia. Melanjutkan ke ITB di Jurusan Sipil, satu jurusan dengan Donny Trisetia, satu angkatan dengan Edisan Edward (Mesin), Tami Idiyanti (Biologi), dan Wahyoe Prawoto (Teknik Industri), yaitu angkatan 1977. Jumpa jodohnya di Bandung, lulusan FE UNPAD, putri dari orang yang cukup dikenal Prof. Didi Atmadilaga, guru besar UNPAD dan pernah menjadi Rektor UNPAD.

Dani cerita katanya di Medan pernah jumpa sama Rinaldi, kawan Harapan yang kerja di perusahaan pemasok alat berat Hitachi. Dia banyak lupa kawan2 sekolah, hanya beberapa yang dia ingat, termasuk Lisdar, Mala, John, dan Tri Dewandono.

WP dan Rusdani

WP dan Rusdani - Minggu, 9/1/11.

Aku kembali mengingatkan Rusdani untuk menyempatkan jumpa Elina dan Syafri Gani di Banda Aceh. Karena dia tetap tidak ingat, kusarankan sekali lagi untuk melihat blogku di http://wprawoto77.wordpress.com pada bagian cerita berkunjung ke Aceh tahun 2007. Di blog itu ada foto Elina dan Syafri Gani yang cukup jelas.

Itu sedikit ceritaku tentang perjumpaan dengan Rusdani. Mudah2an bisa mengembalikan ingatan ke kawan lama kita. Aku sertakan juga foto Rusdani di tengah acara resepsi di gedung pertemuan Deptan itu untuk lebih memudahkan mengingat. Foto ini dijepret oleh putri semata wayangnya Rusdani.

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

2010 in review

Posted by wprawoto77 on January 6, 2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,000 times in 2010. That’s about 5 full 747s.

 

In 2010, there were 5 new posts, growing the total archive of this blog to 19 posts. There were 20 pictures uploaded, taking up a total of 3mb. That’s about 2 pictures per month.

The busiest day of the year was October 7th with 30 views. The most popular post that day was Arsip Ikahar’76.News.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were mail.yahoo.com, facebook.com, google.co.id, itb77.blogspot.com, and en.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for rs aini, rumah sakit aini, peluru, pindad, and ruang tunggu rumah sakit.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Arsip Ikahar’76.News February 2010

2

Kontrol mata ke RS Aini March 2010
4 comments

3

Berkunjung ke Aceh 19-21 Nov 2007 October 2008
1 comment

4

TI-77 ber-HUT Emas bersama November 2008

5

About September 2008
2 comments

Posted in Arsip | Leave a Comment »

Edisan mantu

Posted by wprawoto77 on December 12, 2010

Bersama kawan2 ITB77 dan SMA-11 Bdg (dok: FC)

Satu demi satu kawan kita mantu. Hari Minggu, 12.12.2010 ini giliran Ir. M. Edisan Edward yang mantu. Anak pertamanya, Essy Prita Cinta, ST dipersunting cowok pujaannya, Bram Prasetyo, SIP, MM. Akad nikah berlangsung pagi hari, sedangkan resepsi diadakan siang harinya, di tempat yang sama, Gedung Wanita Patra, Terusan Simprug, Jakarta Selatan.

Edisan (kiri) dan dominasi ungu di pelaminan (dok: VL)

Essy yang finalis Putri Indonesia 2009 mewakili Jawa Barat, adalah lulusan ITB jurusan Planologi. Lahir dan besar di Bandung, Essy mengikuti jejak sang ayah yang juga lulusan ITB, tapi dari jurusan Teknik Mesin Penerbangan. Sulung dari 3 bersaudara ini sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta asing di Jakarta. Karena masih mengalir darah Sumateranya, maka acara resepsi siang itu bernuansa Sumatera dengan dominasi warna ungu. Sang suami, Bram, adalah putra dari Kel. (Alm) Bpk. H. Abdul Kadir Said.

20-an kawan2 Ikahar'76 Mdn menghadiri resepsi pernikahan (dok: LA)

Kawan2 Ikahar’76 Medan lumayan banyak yang hadir. Ada Vely & istri,  Rizali & istri & anak, Lena & suami, Linda & suami, Iyun, Mala, Una, Rudi, Putu, dan Jim. Lalu menyusul datang Wahyoe & istri, Edris & istri & anak. Terakhir di ujung acara datang Nia Pulungan. Total jenderal sekitar 20-an orang yang hadir. Belum yang hadir dari kejauhan seperti Yanie, Erna, Thila, Ruli, Kiky, Ida, dan Lisdar. Hadir pula beberapa kawan Edisan dari ITB’77 dan kawan2 ex SMA-11 Bandung. Edisan memang lulus dari SMA-11 Bandung setelah SMP dan SMA sampai kelas II di Harapan Medan.

Sekali lagi semua kawan2 Ikahar’76 mengucapkan selamat dan ikut berbahagia bersama kedua keluarga yang telah dipersatukan. Selamat kepada kedua mempelai, semoga dapat membina keluarga yang langgeng, mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah. Amin.(wp)

Posted in Liputan | Tagged: , , , | 2 Comments »

Kontrol mata ke RS Aini

Posted by wprawoto77 on March 20, 2010

Sabtu menjelang siang, 20 Maret 2010 aku kontrol mata ke RS Mata Prof.DR. Isak Salim ‘Aini’ di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Hampir 2 tahun tidak kontrol, terakhir ke sana tanggal 5 April 2008. Alhamdulillah hasilnya baik, menurut Dokter Andi Arus Victor, dokter spesialis mata sub spesialis retina, yang selama ini menanganiku. Aku diberi obat tetes Cenfresh, katanya untuk penyegar. Waktu kuambil di apotiknya, dijelaskan petugas apotik bahwa diteteskan 6 kali sehari, mata kanan dan kiri. Dosisnya untuk selama 15 hari dan resepnya boleh diulang sebanyak 1 kali.

Ruang tunggu RS Aini

Ruang tunggu RS Aini yang luas, di depan kamar praktek dokter.

Meski setelah direnovasi aku sudah pernah berobat ke sana, tapi kali ini sewaktu menunggu, baru aku perhatikan dengan lebih seksama bahwa RS Aini memang sudah berubah wajah. Apalagi sekarang renovasinya sudah bisa dikatakan rampung. Rumah sakit yang digagas oleh Bu Ali Sadikin, istri Bang Ali, Gubernur DKI waktu itu, terlihat lebih megah dan nyaman. Tempat pendaftaran pasien lebar dan bagus, ruang tunggunya langsung di hadapan tempat pendaftaran, sangat luas karena digabungkan untuk semua ruang praktek dokter. Kalau yang lama, terpisah-pisah, masing-masing ruang praktek ada ruang tunggunya, sehingga lebih sempit dan terlihat pasien terlalu berjubel.

Tempat pendaftaran dan ruang inap di atas

Tempat pendaftaran dan ruang inap di atas.

Kafetarianya di dalam ruang kaca pada lantai yang sama dengan ruang tunggu, sangat memudahkan bagi pasien dan pengantar yang ingin jajan. Ruang rawat inapnya di lantai atas pun sudah difungsikan. Bangunan yang lama masih tetap ada, tapi semua kegiatan sudah dipindahkan ke bangunan yang baru. Pintu masuk dari jalan besar dipindah dan alur parkir diubah arah. Biaya berobatnya pun sudah naik lagi rupanya, beda dengan 2 tahun lalu saat aku berobat.

Patung di depan bangunan lama

Patung Ny. Ali Sadikin di halaman tengah bangunan lama

Tahun 2003, pertama kali aku mengunjungi RS Mata Aini setelah 18 tahun menetap di Jakarta dan setelah 30 tahun memakai kacamata. Waktu itu penglihatan melalui mata kiriku mengalami gangguan. Semua obyek hanya terlihat setengah bagian atasnya, sedangkan bagian bawahnya hitam pekat. Rabu sore, 28 Mei 2003 waktu memeriksakan mata ke sana, setelah berganti ke dokter kedua yaitu Dokter Andi, aku langsung diperintahkan untuk opname sore itu juga karena harus dioperasi esok harinya. Kalau tidak, mata kiriku akan buta. Sejak itu aku tahu, bahwa mata kiriku terkena ablasio retina (retinal detachment), jaringan retina mata yang berfungsi menampung bayangan obyek, “lepas” dari dinding dalam bola mata bagian belakang karena “ditarik” oleh cairan vitreous dalam bola mata yang menyusut/mengkerut, yang di beberapa lokasi erat melekat dengan retina. Selaput halus yang terdiri dari syaraf yang tersambung ke syaraf optik di otak menjadi berlubang atau robek. Di tempat yang robek itulah muncul bayangan gelap alias tak tertangkap gambar obyek.

Bola mata

Posisi Retina dalam bola mata (Sumber: Brosur RS Aini).

Setelah sempat tertunda karena kejadian yang tidak terduga kurang dari 2 jam sebelum operasi tanggal 29 Mei, akhirnya aku menjalani operasi pada hari Senin, 1 Juni 2003. Operasi bedah vitrektomi dapat menyelamatkan mataku, meski 1 minggu setelah operasi aku harus tidur menelungkup. Hal ini dilakukan agar gas yang disuntikkan ke dalam bola mata dapat mendorong retina untuk melekat kembali ke tempat semula. Bayangkan balon gas yang menyundul ke langit-langit kamar, kira-kira seperti itulah cara kerjanya.

Berkat keterampilan Dokter Andi Victor, ketekunan para perawat RS Aini, kesabaran keluarga yang menjaga, kawan-kawan kantor Pacific Link serta rekan sesama anggota APJII yang terus memberi semangat, dan tentu saja kehendak Allah SWT, alhamdulillah operasi berhasil sampai penyembuhan pasca operasi. Yang bertambah adalah minusnya menjadi 2 kali lipat dari semula, sehingga minus mata kiri menyalip minus mata kanan.***

Posted in Liputan | Tagged: , | 17 Comments »

Arsip Ikahar’76.News

Posted by wprawoto77 on February 28, 2010

Sayang-sayang dibuang sayang, aku letakkan saja arsip Ikahar’76.News, buletin Ikatan Abiturient Harapan Medan Angkatan 1976 yang pernah kukelola penerbitannya, di blog ini.

News Edisi 2002-11

News Edisi 2006-03

News Edisi 2006-08

News Edisi 2007-03

News Edisi 2007-08

News Edisi 2008-03

News Edisi 2008-08

Siapa tahu ada kawan yang belum pernah menerima kiriman buletin-buletin ini via pos atau arsipnya sudah hilang, ingin membacanya (kembali).

Posted in Liputan | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Di larang dan disini

Posted by wprawoto77 on February 28, 2010

Dalam satu perjalananku ke Bandung hari Sabtu, 31 Oktober 2009, aku singgah di tempat istirahat Km 40 (kalau tidak salah) jalan tol Cikampek. Di sana ada mesjid yang lumayan besar, kubahnya berwarna hijau. Sewaktu mengambil wudhu untuk shalat Dzuhur, terbaca petunjuk yang dipasang di atas kran wudhunya yang menarik perhatianku, “DI LARANG KENCING DISINI!!” dengan huruf besar semua dan dengan 2 tanda seru di belakangnya.

Awalan “di” yang seharusnya tidak dipisah malah dipisah (seharusnya “dilarang”) sedangkan kata depan “di” yang seharusnya dipisah malah tidak dipisah (seharusnya “di sini”). Rupanya si pembuat sudah mendengar ada “di” yang harus dipisah, tapi masih menempatkannya secara terbalik.

Petunjuk di tempat wudhu

Petunjuk di tempat wudhu, di tempat istirahat Km 40 tol Cikampek - Sabtu, 31 Okt 2009.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | 3 Comments »

Rumah “di jual”

Posted by wprawoto77 on October 24, 2009

Sabtu sore ini (24/10/09) saya sempatkan akses ke FB, melihat sebuah foto yang menarik yang ditayangkan oleh kawan saya. Semula saya pikir dia berbaik hati ingin menyumbangkan foto itu ke saya karena saya punya blog yang banyak membahas soal ejaan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Ternyata dugaan saya keliru, karena sewaktu saya berikan komentar soal ejaan, dia katakan bahwa dia serius mau jual rumah.

Sekalian mengisi kembali blog saya yang sudah lama vakum, tentu tidak ada salahnya juga membantu kawan yang mau menjual rumahnya, sehingga foto tersebut saya tampilkan di sini.

Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)

Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Menaikan atau menaikkan?

Posted by wprawoto77 on May 21, 2009

Masih soal kebahasaan. Pulang dari Yogyakarta urusan APJII hari Selasa sore, 12 Mei 2009 di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, saya dan rekan berjalan ke luar mencari lokasi Bus Bandara. Tidak sengaja terlihat di lokasi penjemputan penumpang, sebuah rambu dilarang parkir dengan huruf P dicoret. Rambu tersebut dilengkapi dengan tulisan di bawahnya berbunyi: KECUALI MENAIKAN/MENURUNKAN PENUMPANG.

Apa yang salah dari kata di atas? Kata dasar ‘naik’ pada kata menaikan itu seharusnya diberi akhiran kan, bukan an, jadi yang benar penulisannya adalah menaikkan yang kalau dipisahkan berdasarkan suku katanya menjadi me-na-ik-kan. Berbeda dengan kenaikan, kata ini memang berakhiran an yang kalau dipisahkan menjadi ke-na-ik-an.

Rambu di Bandara Soekarno-Hatta

Rambu di Bandara Soekarno-Hatta

Masih di tempat menunggu bus bandara, mata tertarik pada sebuah bilbor raksasa dengan modelnya Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Negara kita dan Ibu Fadilah Supari, Menteri Kesehatan kita. Bilbor itu isinya mengajak masyarakat berperilaku hidup sehat. Di baris paling bawah tertulis: Makan-makanan Bergizi.

Apa yang salah? Kalimat itu tentu maksudnya ‘Makanlah makanan yang bergizi’. Agar lebih singkat dapat saja ditulis ‘Makan Makanan Bergizi’. Jadi, seharusnya tidak digunakan tanda hubung (-).  Penggunaan kata ulang dan akhiran an biasanya diartikan sebagai menyerupai atau bermacam-macam, misalnya orang-orangan sawah artinya menyerupai orang, buah-buahan artinya bermacam-macam buah. Penulisan makan-makanan tidak dapat diartikan menyerupai makan atau bermacam-macam makan.

Makan-makanan(?) Bergizi - bilbor di Bandara Soekarno-Hatta

Makan-makanan(?) Bergizi - bilbor di Bandara Soekarno-Hatta

Pembuatan rambu atau bilbor sudah lazim dilakukan oleh ahli membuat papan reklame yang tersebar di penjuru kota. Mereka umumnya anggota masyarakat biasa yang bukan ahli bahasa atau memperhatikan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tertulisnya ejaan yang salah pada rambu dengan demikian menjadi tanggung jawab si pemesan yang logikanya mempunyai pengetahuan bahasa yang lebih baik dari si pembuat papan reklame.

Mari kita upayakan terus penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya pun mengakui belum dapat menggunakannya dengan sempurna, namun terus belajar dan berusaha. Setiap kali ada yang meragukan, saya sempatkan untuk melihat ke buku atau internet yang ditulis oleh para pakar bahasa.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: , , | 1 Comment »

Mobil “di jual”, harap “di isi”

Posted by wprawoto77 on March 26, 2009

Salah kaprah penggunaan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan rupanya terus berlanjut hingga hari ini. Padahal sudah 37 tahun sejak EYD – Ejaan Yang Disempurnakan diresmikan penggunaannya tanggal 16 Agustus 1972. Tulisan seperti judul di atas sangat sering kita jumpai di sekitar kita. Tahukah anda bahwa ejaan tersebut salah? Menyalahi EYD?

Jangankan oleh masyarakat awam dan kelas bawah, di lokasi yang mentereng pun penulisan seperti itu masih kerap terlihat. Di salah satu tempat pendidikan, di SMAN terkenal di Jakarta Selatan saja di pintunya masih dapat kita baca “Pintu di tutup pkl. 07.00″. Bisa dibayangkan bagaimana keluaran sekolah tersebut nantinya. Lalu di Gerbang Tol Padalarang Barat kalau kita dari arah Jakarta, tertera tulisan sangat besar dengan huruf kapital “Tidak tukar tiket DI DENDA di gerbang exit”.

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Padahal kalau mau sedikit belajar, sangat mudah membedakan mana di yang harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya dan mana di yang harus diserangkaikan. Di sekolahku di Medan, EYD mulai diajarkan tahun 1973, saat aku duduk di Kelas 3 SMP. Begitu mulai diberlakukan, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Namun untuk lebih memahami secara sistematis, April 1984 aku beli buku Pak Yus Badudu terbitan 1983 (cetakan kedua September 1983) berjudul “Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar”. Mari kita baca di bagian ‘Bagaimana membedakan di Kata Depan dengan di Awalan’.

Awalan di- hanya terdapat pada kata kerja, baik kata kerja itu berakhiran -kan atau -i maupun tanpa akhiran-akhiran itu.

Contoh:
dipukul, dipukulkan, dipukuli
dilempar, dilemparkan, dilempari

Kata kerja yang berawalan di- itu ialah semua kata yang menjadi jawab pertanyaan diapakan dia atau diapakan benda itu. Ini adalah salah satu cara mengenal kata dengan awalan di-. Cara yang kedua ialah kata-kata kerja berawalan di- mempunyai bentuk lawan awalan me-
dipukul lawannya      memukul
dipukulkan lawannya      memukulkan
dipukuli lawannya      memukuli

Jadi, kalau kita ragu apakah di pada kata itu dirangkaikan, kita cobalah membentuk lawan kata itu dengan cara di atas. Apabila ada lawan bentuknya dengan awalan me-, pastilah di pada kata itu adalah awalan dan oleh karenanya haruslah dirangkaikan.

Kata depan di memang harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya karena di jenis ini mempunyai kedudukan sebagai kata. Fungsinya menyatakan ‘tempat’. Cara mengenalnya mudah sekali. Semua kata yang menjadi jawab pertanyaan di mana pastilah kata yang mengandung kata depan di, karena itu jawaban itu harus dituliskan dengan dua patah kata yang terpisah.

Contoh:
Di mana dia?    Jawab:   Di kantor.
Di mana rumahnya?    Jawab:   Di Jakarta.   Di sana.
Di mana kaubeli daging itu?   Jawab:   Di pasar.    Di situ.

Jadi, kata seperti di mana, di sana, di sini, di situ, di atas, di bawah, di tengah, di samping, di depan, di belakang pun harus dituliskan terpisah sebagai dua patah kata seperti di sekolah, di dinding, di laut.

Cara kedua untuk mengenal bahwa di itu kata depan ialah bahwa kata depan di itu mempunyai pasangan yaitu kata depan dari dan ke.
Contoh:
di sana              ke sana              dari sana
di mana            ke mana            dari mana
di pasar            ke pasar            dari pasar

Namun, ada beberapa bentuk kecuali. Pertama, kata kepada dan daripada selalu harus dituliskan serangkai sebagai sepatah kata saja. Kedua, kata kemari juga dituliskan serangkai sebagai sepatah kata karena tidak ada pasangannya di mari dan dari mari. Ketiga, kata ke luar sebagai lawan kata ke dalam harus dibedakan dari kata keluar lawan kata masuk. Bentuk yang kedua ini kata kerja.
Contoh:
Azis keluar dari pintu belakang.
Dari tadi dia memandang ke luar.

Begitu ajaran Pak Yus Badudu. Mudah ‘kan? Aku yakin setelah membaca ini kita semua bisa menuliskan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan dengan benar.

Posted in Kristalisasi Permenungan | Tagged: | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.